12 Januari 2025
Puisi-Puisi Muhammad Syahroni
Oleh Muhammad Syahroni*

Mair I
ketika musim berakhir
dan kita telah menjadi genap
menyusun semua rumpang dalam diri kita.
kita pun telah kembali
menempuh jalan yang panjang
di kota-kota putih
di waktu-waktu memanjang.
semua terasa sunyi
semua terasa begitu ringan
dan suara-suara telah kembali ke pemiliknya.
kita pun telah usai
dan kita telah berangkat menuju cahaya.
Mair II
1/
aku berdiri di hadapan sebuah kenangan yang membeku. ruang kosong yang dahulu penuh, kini hanya menyisakan angin yang berbisik lirih. di setiap sudut, rasa kehilangan seperti noda yang sulit dihapus. tapi aku tak ingin menghapusnya, meskipun itu terasa pahit.
di hadapan cermin aku bertanya-tanya: apakah kepergian adalah akhir dari segala sesuatu? tapi jawabannya selalu mengambang, seperti bayangan yang tak pernah tampak sepenuhnya. ada bagian dari diriku yang tetap tinggal di sana, di dalam ruang yang tak terlihat. aku tahu itu, meski tak bisa menyentuhnya.
2/
setiap malam adalah pintu yang terbuka, dan aku melangkah ke dalamnya tanpa tahu apa yang akan kutemui di sisi lain. ada sebuah lagu tanpa nada. aku mendengarnya, dan itu mengisi rongga-rongga jiwaku yang kosong.
aku pergi, tapi ada sesuatu yang tak bisa lenyap begitu saja.
3/
kenangan adalah rumah yang tak pernah benar-benar ditinggalkan.
4/
waktu seperti sebuah kereta yang terus berjalan, dan aku hanya menumpanginya. tapi di sepanjang perjalanan itu, aku merasa bahwa sebagian diriku tertinggal di sebuah stasiun yang tak pernah benar-benar kutinggalkan. aku tetap ada di sana, di dalam ruang yang telah kulalui.
5/
mati bukan sekadar kehilangan. itu adalah pintu menuju sesuatu yang tidak kita pahami sepenuhnya. di satu sisi, aku merasakan kelegaan dari beban yang kubawa sendiri, tapi di sisi lain, aku merasakan kehampaan yang menganga—seperti lubang di tengah-tengah dadaku yang tidak bisa diisi oleh apapun.
6/
aku ingin melupakan, tapi kenangan terlalu dalam menggali ingatanku. ia seperti sulur-sulur yang merambati hatiku, tak ingin lepas. mungkin ada cinta yang terlalu besar untuk bisa dihentikan oleh waktu, dan mungkin ada kehilangan yang lebih luas dari sekadar perpisahan.
7/
setiap tempat yang pernah kusinggahi adalah sebuah puisi yang tak pernah selesai. aku duduk di sana, menunggu kata-kata itu jatuh seperti hujan yang deras.
Barangkali
barangkali begitulah kematian,
datang seperti kabut yang pelan-pelan
menutup puncak gunung,
tak memberi tanda,
tak menyisakan alasan.
seperti daun gugur ke tanah,
tanpa suara, tanpa keluhan.
dan aku berpikir,
mungkin kematian hanyalah
nama lain dari sepi
yang melingkar lembut
di pergelangan waktu.
===
*Muhammad Syahroni, kelahiran OKU Timur. Beberapa tulisannya telah dimuat di omong-omong.com, majalah karas, koran tempo, dan berbagai media lainnya.