10 November 2024
Chairil Berjalan Lurus ke Depan, Mirat Berjalan Serong ke Kanan
Oleh Ilham Wahyudi*

Pada hari pemakaman Chairil, aku datang ke kuburannya. Aku melihat beberapa seniman dalam bidang sastra, teater, musik, tari, bahkan beberapa orang politik kenalan Chairil, turut serta mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir. Wajah mereka semua tampak sendu pilu; serupa wajah seekor kucing lapar di bawah meja yang menunggu limpahan sisa makanan.
Hari itu perkuburan Karet Bivak tampak bagai lautan manusia. Mungkin karena terlampau ramai yang hadir, beberapa orang dari pelayat meninggalkan makam Chairil sebelum acara penguburan selesai. Saat mereka melintasiku, kudengar mereka berbisik-bisik membicarakan Chairil: tak menyangka mereka kalau orang muda serupa Chairil meninggalkan kesan yang begitu mendalam di hati.
Dari balik pohon Cempaka kusaksikan pemakaman Chairil. Tak berani aku terlampau dekat. Meskipun saat Chairil akan dimasukkan ke liang lahat, sempat terbesit niat ingin lebih mendekat atau mungkin bila diizinkan ikut serta pula menampung tubuh Chairil sampai ke liang lahat. Namun kakiku terasa berat mendekat. Kuputuskan tetap bertahan di balik pohon menyaksikan penyair degil itu menyatu kembali ke tanah.
Ketika semua rangkaian acara pemakaman selesai dan semua orang telah pulang, aku yang masih berdiri di balik pohon Cempaka terang melihat seorang wanita muda mendekati kuburan Chairil. Setelah menyirami kuburan Chairil dengan air dan menaburi bunga, wanita itu bersimpuh di samping nisan Chairil seraya menangis.
Itu pasti Sri Ayati! Aku tidak mungkin keliru. Aku ingat betul wajah cantik itu. Sebenarnya aku juga melihatnya pada suatu malam ketika Chairil datang ke rumahnya. Kala itu Chairil duduk di lantai dan Ayati duduk di kursi rotan. Peristiwa itu persis di halaman rumah Ayati.
Aku juga tahu Chairil saat itu berpura-pura mengarang cerita bahwa dia baru saja pulang dari rumah seorang wanita yang diakui sebagai temannya. Sambil bercerita Chairil pegang daster Ayati, lalu berkata kalau teman wanitanya itu bernama Sri dan entah mengapa persis pula memakai baju daster seperti yang sedang Ayati pakai malam itu. Ayati mungkin sedang menebak-nebak niat hati Chairil datang, sehingga ia tampak begitu polos menyimak cerita Chairil. Sungguh Ayati tidak tahu Chairil sedang menceritakan peristiwa yang berlangsung saat itu dengan sebuah cerita yang dikarang-karang.
Pula, cara apalagi yang paling ampuh mengusir kegugupan ketika bertemu orang yang dicinta, selain berpura-pura; mungkin semacam usaha mencari perhatian. Syukur Ayati paham, bila tidak, pun tak soal jua. Yang penting hajat hati ingin bertemu orang yang dicinta makbul terwujud. Begitulah Chairil mengekspresikan perasaannya kepada orang yang dia cinta. Dan kalau aku teringat peristiwa itu, geli rasanya sekujur tubuhku.
Aku kembali memperhatikan makam Chairil. Ayati masih betah di sana. Cukup lama Ayati menangis di sebelah kubur Chairil. Ia kelihatan begitu terpukul; remuk redam. Ia remas tanah kubur Chairil. Sesekali ia juga tampak meraung membaringkan kepalanya di atas tanah pemakaman. Entah apa yang Ayati sesalkan, sampai sebegitu pedih dan sedih ia kulihat. Duh, betapa iba hati melihatnya begitu.
Aku masih bertahan di balik pohon Cempaka menyaksikan sendiri duka lara melilit menghimpit tubuh Ayati yang tampak ringkih tak bertenaga. Hampir dua jam Ayati duduk sambil menangis. Ketika masuk waktu Magrib. Perlahan Ayati bangkit, kemudian ulang berulang menciumi nisan Chairil. Puas sudah menangis di kubur Chairil, Ayati pun beranjak meninggalkan makam Chairil. Akan tetapi saat berjalan meninggalkan makam Chairil, sesekali Ayati masih menoleh ke arah kubur Chairil. Ah, masih belum habiskah sedihmu Ayati? Oh, Ayati, sudahlah sedihmu itu. Pulanglah! Keluargamu pastilah cemas menunggu di rumah.
Persis ketika Ayati pergi dari kubur Chairil, aku pun memberanikan diri mendekati makam Chairil. Tepat di posisi Ayati duduk menangis tadi, kulihat secarik kertas. Aku ambil kertas itu. Ternyata kertas itu berisi sebuah puisi. Meski hari sudah sempurna gelap, terang kulihat nama Chairil dalam puisi itu. Aku yakin, puisi itu Chairil sengaja ditulis untuk Ayati pujaan hatinya.
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.1
***
”Chairil, bangun, bangun! Filmnya sudah habis. Kau tertidur, ya?”
”Maafkan aku, Mirat. Separuh film aku tak kuat. Kemarin malam aku begadang macam orang sekarat.”
”Jangan terlampau kuat menulis sajak! Pikirkan juga tubuhmu yang kian kurus tertampak!”
”Ah, sudahlah, Mirat! Dengan aku tertidur tadi, itu telah menunjukkan aku bukan tak memikirkan tubuhku. Selain film itu membosankan, aku pun tadi telah memberikan kesempatan tubuhku untuk beristirahat. Setidaknya istirahat melihat film yang membosankan.”
Wanita itu menggelengkan kepalanya. Sungguh keras hati lelaki yang dia cintai itu. Sambil bergandengan tangan, mereka keluar dari gedung bioskop. Hujan turun lebat. Angin membelai-belai tubuh sepasang kekasih itu. Mereka pun berteduh di depan sebuah warung nasi goreng. Cacing dalam perut Chairil menggeliat mencium aroma nasi goreng. Sebenarnya bukan tak ada niat Chairil mengajak Mirat untuk makan nasi goreng. Tapi betapa kosong saku celananya. Tiket menonton tadi saja, Mirat yang traktir.
Tak mungkin berdiam-diam terus di depan warung nasi goreng, sedangkan udara sudah pula terasa semakin dingin menusuk tulang, Chairil mencoba membuka pintu obrolan. Pikir Chairil, paling tidak dengan mengobrol bersama Mirat, rasa lapar dan dingin malam mampu mereka hambus.
”Kau tahu, Mirat? Saat tertidur tadi, aku melihat kau menangis di samping kuburanku,” kata Chairil sambil melepas pandang ke arah hujan.
Mirat tersenyum, seolah tahu kekasihnya itu sedang menjulurkan tali goda canda kepadanya. Namun, betapa cinta Mirat kepada Chairil telah pula membuka semua tabir yang ada pada diri Chairil. Sehingga apapun yang disembunyikan Chairil dari Mirat, terang percuma di mata Mirat. Maka Mirat pun menyambut tali goda canda Chairil dengan sebuah sindirin halus.
”Yakin itu aku? Jangan-jangan itu Ayati!” Jawab Mirat seraya menampilkan senyum tipis.
Chairil kaget. Seketika kulit mukanya macam terkelupas mendengar sangka Mirat. Wajahnya pun memerah; mungkin telah pula membiru menanggung derita malu. Betapa kini dia tak tahu; ke mana wajah hendak dituju.
Melihat air muka Chairil berubah, timbul penyesalan Mirat. Sungguh tak macam itu niat hatinya. Ia sebenar hanya ingin berseloroh, sambil mungkin ingin pula menguji keseriusan cinta Chairil. Tapi Chairil sudah terlanjur dikuliti. Hilang seleranya mengobrol. Dan sejak malam itu, entah atas dorongan siapa, mereka pun memutuskan pilihan: Chairil berjalan lurus ke depan, Mirat berjalan serong ke kanan.
Hujan reda. Tapi dingin malam semakin serius menusuk tulang. Dalam perjalanan pulang, Chairil menulis puisi.
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan deras,
menuntut tinggi tidak setapak berjarak
dengan mati.2
Akasia, 2024
1 Puisi karya Chairil Anwar “Senja di Pelabuhan Kecil”
2 Puisi karya Chairil Anwar “Mirat Muda, Chairil Muda”
===
*ILHAM WAHYUDI. Lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia salah seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Selain menjadi seorang Fundraiser di Adhigana Fundraising, ia juga dikenal sebagai tukang mabuk. Beberapa cerpennya ada yang dimuat dan banyak yang ditolak redaksi. Buku kumpulan cerpennya “Kalimance Ingin Jadi Penyair” tidak akan diterbitkan.