22 Desember 2024
Di Balik Jeruji
Oleh Fathurrozi Nuril Furqon*

Kiai Yasin termangu, menatap jeruji besi di depannya. Pagi tadi, ia ditetapkan sebagai tersangka utama kasus Mega Korupsi di kota C. Ia tidak mengelak kesalahannya karena membiarkan kasus korupsi terjadi. Namun, menjadi tersangka utama sungguh tidak bisa diterima. Bagaimana bisa ia menjadi tersangka utama sementara ia sendiri tidak pernah mencicipi uang haram tersebut, membeli mobil Tesla Model X Performance Plaid berharga 4,5 miliar, bahkan berpelesir keliling negara Asia.
Ia tak bisa berbuat apa-apa sebab hakim sudah memutuskan, dan palu sudah diketok. Setidakbersalah apapun, ia tetap akan dinyatakan bersalah. Ia hanya bisa merutuki diri karena sama sekali tidak memiliki bukti yang bisa membelanya di pengadilan. Ia berpikir alangkah naif dirinya selama ini.
Kini, setelah 4 jam ia mendekam di bui, rasa malunya yang habis terbakar letup api murka, kini secara tiba-tiba tumbuh menjamur. Apa kata orang-orang nantinya jika mereka melihat di tv, seorang kiai yang mereka hormati, tiba-tiba saja diringkus KPK dengan tangan terborgol dan tubuh terbalut baju oranye. Rasa malu itu menggerogoti Kiai Yasin, dan memperdalam luka sesal yang tercangkul di hatinya.
***
Tujuh tahun lalu
Wajah para santri kelas akhir tampak suram. Mereka duduk bersila di aula pesantren dengan kepala tertunduk. Beberapa di antara mereka tampak merah matanya dan berair. Di hadapan mereka, Kia Yasin duduk di atas kursi. Ia tampak murka.
“Kalian semua diusir dari pondok ini, silakan kemas barang kalian.” Ucapan tersebut keluar begitu saja dari lisannya. Pelan tapi mematikan.
Untuk sekejap aula terasa begitu hening. Keputusan Kiai Yasin terasa begitu menyedihkan. Dalam waktu beberapa detik saja, segera tangisan para santri terdengar bersahut-sahutan. Ya bayangkan saja, bagaimana pengorbanan mereka mencari ilmu selama 6 tahun, harus menjadi debu akibat hasutan orang luar untuk mencoblos salah satu paslon walikota kota C. Apalagi dalam hal ini, mereka hanya diberikan imbalan berupa makan siang plus sebotol Aqua.
Tangisan para santri kelas 6 terdengar begitu pilu, namun itu tak mengubah sedikitpun kerasnya mimik wajah Kiai Yasin. Ia sudah bertekad bahwa demi kepentingan umat, pesantrennya harus steril dari segala aktivitas politik. Tentu saja, para politikus itu boleh sekali-kali berkunjung ke pesantrennya. Namun hanya sebatas itu. Ia tidak akan mentolerir segala kegiatan yang bertujuan untuk mengampanyekan suatu paslon dalam pemilu.
Maka, ketika sepulang haji, ia mendengar bahwa para santri kelas 6 yang sudah memiliki hak pilih, berhasil dihasut oleh orang suruhan salah satu paslon untuk mencoblos paslon itu, tak terbilang lagi bagaimana murka yang ditampakkan Kiai Yasin. Hanya dalam waktu sehari, ia sudah melakukan berbagai hal. Mengusir ustadz yang menjadi penggantinya selama berhaji, mengirimkan surat kecaman terhadap tim sukses paslon tersebut, dan melakukan pengusiran akbar seluruh santri kelas 6.
Mau tak mau, orang-orang merasa kasihan kepada para santri itu, sebab mereka masihlah para remaja lugu. Tumbuh di lingkungan pesantren membuat sensor bahaya di diri mereka redup, sehingga mereka membiarkan diri terjerumus ke dalam iming-iming nasi bungkus. Mereka masihlah remaja labil yang belum banyak mengecap pahitnya kehidupan luar.
***
Lantai bui terasa semakin dingin. Kiai Yasin membaringkan diri, mencoba tidur, siapa tahu ini hanya mimpi, dan bangun-bangun ia sudah bercengkrama ria dengan anak-anaknya di rumah. Namun matanya seakan menolak ia lari dari kenyataan. Bukannya bermimpi, ia malah kembali mengingat kilas hidupnya sehingga sampai menyandang title tersangka.
Ah, seharusnya dua tahun lalu tidak ia terima pinangan seorang politisi untuk maju sebagai calon walikota kota C. Sejujurnya saat itu ia sudah murka sejak pertama kali politisi tersebut menyampaikan niatnya. Ia ingin mengusirnya, namun entah kenapa saat itu, ia termakan oleh air mata sang politisi. Mungkin karena saat itu sang politisi membawa serta beberapa warga, yang dengan kompak mempertontonkan pertunjukan air mata.
“Kiai, kota ini sedang menuju kehancurannya. Para warga sangat berharap anda maju pada pilwalkot akhir tahun ini.”
Kiai Yasin saat itu bermuka masam. Hatinya berkecamuk antara mempertahankan prinsip, atau membawa angin segar bagi masyarakat kota. Dalam pikirannya, memilih yang lebih banyak manfaatnya dan lebih sedikit mudharatnya adala prioritas. Maka, setelah pergolakan batin yang memakan waktu sejam, dengan berat hati Kiai Yasin mengiyakan tawaran sang politisi.
Waktu pun berjalan cepat. Kiai Yasin berhasil terpilih sebagai Walikota kota C yang baru. Rupanya warga menyimpan kesumat dengan walikota sebelumnya, sampai-sampai Kiai Yasin hampir menang sempurna dalam pilwalkot. Walikota sebelumnya terkenal sewenang-wenang, suka menggelapkan kas kota, dan terlibat skandal dengan beberapa biduan. Walikota itu pula yang menjadi dalang di balik terusirnya seluruh santri kelas 6 di pesantrennya pasca pilwalkot lima tahun lalu.
Maka kehidupannya sebagai politisi dimulai. Sebagai kiai yang paham betul agama, Kiai Yasin benar-benar berusaha menerapkan syariat Islam. Ia berusaha menutup pintu korupsi, bersikap adil, serta mendorong masyarakatnya melakukan ma’ruf dan menghindari munkar.
Namun dengan kiprah di dunia politik yang masih seumur tunas padi, Kiai Yasin masihlah naif. Ia lupa bahwa di dunia, segala yang terlampau putih, kerap tidak disukai, dan berusaha dicemari. Ia terlena dan merasa segalanya berjalan dengan baik. Sampai ketika kasus mega korupsi itu tercium media massa, segalanya sudah terlambat.
“Barangkali ini karma.” Kiai Yasin teringat kepada para santri kelas 6 yang diusirnya.
Tak terasa setetes air mata menetes ke lantai bui. Baru seminggu lalu ia merasa masih dipuja oleh masyarakat kota, tapi sekarang, aduhai, bahkan untuk sekadar mendengar namanya saja masyarakat kota akan merasa murka dan segara meludah. Diam-diam dia merasa marah pada masyarakat kota, sebab dia menjadi walikota atas dorongan mereka, namun mereka juga yang secara tiba-tiba menghempaskannya. Merekalah itu yang turun ke jalan-jalan dan berdemo sepanjang hari. Mereka juga yang akhir-akhir ini kerap meneror keluarga dan pesantrennya. Merekalah kaum picik yang ingin hidup makmur tapi membiarkan orang yang berjasa pada mereka jatuh ke kubangan lumpur. Sungguh biadab.
Setetes lagi air mata tumpah. Kini rasa gelisah menguasai Kiai Yasin. Begitu gawat kabar tentang pesantrennya yang ia terima sesaat sebelum masuk bui. Ia dengar, kini pesantrennya telah benar-benar sepi, sebab para wali santri beramai-ramai memberhentikan pendidikan anaknya. Nasib keluarganya, membuatnya merana. Baru saja seorang polisi datang menuju sel tahanannya dan mengabarkan bahwa anak istrinya kini kritis, setelah segerombolan massa yang meradang datang menjarah kediamannya. (*)
===
*Fathurrozi Nuril Furqon, alumnus TMI Al-Amien Prenduan 2021. Suka membaca dan menulis.