LiteraSIP

12 Januari 2025

Pertanda

Oleh Sutono Adiwerna*

 

 

“Mas Rifai mau kemana?” tanya Fiya dengan kening berkerut.

“Ke pengajian salawat. Ada grup hadroh favorit Mas. Kamu mau ikut?” Rifai balik bertanya.

“Memang pengajian salawatnya di mana?”

“Lapangan Rumah Dinas Bupati.”

“Dekat dong. Kenapa tadi Mas berkunjung ke rumah tetangga-tetangga buat pamit?”

“Apa salahnya?”

“Nggak salah sih, tapi aneh saja.” Ucap Fiya. Tapi kata-kata itu hanya dirinya sendiri yang mendengar.

“Kamu jangan ikut ya, Dek!”

“Ikut? Kalau yang datang Lesty Kejora barulah Fiya mau.”

“Baguslah, kamu di rumah saja. Mas titip Bapak. Mas titip Ibu, ya. Jaga mereka. Mas berangkat dulu, ya. Itu Aji dan Ivan sudah nunggu. Assalamualaikum.”

“Walaikumsalam. Hati-hati, jangan ngebut ya, Mas.”

Fiya heran dengan apa yang dilakukan kakaknya hari ini. Bagaimana tidak heran? Kakaknya yang berwajah seperti bulan purnama tersebut mau nonton hadrohnya Al Kautsar  di Slawi, tapi beberapa jam sebelum berangkat dia keliling ke rumah tetangga buat pamitan. Padahal, jarak Slawi dan rumah hanya tiga atau empat kilometer.

Sebenarnya, Fiya merasa haran dengan tingkah serta perilaku kakaknya yang selalu jadi bintang di manapun.

Beberapa hari lalu, Rifai mengemballikan uang yang pernah dipinjam darinya dan sebenarnya Fiya juga sudah merelakan uang tersebut. Apalagi nilainya tak seberapa. Lima puluh ribu.

“Dek, ini Mas balikin uang kamu, ya.”

“Kok dibalikin segala? Kita saudara lho, Mas. Harus saling bantu kan?”

“Justeru karena kita saudara. Justeru karena kita harus saling bantu, Mas balikin uang kamu. Kamu nggak mau kan Mas misalnya mau masuk surga, terus tertahan gara-gara Mas punya utang sama kamu. Ini ada hadistnya lho.”

“Iih. Mas ngomong apa sih? Kok segala surga dibawa-bawa? Fiya jadi takut.”

Akhirnya dengan terpaksa Fiya menerima uang dari kakaknya yang berhidung bak paruh elang, berambut legam sedikit ikal tersebut. Soalnya, kalau nggak diterima, bisa kalah tuh ceramah Ustad Abdul Somad.

Jam berdentang delapan kali. Fiya masih mengaduk-ngaduk makan malamnya dengan semaunya. Sementara Bu Wiwit dan Pak Hadi yang awalnya lahap menikmati nasi goreng sambal ati kesukaan mereka menjadi hilang selera juga.

“Fiya, kenapa nasi gorengnya cuma diaduk-aduk  saja. Makan dong. Kan Mas Rifai udah bilang mau ke Slawi, menghadiri pengajian salawat.” Ujur Bu Wiwit setelah mengeguk air putih.

Nampak Pak Hadi yang sedang mengelap bibir dengan tisu manggut-manggut menyetujui ucapan isterinya.

“Pak, Bu, ngerasa Mas Rifai akhir-akhir ini aneh nggak?”

“Aneh? Maksud kamu?” ucap Pak Hadi.

“Pak, tadi sebelum berangkat ke Slawi masa dia pamit ke tetangga-tetangga?”

“Lho bukannya Mas-mu kalau mau pergi agak lama memang begitu ya? Waktu dia mau study tour ke Bali, waktu dia mau PKL ke Bandung juga begitu kan?”

“Kan Mas hari ini ke Slawi Pak. Bukan ke Bandung atau pun Bali,” ucap Fiya lirih.

“Bagus dong, kalau Masmu pamitan ke tetangga-tetangga, berarti semua akan baik-baik saja. Karena tetangga-tetangga yang dipamiti mendoakan Masmu agar terhindar dari marabahaya kan?”

“Bukan itu saja Pak,” kata Fiya lagi.

“Apalagi, Nok?” kali ini Bu Wiwit yang menanggapi.

“Dua hari lalu Mas Rifai melunasi utang ke Fiya. Padahal Fiya sudah lupa. Sebelnya, dia bilang nggak ingin terhalang masuk surga gara-gara utang sama Fiya. Nyebelin kan Bu?”

“Lha yang dikatakan Masmu bener dong. Ada cerita sahabat yang nggak jadi masuk surge gara-gara hutangnya yang belum dibayar.”

Sebenarnya Bu Wiwit dan Pak Hadi merasa ada yang aneh dengan anak sulungnya. Beberapa jam lalu, ketika mau mencari nasi goreng buat makan malam, putra mereka minta uang saku buat ke pengajian salawat. Rifai sering datang ke pengajian-pengajian salawat tapi tak pernah sekalipun sebelumnya dia minta uang saku. Apalagi saat minta, Rifai bilang minta uang saku Bu, buat bekal barangkali Fai perginya lama. Tentu saja keanehan itu tak perlu diungkapkan kepada bungsu mereka yang memang perasa.

Karena merasa kedua orang tuanya juga tidak seasik seperti biasanya, Fiya pamitan ke kamar. Tanpa babibu ia ke kamar mandi, berwudhu dan menangkan hati dengan membaca ayat suci secara acak.

Meski setelah mengaji hatinya lebih tenang, tetap saja gadis yang masih kelas 10 sebuah sekolah favorit di Slawi ini masih kepikiran kakaknya.

Demi mengallihkan perasaan tak karuannya tersebut, Fiya membaca novel dari penulis terkenal yang ia pinjam di perpustakaan pagi tadi. Karena kepikiran kakaknya, tentu saja ia tak bisa menikmati diksi-diksi yang biasanya menyihir. Fiya mengambil HP berkasing violet miliknya. Gadis itu juga memasang headset dikupingnya yang jeber. Kuping yang kata-kata orang pertanda pintar. Faktanya? Nilai-nilai pelajarannya tak secemerlang kakaknya. Beruntungnya kakaknya yang berhati malaikat itu mau mengajari jika ada pelajaran yang ia tak paham dengan sabar, dengan telaten. Hasilnya, ia bisa masuk sekolah favorit kedua di Kabupaten mereka.

 

Kejora pancarkanlah sinarmu

    Temani keheningan malamku

    Padamu kejora kutitipkan rindu

    Untuk dia yang jauh di mata.

 

Lagu Kejora-nya Lesty mengalun lembut. Lagu yang biasanya bisa membawa Fiya hanyut sehingga tak sengaja berdendang itu kali ini juga tak bisa merebut ingatannya kepada kakak terkasihnya. Tuhan, tolong jaga Mas Rifai, Tuhan tolong jaga kami semua. Jaga kami dari segala marabahaya. Doa Fiya tulus, berkali-kali, berulang-ulang hingga bibir dan matanya yang sayu lelah dan terpejam.

Rasanya baru beberapa menit matanya memejam, pintu kamarnya diketuk. Suara bapaknya tidak seperti biasanya. Bapak kalau mengetuk kamar biasanya meski lantang nadanya lembut. Tapi kali ini lantang tapi seperti terbata-bata.

“Ada apa Pak?”

“Masmu….”

“Mas Rifai?”

“Ya. Tadi ibu dihubungi seseorang. Kata orang orang itu Rifai sedang di RS Susilo. Kecelakaan.”

Fiya berharap perasaan asing, perasaan yang tak enak yang hinggap akhir-akhir ini perasaan biasa bukan semacam firasat atau apalah namanya. Tapi kenyataanya? Mas Rifainya saat pulang dari pengajian salawat, sekitar pukul 12 malam, motornya ditabrak motor yang dikendarai pemabuk yang bertiga satu motor. Fiya berharap perasaan asing itu perasaan biasa bukan pertanda atau semacamnya. Faktanya? Mas Rifainya koma beberapa hari. Sempat melewati masa kritis. Tapi ujungnya? Mas tercintanya dipanggil Gusti Allah juga.

Setelah prosesi pemakaman kakaknya yang ditakziahi banyak orang mulai handai taulan, tetangga, teman-teman sekolah hingga orang-orang yang nyaris tak ia kenali, Fiya mengurung diri di kamar. Ia hanya membuka pintu jika ibu atau bapaknya yang mengetuk.

Fiya tiba-tiba ingat percakapannya dengan mendiang kakaknya.

“Dek, jika salah satu diantara kita pergi terlebih dahulu, kalau Mas pergi dulu, kamu boleh sedih ya. Tapi jangan berlarut-larut. Ingat ya, kita masih punya ibu, punya bapak yang harus kita jaga. Kamu juga janji jangan bikin bapak dan ibu sedih ya.”

 

===

*Suton Adiwerna. Lahir dan mukim di Tegal, Cerpen cerpennya pernah menghias di Radar, Genie, Suara Merdeka, Cempaka, Kedaulatan Rakyat dan lain-lain. Selain menulis, penulis juga aktif di FLP Jawa Tengah div Karya.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *