3 November 2024
BECAK DAN TERMINAL
*Oleh SUNU PENGESTI*

Bagi orang luar yang datang ke kota kecil kami di ujung utara Pulau Jawa, dan kebetulan turun di terminal (meski hal ini jarang sekali, karena letak terminal itu terlalu di ujung dan jauh dari tempat-tempat penting, sehingga orang akan lebih memilih turun di tempat yang lebih dekat ke pusat kota atau ke pantai; kota kami terkenal dengan pantai-pantainya), mereka akan bertemu atau melihat atau malah disambut langsung oleh Karmin, seorang tukang becak yang hampir seluruh waktunya dihabiskan di terminal.
Karmin dan kehidupannya di terminal barangkali tidak berarti apa-apa, apalagi jika kau datang dari luar kota dan hanya berniat untuk berlibur. Tapi, jika kau sedang punya banyak waktu atau sedang ingin iseng, naiklah becak Karmin. Dengan senang hati ia akan membawamu pada tamasya becak yang mengasyikan, dan tanpa diminta ia akan memberimu bonus kisah hidupnya yang tragis plus kisah cintanya yang pilu yang membuatnya bertahan di terminal. Namun, karena kemungkinan bagimu untuk datang ke kota kecil kami sangat kecil, izinkanlah aku menceritakan kisahnya untukmu.
Ia menjadi tukang becak karena ayahnya seorang tukang becak. Namun, ayahnya bukanlah ayah kandungnya. Dan, ia tidak harus menjadi tukang becak, jika ia mau. Ia bisa melakukan pekerjaan lain. Bahkan ayahnya pernah melarangnya untuk menjadi tukang becak, dan satu hari menitipkannya ke seorang tukang sol sepatu agar ia menjadi tukang sol sepatu. Tapi begitu ayahnya meninggal, becak itu diwariskan kepadanya. Ia tidak ingin menjual becak itu, meski ia bisa melakukannya. Maka, sejak kepergian ayahnya ia mulai menjalani hari-harinya menjadi tukang becak.
Di masa itulah ia bertemu dengan Yasmin, perempuan muda anak seorang nelayan yang cantiknya bikin para jejaka tergila-gila, tak terkecuali dirinya. Yasmin tahu, banyak lelaki yang ingin berkencan dengannya. Dan karena ia merasa diperebutkan, ia jadi jual mahal. Tiap kali ada seorang lelaki yang mendekatinya, ia akan segera melihat latar belakang lelaki tersebut.
Satu hari seorang lelaki mendekatinya, anak bos mebel, dan ia menerima ajakan lelaki itu untuk menonton bioskop. Seperti sudah takdirnya, mereka berangkat ke bioskop diantar oleh Karmin dengan becaknya. Ketika sudah sampai di bioskop, lelaki itu bahkan berpesan pada Karmin agar nanti mengantarnya juga selepas mereka selesai menonton.
Entah apa yang terjadi, malam itu Yasmin ditinggalkan oleh si lelaki dalam keadaan menangis, dan karena Karmin telah dibayar untuk mengantarnya pulang, ia menghampiri Yasmin dan menungguinya berhenti menangis. Malam itu ia menjadi lelaki paling beruntung karena bisa berduaan dengan Yasmin di atas becaknya. Dan untuk itu ia harus menunjukkan dirinya sebagai lelaki yang bisa diandalkan.
“Kamu beruntung tidak melanjutkan hubungan dengan lelaki itu. Sebab tahun depan usaha ayahnya akan bangkrut,” katanya meyakinkan, meski ia sebenarnya ngawur saja.
Anehnya itu membuat Yasmin sedikit terhibur.
“Aku akan sangat bahagia jika bisnis ayahnya bangkrut esok hari,” balas Yasmin dengan jejak air matanya di wajahnya.
“Itu bisa terjadi! Kalau seorang sengaja membakar mebel itu,” kata Karmin lagi, asal nyeplos.
“Kita bakar saja mebelnya malam ini?”
“Aku tidak keberatan mengantarmu ke sana dengan becakku, tidak usah bayar. Tapi aku tidak ikut-ikutan.”
Yasmin tersenyum. Dan sejak malam itu, tiap kali ada lelaki yang mendekatinya, ia akan meminta Karmin mengantar kencan mereka. Itu membuat Karmin senang sekaligus bersyukur. Ia bisa mendapat uang darinya sekaligus dapat bertemu Yasmin, walau sebagai tukang becak yang mengantarnya pergi dengan lelaki lain. Tak apa, pikirnya. Sebab, jika Yasmin bertemu lelaki brengsek yang membuatnya menangis, ia akan memanfaatkan hal itu dengan mengajak Yasmin berkeliling sebelum mengantarnya ke rumah. Kebiasaan itu membuatnya terjerumus pada perasaan cinta yang bodoh, melupakan kenyataan bahwa ia tukang becak yang tidak jelas latar belakang keluarganya.
Perasaannya kian tidak terbendung ketika di satu malam Yasmin mengajaknya berkeliling kota tanpa seorang lelaki di sampingnya, hanya ia di kursi penumpang. Membuat Karmin bertanya-tanya, apakah ini sinyal kalau Yasmin juga punya perasaan kepadanya. Ia mendadak berdebar. Lalu, tiba-tiba Yasmin memintanya berhenti mengayuh, dan mengajaknya duduk di bangku penumpang.
“Min, aku akan pergi dari kota ini,” ucap Yasmin tanpa menoleh, hanya memandang bulan di langit.
Karmin tidak menjawab, menatap lurus perempuan di sampingnya. Tidak pernah terpikirkan olehnya ia akan duduk di kursi penumpang bersama Yasmin. Tapi kenapa gadis itu justru mengatakan akan pergi dari kota ini.
“Ibuku sudah tidak kuat menghadapi bapak, Min. Aku akan ikut dengannya kembali ke kota kami.”
Karmin masih diam. Ia memandang rambut bagian samping Yasmin yang berkibar diterpa angin sepoi malam.
Yasmin menoleh ke arah Karmin. Mata mereka saling menatap satu sama lain, dan entah karena suasana malam atau entah karena apa, tanpa berkata-kata, perlahan mereka saling mendekat sebelum akhirnya berciuman, di atas becak disaksikan bulan yang tampak separuh.
Esoknya Karmin mengantar anak dan ibu itu ke terminal. Sejak semalam pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang apa arti ciuman mereka. Jika Yasmin mencintai dirinyanya sebagaimana ia selama ini juga mencintainya, mereka tetap tak bisa bersama. Lalu, jika itu bukan ciuman tanpa perasaan, lantas apa artinya.
Mereka sampai di terminal. Ibu Yasmin berterima kasih, lalu masuk ke dalam bus. Yasmin berdiri di hadapannya.
“Min, makasih ya,” ucap Yasmin, seperti melupakan ciuman mereka semalam.
Karmin hanya diam. Ia tahu ciuman mereka tidak berarti apa-apa.
“Entah kapan, aku pasti akan kembali ke kota ini. Masih mau kau menemaniku berkeliling naik becakmu, Min?”
Karmin mengangguk. Ia mendadak teringat masa ia dan ibunya sering naik becak ayahnya. Lalu, satu hari ibunya pergi ke antah, dan tidak pernah kembali. Ia dititipkan pada ayahnya. Ayahnya tidak tahu ke mana ibunya pergi. Sejak hari itu tinggal ia dan ayahnya yang berkeliling naik becak. Lalu, ayahnya meninggal, dan ia bertemu dengan Yasmin, ia mengajaknya berkeliling. Namun, perempuan itu pun kini akan pergi. Orang-orang datang dan pergi di becak ini, batin Karmin. Mendadak matanya berat oleh air mata.
Yasmin segera memeluk Karmin, berusaha membuatnya merasa lebih tenang.
“Aku pasti kembali ke kota ini, Min. Kau selalu bisa menungguku di sini,” ucap Yasmin.
Sejak hari itulah Karmin selalu berada di terminal, demi menyambut Yasmin jika mendadak datang ke kota kecil kami. Namun, Yasmin tidak pernah terlihat di terminal itu hingga Karmin menua dan beruban. Membuatnya serupa terminal itu yang catnya telah kusam dan mengelupas, lelah menunggu orang luar mampir ke kota kecil kami. Meski begitu, Karmin tetap di terminal itu, menunggu Yasmin.
===
*SUNU PENGESTI. Bergiat di Akademi Menulis Jepara (AMJ).