LiteraSIP

15 Desember 2024

BANGUNAN TIDAK BERATAP

Oleh Emur Paembonan S.*

 

 

“Kalau memang bapak penggemar bola voli, berarti bapak tahu negara mana yang meraih medali emas bola voli putri di Olimpiade 2024?”

Wajah sang bupati mendadak berubah; masam meski berusaha tenang dan memaksa untuk tersenyum.

Devita tahu, bahwa lelaki di hadapannya itu tidak menyangka  bahwa dia akan bertanya demikian.

“Saya tidak tahu. Memangnya apa hubungannya? Anda ini mau apa sebenarnya?”

Bapak bupati tidak bisa menahan kejengkelannya. Ia seolah merasa direndahkan dengan pertanyaan Devita, yang bisa saja ia jawab dengan benar, jika ia menyebut ( secara sembarangan ) nama salah satu negara di dunia.

Tapi Devita tetap tenang dan malah kembali bertanya, “Kalau begitu, sebut saja salah satu pemain voli nasional Indonesia saat ini?”

Lagi-lagi pertanyaan itu tak bisa dijawab sang bupati dan membuatnya semakin jengkel pada Devita. Ia membalas dengan mengeraskan suaranya.“Mana saya tahu? Terus, buat apa juga saya tahu?”

“Bapak harus tahu,” Devita langsung menanggapi, “Biar saya tahu. Bapak sebenarnya penggemar olahraga voli atau tidak,” lanjut Devita.

***

Devita tak peduli lagi ketika sang bupati tetap bersikeras akan menganggarkan sebuah gedung olahraga khusus untuk bola voli di kabupaten itu. Sang bupati tidak sepakat jika memakai dana secara sukarela dari siapa saja.

Yang penting—bagi Devita—dia sudah mengingatkan agar lapangan itu sudah jadi setidaknya sebelum bupati habis masa jabatannya. Paling tidak ada peran sang bupati dalam melahirkan atlet voli nasional yang berasal dari daerah itu. Setidaknya, ada lagi atlet dari daerah itu yang pernah mewakili Indonesia di pertandingan internasional. Tentu sang bupati menginginkan dan sepakat akan hal itu, bahkan berjanji bahwa lapangan bola voli itu sudah jadi tidak sampai dua tahun setelah pertemuannya dengan Devita hari itu.

***

Saat itu, Devita sedang berencana membuat buku tentang atlet dan mantan atlet bola voli nasional yang pernah mewakili Indonesia di ajang SEA Games, ASIAN Games, Olimpiade, Kejuaraan Dunia, dan pertandingan antar klub sedunia, dan Devita menjumpai sang bupati setelah tahu bahwa sang bupati adalah anak salah seorang mantan atlet putri voli nasional yang pernah mewakili Indonesia di ajang ASIAN Games.

Sayang, sang bunda telah kembali ke ‘Sang Pencipta’ ketika Devita bersua untuk pertama kalinya dengan sang bupati. Untunglah, masih ada dokumentasi yang tersimpan di rumah sang bupati sebagai kenangan akan sang bunda saat masih aktif sebagai atlet bola voli.

Dan Devita begitu gembira ketika akhirnya dia bisa melihat langsung beberapa foto saat Asian Games 1962 berlangsung di Jakarta. Devita meminta izin pada sang bupati untuk men-scan dan memotret ulang foto-foto itu, terutama foto-foto pertandingan bola voli putri.

***

Setahun berlalu, di suatu sore, saat baru pulang dari kantornya, sang bupati mendapatkan kiriman buku dari Devita. Sebuah buku tentang atlet-atlet bola voli Indonesia yang pernah bertanding melawan negara lain di berbagai ajang.

Sang bupati tersenyum, namun ia masih memikirkan janjinya pada Devita, meski dalam paketnya Devita tak menulis surat sekedar menanyakan kabar pembangunan gedung olahraga bola voli yang pernah mereka bincangkan.

Sampai saat itu, jangankan gedungnya, bahkan tanah untuk persiapan gedung pun belum ada. Ia bersama beberapa anggota dewan pernah mencoba melobi beberapa investor—baik dari dalam maupun luar negeri—tapi tidak ada yang tertarik. Mulai dari alasan kurang pemasukan, bola voli bukan olahraga populer di kabupaten itu, atau masih banyak bidang lain yang lebih menguntungkan. Terlebih para calon investor itu tidak ada yang penggemar bola voli.

Sang bupati mengambil ponselnya dari saku celananya. Namun ia nampak ragu untuk menghubungi Devita. Ia bingung harus menjawab apa jika Devita bertanya soal lapangan voli.

Tujuh menit sang bupati merenung.  Ia memutuskan mengirim pesan WhatsApp kepada Devita; menyampaikan berita bahwa bukunya telah tiba dan mengucapkan terima kasih.

Devita tak langsung membalas. Bahkan setelah matahari kembali terbit keesokan paginya, belum juga dia membalas pesan bapak bupati.

Sebulan berlalu, pesan bapak bupati pun masih juga tak berbalas. Padahal bapak bupati sudah mendapat sponsor untuk pembangunan gedungnya. Terlebih beberapa anggota DPRD kabupaten itu telah sepakat akan menganggarkan sebuah GOR ( Gedung Olah Raga), yang bukan cuma untuk bola voli tapi untuk beberapa cabang olahraga.

Mereka pun akan menamai GOR itu sesuai dengan nama ibu sang bupati, agar generasi penerus akan terus mengenangnya; agar generasi saat itu tahu bahwa di kabupaten itu pernah lahir atlet nasional. Bersama Bapak bupati, mereka bahkan berencana mencetak ulang buku yang ditulis Devita. Bahkan mereka berencana membayar Devita sebagai ghost-writer untuk menulis biografi tentang ibunda sang bupati.

Bapak bupati pun menelpon Devita, meski masuk tapi tidak diterima. Berkali-kali sang bupati menelpon, tapi tak ada respon dari Devita. Bupati pun mengirim pesan dan memberitahu rencananya bersama anggota DPRD kepada Devita.

Bapak bupati akhirnya mendapat balasan Devita seminggu setelahnya. Devita langsung menelpon dan berkata bahwa dia baru saja selesai mengerjakan sebuah proyek tulisan dan selama dia mengerjakannya tidak ingin diganggu dengan yang tidak berhubungan dengan proyek itu.

Devita bilang tidak bisa menjadi penulis bayangan karena dia sedang terikat kontrak dengan sebuah penerbitan saat itu. Namun dia bersedia merekomendasikan nama-nama penulis yang bisa menjadi penggantinya.

Penulis pengganti Devita ternyata tidak sependapat dengan Devita. Ia setuju GOR mesti dianggarkan, bahkan terlibat dalam menetapkan anggaran GOR.

Selama itu Devita tak bisa dihubungi. Dan Devita hanya mengecek sendiri secara daring perkembangan “GOR” itu.

***

Hari itu, ketika Devita sedang terlibat diskusi buku di sebuah gedung kesenian, dia mendapat kabar si Bupati ditangkap KPK ( Komisi Pemberantasan Korupsi ), bersama beberapa orang anggota DPRD kabupaten yang dipimpin sang bupati.

Devita pun langsung menghubungi temannya yang jadi penulis bayangan, tapi dia tak bisa menghubunginya sampai Devita mendapat kabar bahwa si teman juga ditangkap KPK karena kasus korupsi pembangunan sebuah gedung olahraga.

Tahun lepas tahun barulah Devita bisa bertandang lagi ke kabupaten itu. Dia sengaja melintas ke sebuah wilayah, yang rencananya akan dibangun sebuah gedung olahraga.

Ada dua dinding batu merah—sisi selatan dan utara—belum berplester semen dan sudah berjamur. Dua dinding yang mengapit sebuah tanah berumput tak terawat. Lalu ada beberapa lembar papan santapan rayap dan batang besi berkarat yang berserakan. Dan sebagian besi-besi itu menjadi pembatas dan tanda seberapa luas rencana GOR yang akan dibangun.

Kata masyarakat sekitar, mereka sering memakai tempat itu menjemur padi atau gandum.  ***

 

===

*Emur Paembonan S. salah seorang penulis buku: Kumpulan Fiksi Mini Indonesia “SETEGUK ARABIKA” (Interlude, 2024).

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *