17 November 2024
Obrolan di Balik Meja
Oleh Yuditeha*

Jam dua siang, setelah mengantar istriku ke stasiun, aku menuju sekolah untuk bertemu dengan gurunya Geri, anak kami. Sekolah sudah sepi, dan aku menyusuri lorong-lorongnya yang dipenuhi karya-karya seni siswa yang dipajang di dinding. Pikiranku sibuk memikirkan apa yang akan dibicarakan oleh gurunya nanti. Kabarnya perihal nilai mencongak Geri. Ah, mencongak. Matematika sepertinya memang bukan bidangnya.
Ketika aku sampai di ruang guru, Bu Dian, guru Geri, sudah menungguku. Wanita itu terlihat lelah, tetapi masih berusaha tersenyum. Ia menyilakanku duduk dan memulai percakapan dengan nada yang terkesan formal namun khawatir.
“Pak, Geri memang anak baik, sopan. Tapi nilai mencongaknya semakin menurun. Kalau dibiarkan, saya khawatir dia akan kesulitan mengikuti pelajaran matematika ke depannya.”
Aku mendengarkan sambil sesekali mengangguk.
Bu Dian melanjutkan panjang lebar, berbicara tentang pentingnya memahami konsep-konsep dasar matematika sejak dini, dan bagaimana kesulitan itu bisa menumpuk jika tidak segera ditangani. Semakin lama, aku semakin yakin bahwa ini bukan hanya soal kemampuan Geri dalam matematika, tetapi juga soal bagaimana ia merespons tekanan yang ada.
“Ada pelajaran lain yang nilainya baik, Bu?” tanyaku, mencoba mengalihkan perhatian dari masalah matematika yang terus dibahas.
Bu Dian menghela napas sejenak, lalu menjawab, “Hmm, seni dan olahraga. Kedua bidang itu Geri cukup unggul. Selebihnya, biasa saja.”
Aku tersenyum, mencoba merendah. “Terima kasih sudah bersabar membimbing anak saya, Bu. Saya sangat menghargai untuk itu. Tapi soal ngeleskan Geri, saya justru berpikir memberinya les di bidang seni dan olahraga. Saya merasa itu bisa membantu dia berkembang lebih jauh. Untuk matematika dan pelajaran lainnya, saya akan bantu dia belajar di rumah. Saya yakin, dengan dukungan yang tepat, dia bisa pelan-pelan memperbaiki nilainya.”
Bu Dian tampak tertegun sejenak. Entah kenapa, ada kerutan halus di wajahnya yang menunjukkan rasa pusing. Mungkin dia merasa percuma berbicara panjang lebar jika aku tidak langsung setuju memberikan les matematika untuk Geri.
Setelah jeda yang agak canggung, dia berkata, “Baiklah, Pak. Terima kasih sudah datang. Semoga Geri bisa terus berkembang.”
Aku tahu pertemuan ini tidak berakhir dengan sepenuhnya memuaskan Bu Dian, tapi aku merasa yakin dengan langkah yang kuambil. Setelah itu, aku menjemput Geri yang sudah menungguku di luar. Kami berjalan berdua menuju sepeda motor, dan aku memutuskan untuk mengajaknya makan di luar. Mungkin dengan begitu, aku bisa lebih banyak bicara dengannya tanpa beban suasana sekolah.
Di sebuah warung sederhana, kami memesan makanan dan mulai berbincang. Aku tak langsung menanyakan soal sekolah. Sebaliknya, aku memulai dengan topik ringan. Tentang game yang ia suka, tentang teman-temannya, dan tentang hal-hal lain yang ia gemari. Lama-lama, obrolan itu mengarah ke pelajaran.
“Geri, belakangan ini kamu merasa kesulitan di sekolah?” tanyaku perlahan, tanpa tekanan.
Geri mengangguk pelan. “Iya, Ayah. Kadang aku nggak bisa fokus. Apalagi kalau soal mencongak. Rasanya susah banget.”
Aku menatapnya dengan tenang. “Kenapa kamu merasa susah?”
Ia menghela napas. “Aku merasa seperti dikejar-kejar hantu. Waktu ada ujian atau mencongak, aku sering panik, dan akhirnya malah nggak bisa mikir.”
Aku menduga hal itu, tetapi mendengarnya langsung dari mulut Geri membuat segalanya lebih jelas. Anak ini bukan bodoh atau malas, dia hanya kesulitan menghadapi tekanan.
Setelah makan selesai, kami berdua berjalan-jalan sebentar di sekitar taman kota. Aku terus mendengarkan ceritanya, mencoba memahami lebih dalam. Geri bukan anak yang suka berbicara banyak, tapi hari itu, dia lebih terbuka. Aku menyadari bahwa menekan Geri dengan lebih banyak les di bidang yang tidak disukainya justru akan membuatnya semakin stres. Aku tidak ingin itu terjadi.
Sepulangnya kami ke rumah, aku terus memikirkan hal ini. Bagaimana cara terbaik mendukung Geri tanpa membuatnya merasa semakin tertekan? Aku mulai merancang jadwal belajar yang lebih santai, dengan lebih banyak waktu untuk seni dan olahraga—bidang yang ia sukai.
Beberapa minggu kemudian, nilai Geri masih belum membaik secara drastis, tetapi aku merasa ia lebih bahagia. Lebih bersemangat pergi ke sekolah, dan itu sudah cukup bagiku. Aku pikir, dengan pendekatan yang lebih santai, perlahan-lahan ia akan menemukan jalannya sendiri.
Satu bulan kemudian, ketika aku sedang menonton televisi di ruang tamu, Geri datang menghampiriku dengan wajah semringah. “Ayah, aku dapat nilai bagus di seni rupa!”
Aku tersenyum lebar, bangga dengan pencapaiannya. “Wah, bagus sekali, Geri! Ayah bangga sama kamu.”
Dia duduk di sampingku, matanya berbinar-binar. “Ayah, tahu nggak? Guru seni bilang aku mungkin bisa ikut lomba gambar minggu depan!”
“Hebat!” Aku mengelus kepalanya. “Kamu pasti bisa, Geri.”
Tapi di balik kegembiraan itu, ada sesuatu yang mengganjal dalam benakku. Ketika Geri pergi ke kamarnya, aku tiba-tiba teringat kembali obrolan panjang dengan Bu Dian. Rasa-rasanya ada yang salah sejak pertemuan itu. Bukankah Geri selalu berbakat di seni dan olahraga? Kenapa aku merasa seperti ada sesuatu yang tak kuketahui?
Keesokan harinya, ketika aku sedang menjemput Geri di sekolah, aku mendapati sesuatu yang aneh. Bu Dian, yang biasanya ramah, menghindariku. Ada kesan seolah dia tidak ingin berbicara denganku. Hal itu semakin menambah kecurigaanku.
Aku akhirnya memutuskan untuk menyelidiki sendiri. Sore itu, saat Geri sedang di rumah, aku diam-diam membuka laptopnya. Ada sesuatu yang membuat jantungku berdegup kencang ketika aku melihat tab browser yang terbuka.
Di sana, ada halaman dengan soal-soal matematika. Ada juga file dengan catatan tentang nilai-nilai Geri.
Tapi yang paling mengejutkan adalah, ada pesan-pesan singkat di antara Geri dan gurunya.
“Ayahku nggak mau aku ikut les matematika, Bu. Dia bilang aku cukup belajar seni dan olahraga aja.”
Pesan berikutnya dari Bu Dian menjawab, “Aku sudah menduga. Tapi jangan khawatir, Geri. Kamu bisa terus latihan sendiri di rumah, dan kalau butuh bantuan, kamu tahu harus ke mana, kan?”
Aku terdiam. Jadi, selama ini Geri sebenarnya berusaha keras memperbaiki nilainya, tapi ia tidak mau memberitahuku. Dan gurunya, meski merasa aku mungkin salah paham, tetap mendukungnya tanpa membuatku merasa buruk.
Aku menyadari, meskipun niatku baik, aku telah menutup kemungkinan bagi Geri untuk berkembang di semua bidang. Dan tanpa kusadari, ia telah menemukan caranya sendiri untuk belajar, bahkan ketika aku berpikir aku tahu yang terbaik.
Ternyata, bukan Geri yang perlu aku dampingi lebih banyak. Akulah yang harus belajar mendengarkan lebih baik.***
===
*Yuditeha. Penulis yang tinggal di Karanganyar. Pendiri Komunitas Kamar Kata.