8 Desember 2024
Puisi-Puisi Ujang Saepudin
Oleh Ujang Saepudin*

Duduk di Kursi Sejarah
Dua tahun sudah duduk di kursi sejarah
Meraba langit cerah yang menebar hujan ke wajah-wajah
Tak ada yang dapat diramalkan, sesuatu yang indah akan tiba-tiba meledak
Sebagian berhenti berdetak. Angin gelap seakan membawaku
ke sebuah pemukiman hitam:
Orang-orang meninggalkan rumah
Jiwa runtuh di antara darah, rintih tangis & teriak
Seorang emak memangku anak
Membikin tenda di balik semak
Perasaan berserak seperti kayu dan tembok
Seperti kekosongan yang takut akan lapar.
Sesudahnya kini semua mekar kembali
Orang-orang masuki rumah mimpi
sambil menerka tanya dalam diri.
Cianjur, 22 November 2024
Memancing di Sungai Besar
Lintung bergetar
Tatkala mata kail mengelabuimu
terpancing juga beberapa dari mereka
batu dan lubang tak dapat membantu
Barangkali bandang adalah takdir
Yang tuhan alirkan dari hulu ke hilir
Supaya mereka mengenal arus keruh,
di meja yang rapuh, harap menjauh
Mereka dihidangkan dan tuan-tuan berbahagia
Tertawa, melepas obsesi untuk mendapat lebih banyak
Cianjur, 24 November 2024
Dalam Lukisan
pintu membiarkan orang-orang masuk
dengan segala bentuk, sebagaimana tercatat dalam sejarah
kini atau nanti, nafsu selalu menjarah seperti penjajah
tak kenal kasih. Hingga dalam lukisan, satu gerakan perawan abadi,
menghapus mata lelaki.
Cianjur, 27 Oktober 2024
Car Free Day di Jalan Abdullah Cianjur
Silakan kau pilih jalan:
Menjadi koi dalam plastik,
Menjadi monyet penghibur yang hidup
Dalam musik milik tuan
Silakan kau pilih jalan
Saling bertukar wadah di Jalan Abdullah
Mengisi hidup satu lain sama: berjalan santai & bahagia.
Keberlangsungan di atas terpal biru mengampar
Seperti makanan yang dijajakan di atas meja lipat
Menunggu tangan pembeli
Menunggu, membikin tubuh dagang berkeringat.
silakan kau pilih jalan:
Menjadi koi, menjadi monyet penghibur
Menjadi tuannya, atau menjadi Jalan Abdullah
Yang dengan terbuka membiarkan siapa saja
Datang ke sana menikmati minggu yang ramai.
Lalu diam-diam membagi rizeki
Pada seorang musafir tak berkaki
Sesudah jam sembilan pagi, terpal dilipat
begitu dengan meja lipat
dan orang-orang terlihat bahagia
jalannya dipenuhi cinta.
Cianjur, 27 Oktober 2024
===
*Ujang Saepudin, lahir di Cianjur, 05 Juni 1996. Beraktivitas sebagai pendidik di salah satu sekolah swasta di Cianjur. Beberapa puisinya pernah dimuat di koran Nasional Pikiran Rakyat, di beberapa buku antologi bersama, dan terakhir puisinya masuk 30 besar Payakumbuh Poetry Festival.