LiteraSIP

15 Desember 2024

Puisi-Puisi Didik Wahyudi

Oleh Didik Wahyudi*

 

 

Potret

Kamar masih basah
Gerimis puisi
Kata-kata menyusun tempat
di antara bait-bait
Tentang musim-musim menanam

Sebuah peta memberi kita
Nama tempat dan cuaca
Juga sekian burung yang rajin
Merayakan hidup, merayakan
belantara tak terbaca

Di luar, jalan-jalan telah lama
Menarik selimut malam
Mimpi-mimpi kembali memutar
waktu, membuat titik-titik
Jeda dan akhiran

Akhiran yang bisa datang
Tanpa terduga
Seperti tak terduganya
Wujud belantara
juga burung-burung dalam peta
yang sedang kita betangkan ini.

(2023)

 

Dari Kereta

Kereta tak mengandung percakapan
Warung kopi, indomaret, orang-orang
Dalam lipatan kenangan timbul-tenggelam
Di balik jendela kaca
Sedang puisi di pangkuanku ini
Sungai-sungai kehilangan mantra

Anyelir tanpa busana.

(2023)

 

Di Gambir

Di Gambir kita menggambar senja
Orang-orang yang berburu
Bergerak antara pulang
dan kepergian

Entah berapa lambai
Yang mengapung
Berapa hati dibentangkan jarak
Pada jendela setengah buram
Pada wajah-wajah
Yang menanggung jejak lesu
perjalanan

Di masjid, kita sepasang detak
Yang bertemu
Sepasang sayap yang mencari
Rumah madu biak sepatu.

(2023)

 

Sudirman

1/
Di bawah menara jantungmu
Asap kopi meruap bersama debar
Tak ada yang asing, memang
Tapi tak ada juga pelukan
Selain puisi

2/
Di bawah menara jantungmu
Yang terus menyala
Lelap semisal kuncup sekar
yang ragu-ragu untuk mekar
Selimut masih manis dalam lipatan
Enam belas derajat dalam kamar

Tanpa kecup. Tanpa dekapnya.

(2023)

 

Jarak

Gigil dalam kamar
Gigil dalam kenangan
Wajahnya serupa nyiur

Angin melambaikannya
Menarik tiga buah kecup
dari bibirku yang hilang bahasa

hanya puisi, debar yang tak henti
kutuliskan
Merayap di udara, menempel
pada dinding, langit-langit kamar

Gemanya menyuburkan rindu.

(2023)

 

===

*Didik Wahyudi lahir pada 30 Juli 1978, di Surabaya, Jawa Timur. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, dan naskah drama dimuat di berbagai media lokal dan nasional. Buku puisinya berjudul Pelajaran Bertahan (2019). Ia aktif di komunitas “Keluarga Padusan”. Puisinya “Sajak Kecil perihal Sebuah Kapal yang Berlayar ke Pulau Senja” meraih juara Harapan pertama Lomba Cipta Puisi Media Indonesia 2023.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *