19 Januari 2025
Pilihan Bapak
Oleh Hilyatul Auliya*

Drajat, aku mengenalnya. Dia, pria keempat yang datang menemui Bapak. Jelas, tujuannya untuk meminangku.
Bagiku, Bapak sudah kelewatan. Memberi syarat setinggi langit bagi calon mantunya. Siapalah aku? Aku malu jika nanti tak mampu menjadi istri yang super baik.
Aku memang putri Bapak satu-satunya. Seperti Drupadi, putri semata wayang Raja Drupada. Bapak persis Raja Pancala, membuat sayembara bagi para pemuda terbaik.
Aku ingat kisah Karna dan Arjuna. Mereka berusaha menaklukkan tantangan memanah mata burung melalui bayangan yang muncul di permukaan air. Karna berhasil. Raja Angga itu telah membidik sesuai sasaran. Tepuk tangan bergemuruh. Namun, naas Drupadi menolaknya karena dia berasal dari kasta rendah.
Pada bagian itu, aku menyesali sikap Drupadi. Aku tak sejalan dengan pandangannya. Mana ada lelaki yang sempurna di dunia? Setiap yang bernyawa punya cela.
Sayembara berlanjut dengan kehadiran Arjuna. Murid kesayangan Guru Drona itu dengan tenang memenangkan sayembara. Wajah Drupadi merona. Pencarian calon suami Drupadi berakhir. Ah, andai Arjuna tahu bahwa Karna adalah kakaknya.
Karna pulang dengan penuh kecewa. Drajat pun pulang dengan rasa yang sama. Bapak tak suka dengan pekerjaannya sebagai pedagang. Bagi Bapak, gaji pedagang tak menjamin kemakmuran. Bayaran tak tentu, sementara kebutuhan hidup terus diburu.
Aku pribadi tak masalah. Asal mau berusaha pasti ada jalan, ada rezeki. Apa daya aku yang tak mampu menolak kehendak Bapak. Ucap Bapak tak bisa dilawan. Begitu Ibu menasihati.
Aku hanya pasrah. Baktiku pada Bapak-Ibu mengalahkan segalanya. Mengubur dalam-dalam cintaku pada Drajat. Ya, dia cinta pertamaku. Dia siswa berprestasi semasa SD. Diam-diam aku mengaguminya. Tak menyangka dia memiliki perasaan yang sama. Oh Tuhan, dia berniat menjadikanku sebagai istri.
Selepas itu, Handoko datang. Bapak menyambut sumringah. Dia putra petinggi partai ternama. Ibunya sedang menjabat sebagai gubernur. Menurut telisik, hartanya aman hingga 5 turunan.
“Nduk, kamu harus mulai mengakrabkan diri dengan calon suamimu,” titah Bapak.
“Pak, apa aman jika menikah dengan seorang politikus? Banyak musuh,” perasaanku ragu.
“Bukan musuh, tapi pesaing. Tidak ada hidup yang aman-aman saja. Memang ada hal yang harus diperjuangkan. Semakin sukses, semakin sulit tantangannya. Wajar, Nduk. Wajar!” tak ada sedikitpun raut kekhawatiran di wajah Bapak.
Ibu mengelus pundakku, “Percaya saja ya, Nduk?”
Dengan menghela napas panjang, aku mengangguk.
Semakin aku mengenal Mas Han, semakin aku yakin bahwa Bapak tak salah pilih. Dari empat bersaudara, Mas Han yang paling tampan dengan tubuh yang gagah. Bisa kukatakan dialah Arjuna.
Tidak hanya elok rupa, tapi juga sikapnya. Aku benar-benar merasakan bagaimana perasaan Dewi Drupadi. Arjuna memang lelaki idaman. Sedikit berbeda kisah, Mas Han adalah anak terakhir. Semua saudaranya sudah berkeluarga. Jadi, bisa kupastikan posisiku aman. Tak akan mengulang kisah poliandri Drupadi.
Pernikahan digelar megah. Jauh lebih indah dari apa yang aku impikan. Maha Baik Tuhan dengan segala rencananya.
Segala dekorasi masih kental dengan ornamen Jawa. Panggung pelaminan berlatar gebyok. Menggunakan material kayu jati dan dihiasi bunga asli. Sungguh, perpaduan aroma yang segar.
“Kamu tidak hanya cantik, tapi menawan Laras,” bisik Mas Han.
“Ah, hanya karena polesan dan kebaya anggun ini, Mas,” aku sadar betul, uang dapat menyulap penampilan.
“Lebih dari itu, kamu pengantinku jelmaan bidadari,” Mas Han tak mau kalah.
Aku tersipu. Menunduk malu. Mengulum senyum.
Sesudahnya, aku selalu tampil dengan polesan. Bukan aku pandai dandan. Sudah ada juru rias untukku.
“Lihat Nona, matamu menyala. Setajam elang. Tidak, tidak! Matamu tidak garang, tapi cantik. Aku sedang membayangkan merias Dewi Api,” celoteh Mbak Rara.
“Drupadi maksudnya, Mbak?”
“Nah, rupanya Nona tahu pewayangan juga.”
“Tapi, aku tak sekuat dia Mbak. Doakan rumah tanggaku aman bersama Mas Han,” entah mengapa ada ketakutan tak menentu dalam hatiku.
“Tenang Mbak, semua aman. Mas Han orang yang baik. Aku sudah mengenalnya sejak lama.”
“Semoga demikian, Mbak,” aku tersenyum lalu berdiri di depan cermin. Memastikan penampilanku tertata cantik.
Belum genap setahun, rumah kami semakin ramai dengan tangis bayi. Putra pertama kami bernama Abimanyu Svarga, pemberani dari surga. Mas Han begitu bahagia memiliki Abi. “Keturunanku, penerusku,” begitu katanya berulang-ulang.
Anehnya, Mas Han telah cukup dengan Abi. Meski Abi memasuki usia 5 tahun, tak ada keinginan menambah momongan. Hingga Abi genap 10 tahun, Mas Han kekeh pada pendiriannya.
Aku merasa hubungan kami tak seintim dulu. Mas Han tetap baik, tapi menghindari berhubungan badan. Apa ada yang salah dengan diriku?
“Mas, kenapa sikapmu berubah?”
“Tidak ada yang berubah Laras. Hanya perasaanmu,” Mas Han menjawab tenang.
“Kenapa kau tak pernah menyentuhku, Mas?” dengan malu harus kusampaikan.
“Kata siapa? Bukankah kita tetap satu ranjang? Kau hanya tak tahu saat aku menyentuhmu. Kamu tertidur pulas, Sayang. Lihat aku menyentuhmu,” Mas Han membelai lembut rambutku.
“Mas…”
“Sudah, jangan berpikir yang tidak-tidak. Kamu istriku, tidak ada yang bisa menggantikan statusmu,” Mas Han memelukku.
Mas Han selalu bisa menenangkan. Sejak itu, aku tak lagi bertanya tentang kemelut yang menyerbu kepala. Aku simpan rapi dengan hati pilu. Mencoba menetralisir perasaan meski begitu sulit.
Mas Han semakin sibuk dengan pekerjaan. Sesekali aku menemani berkampanye. Di depan umum, kami menampakkan kemesraan. Banyak yang menyarankan agar kami menambah momongan. Aku membalas dengan senyuman. Andai mereka tahu, itu adalah keinginanku yang bertepuk sebelah tangan.
“Doakan saja,” sahut Mas Han sambil menggenggam tanganku.
Nyatanya, kebaikan Mas Han tak mampu membuatku bertahan. Ada nafkah batin yang gagal terpenuhi. Aku menyerah di usia 17 tahun pernikahan.
Aku merasa gagal menjadi istri yang baik. Aku berkali-kali mengutuk diri. Mencoba memperbaiki keadaan dan nihil. Aku yakin, Mas Han hanya tak mau melukaiku. Maka, aku harus tahu diri. Aku membatin.
Malam itu, kuminta Mas Han menandatangani surat perceraian. Tatapannya bagai elang siap memangsa.
Dia mencengkeram erat leherku. Tubuhku jatuh ke ranjang. “Laras, tak cukupkah semua kemewahan dan kebaikanku padamu? Kenapa kamu tega?” nada Mas Han menukik tinggi.
Aku berusaha melepas tangannya. Kutendang tepat di bawah perut.
Mas Han tersungkur menahan sakit. Dia bersandar pada tembok. Menangis. “Jangan ceraikan aku,” lirih dan penuh harapan.
“Untuk apa lagi Mas dipertahankan?”
“Untuk Abi dan keluarga kita.”
“Bukan untuk kita,” begitu sakit mendengar pernyataan Mas Han.
Mas Han berusaha bangkit. Mengambil selembar foto di brankas. Menunjukkan padaku.
“Ini Mbak Rara kan?”
“Iya, aku mencintainya.”
Duniaku runtuh seketika. Aku tidak sedang berbagi hati dengan wanita secantik Sembadra. Tapi, dengan lelaki anggun nan gemulai, Anggara.
===
*Hilyatul Auliya, telah melahirkan dua buku bertajuk Buncah dan Mekar & Layu. Tulisannya dapat dijumpai di akun @Pada.hati