13 Oktober 2024
Puisi-Puisi Andi Wirambara
Oleh Andi Wirambara*

Petak Umpet yang Panjang
setelah hitungan kesepuluh, aku berbalik
dan membuka mata yang sedari tadi tertutup
lalu menyesali, mengapa kita harus
memulai permainan ini?
1.
di taman ini, kuperiksa setiap kaleng-kaleng minuman
yang berserakan, yang telah kosong seperti tatapan
seorang tanpa rangkulan harapan-harapan di pundak
hingga datang angin paling hening,
aku hanya menemukan hangat dengus napasmu
yang telah dipecah-pecah oleh bunyi serangga
2.
aku keluar dari taman, dan memeriksa
setiap persimpangan jalan
mengetuk-ngetuk tiang listrik
memeriksa selebaran di tembok jalan
melempari anjing dengan batu
menggoyang-goyangkan pohon
menengok saku baju yang berisi
keping-keping sidik jarimu
3.
di danau, seorang pendayung perahu
melukis jala di telapak tangannya
“musim-musim begini, kebahagiaan
sering terlihat berenang di danau ini.”
aku duduk di pinggirnya, termenung
berbulan-bulan. barangkali kau akan
menyembul berkecipak dari dasar
4.
tibalah aku di sebuah pekuburan dengan kamboja
tumbuh di sudut-sudut pekarangannya
wanita bertopi lebar duduk menangis di depan nisan
bertuliskan namanya sendiri
kueja nama pada nisan-nisan lain
apa kau tengah sembunyi di antara liang-liang
yang ditimbun tangisan ini?
5.
kuputuskan berbalik dan berjalan
mundur bertahun-tahun ke belakang
akhirnya kutemui kau di sana, di sebuah taman
kau yang mulai berjingkit pergi
sementara seseorang lain tengah menutup mata
berhitung satu, sampai dengan sepuluh.
Memandangi Kosmis
jari yang kau letak di bibirmu itu
sore tadi datang padaku
membawa bakso, sambalnya terpisah
dan pada kesaksian mangkuk ayam jago
kami melontar candaan ke langit
namun hanya kau yang tertawa
dan jarimu tadi menuntun
senyummu berjinjit di garis-garis
rasi bintang yang merupa kurva
naik-turunnya kerinduan
di kosmis yang kupandangi
kemudian kau cerabut
dari lengang dadaku
pada pantulan kuah bakso
bulat pipimu menjadi kelopak bunga
yang gugur dan berbaring tenang
sebagai kosmis
tempat jagad baru
dari rinduku untuk terlahir, berkecipak,
dan berlari-larian tanpa mengenal
telah berapa hujan tuntas di sana.
Pasuruan, 2024
Jala
Kau menyebutnya perjalanan, aku memanggilnya sebagai pelajaran untuk menjalakan kepergian. Menjalakan ikan-ikan yang memeluk batang padi yang merunduk, merenungi tempat tumbuh yang kian dihuni oleh semen dan bebatuan.
Aku tak mendengar padi itu menangis, namun aku melihat air matanya di sungai yang mengalir dan mengairi batang-batang tebu. Air mata selalu asin, katamu. Kemudian aku menebak-nebak apakah rasa air mata sama jika tebu-tebu itu ikut menangis bersama padi?
Kau tak tertarik pada cerita padi dan tebu itu. Kau tak tertarik pada jala yang kusebut. Apa yang berlalu tetap kausebut perjalanan, yang melintas cepat seperti bayang-bayang daun di jendela kereta.
Aku tetap memaknainya sebagai jala yang siap menangkap kepergian apapun; sekalipun itu bayangan daun, kerikil yang terpental, raung klakson kereta, hingga suara dengkur dan kentut bayi di dalam gerbong.
Bahkan rindu.
Kemudian kulihat kau di dalam jala. Berontak dan berkecipak seperti ikan-ikan yang tak lagi memeluk batang-batang padi.
Perihal Kuku
Coba kau kait panjang rambutmu dengan tajam rindu yang kelak disulam menjadi seutuh-utuh gaun pengantin. Ada remah kuku yang pernah hancur saat kupakai jariku untuk membuang genang air mata di matamu.
Remah, dan repih.
Padahal kuku itu padang yang kusiapkan untukmu. Ada istana, kastil, hingga gubuk-gubuk bulu mata terbangun tinggi untuk kau coba satu-satu. Untuk kau tinggali beberapa musim sekali. Barangkali kau ingin menghuni ruang lain selain di dada, otak, ataupun mataku. Sebab itu, kusodorkan kuku untukmu.
Kuku ini tak serapuh daun dari reinkarnasi tawamu yang pernah mati. Yang pecah sebelum mengecup tanah. Kuku ini pun tak sepenakut jarak yang tiada berani memotong-motong dirinya sendiri. Yang tak berani menyiapkan pertemuan yang rapi. Namun kuku ini tak pandai menyembunyikan rahasia. Maka, maukah kau maafkan segala jujur yang tak sengaja menggores empuk pipimu?
Seperti halnya kuku, rindu tak pernah sakit jika patah. Namun kau tahu, rindu dan hati adalah pengantin yang saling setia. Pun kau tahu aku tak mau memanjangkan kuku. Aku takut ia akan mengganti detak lengan yang biasa memelukmu ini. Melingkari sisi-sisi pundakmu yang telah banyak menghapal asin airmata.
Akhirnya, kau adalah jari yang rutin memanjangkan rindu di ujung kuku. Dan memangkasnya jika tumbuh rindu
yang bukan aku.
===
*Andi Wirambara, lahir 24 September di Ambon. Praktisi hukum yang menyenangi sastra. Karya-karyanya telah dimuat di sejumlah media nasional dan lokal baik cetak maupun daring. Karyanya juga terhimpun pada sejumlah buku antologi bersama. Buku tunggalnya yang telah terbit: kumpulan puisi Harmonika Lelaki Sepi (2010), kumpulan cerpen Sekeping Tanda (2011), kumpulan puisi Lengkung (2012), dan kumpulan cerpen Tentang Pertemuan (2014). Berdomisili di Malang.