LiteraSIP

15 September 2024

Puisi-Puisi Hidayatul Ulum

Oleh Hidayatul Ulum*

 

 

Riwayat Pertemuan

Melongok riwayat ke dalam sumur ingatanku,
aku hanya menemukanmu pada jam-jam siang tak lengang,
seolah-olah dalam buku takdir yang bahkan tak dapat kupegang,
rentang waktu hanya antara sebelas hingga satu siang,
ringkas-singkat pertemuan.

Bukankah tengah hari bagi kita terlalu kerap?
Maka saat terbit matahari kusematkan harap,
karena aku ingin kau ada di dalam riwayat,
pagiku.

Apakah kau percaya adanya kebetulan itu?
Ketika aku mesti menghadapi uji kompetensi,
ketika telah kupertimbangkan berbagai opsi,
dan jauh-jauh hari mengingini riwayat itu terisi,
kau tengah melintas di jalur rezeki.

Maka pada Empat yang kupilih dan kau hadiri,
di dalam riwayat telah tertulis:
rentang jam yang berbeda,
tempat yang lain.
Betapa atas izin Tuhan segalanya mungkin!

Terima kasih telah menemaniku,
menyaksikan sendiri maksudku.
Siapa sangka kau yang kusapa dalam buku harian pada hari pertama belajar sebagai pengajar,
sembilan bulan kemudian menyaksikanku mengajar?
Bahkan semesta pun ikut andil.
Menggeser tubuhku, terantuk, nyaris mengenaimu.
Melongok riwayat, baru sekarang pikirku: Dasar lantai yang usil!

Kota K, September 2024

 

Puisimu di Sela Karang Gigiku

Tidak semua
Tengah malam sama
Kemarin aku membuatkanmu puisi
Hilang kantuk, merangkai diksi
Tetapi kini lidahku sibuk meraba karang gigi
Yang mulai bertumpuk lagi

Sudah ada empat bulan
Sejak malam aku scaling
Sembilan hari sebelum kita bertemu
Di suatu taman pada akhir pekan

Aku ingat pertanyaanku
Tentang asam pada gigi
Dan basa pada pasta
Yang tak boleh langsung bertemu tepat seusai makan
Kepada dokter yang bersabar menunggu, selesainya jam kerja

Dokter itu mengingatkanku padamu
Tentu boleh kau tak percaya
Tapi jika kau datang sendiri ke klinik yang punya sandal kelinci dan hiu
Kau akan tahu
Kenapa aku berkata begitu

Tunggu, tunggu
Bukankah ternyata
Tengah malam kemarin dan hari ini sama?
Aku berpuisi
Hilang kantuk, merangkai diksi
Tetapi lidahku juga sibuk meraba karang gigi
Yang mulai bertumpuk lagi

Kota K, September 2024

 

Hari Wisuda

Kau adalah cahaya
Yang kutuju menjelang pertengahan Mei tahun ini
Pada suatu Minggu siang
Dalam kerumunan orang-orang

Di luar Graha Cakrawala aku menunggumu
Dengan lengan memeluk buket bunga
Yang hingga sekarang tak pernah kau terima
Sebab aku terlalu malu memberikannya, padamu

Ketika kau menyusuri tangga
Jauh dari pelupuk mata
Tuhan tahu
Kau cahayaku yang hitam putih
Cahaya yang entah bagaimana
Sejak lama kujadikan kekasih

Kota K, September 2024

 

Sabtu Kesekian Kalinya

Kau di awal mula
Dengan setelan hitam, bernaung bougenville
Bersamaku, rencana
Merah menyala-nyala

Dalam gegas
Arah kita adu sepintas
Detik-detik yang sama, lekas memandang hal lain
Entah kau apa; dalam gugup retinaku menyambar kucing

Kau ada di sana, tempat jumpa pertama
Rinduku berlabuh dan kita akan bertemu
Betapa lama tak bertatap muka
Sejak lebih dari setahun yang lalu!

Aku tiba dan kau tanda tanya
Kau nyata
Cermin singkat dan waktu separuh
Sepadan perjalanan yang rela kutempuh

Trotoar masih sama
Trotoar kita
Beberapa menit membeku
Abadi di tanganmu

Dan tak seperti terakhir kali
Saat tetiba kau pergi menjauh
Akhir temu itu, angguk kepala
Kepadaku, pamit yang teduh

Kota K, September 2024

 

===

Hidayatul Ulum* merupakan alumni Universitas Negeri Malang dengan Jurusan Sastra Indonesia. Perempuan yang akrab disapa Hida ini dapat dihubungi melalui akun instagram @hida_adenanthera.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *