LiteraSIP

19 Januari 2025

Puisi-Puisi Budi Saputra

Oleh Budi Saputra*

 

 

Meneroka Merapi

di antara tanah-tanah karst, di antara tanah-tanah
subur dalam sedekap lingga menuju tepian yoni,
bahwa semua senantiasa mawas diri. turun temurun
dalam ranji, sebagaimana mengenal mori,
mori yang dililitkan ke pohon resan tepian telaga
sebagai memayu hayuning bawana dalam
semburat harmoni.

di manakah hendak dicari orang-orang mengenakan
pakaian eling lan waspodo. dalam kancah
tropis, dalam tirai musim terngiang-ngiang gema
wayang menikam makna ruwatan diri. murwakala
dipegang teguh di sepanjang keniscayaan
matahari yang menyiram hamparan sawah,
ladang-ladang tumpang sari, tegalan yang suburkan
biji-biji dan sayur mayur, hingga terperciklah
harum wiwitan sedekah bumi dengan kata-kata
terucap kepada dewi sri.

di manakah hendak dicari orang-orang yang fasih
menafsir wisik, tanda titen dan meramu segala
tirakat. dalam tempias fajar kirmizi, barangkali
tabiat hewan dan daun layu akan senantiasa
berkampung dalam diri selepas kebiasaan menanam
pohon kina, dan memasang ketupat berisi garam
dan sirih sebagai tolak bala yang dilakukan
sang juru kunci.

berhujan berpanas di bumi dan di kedalaman kosmos
kraton merapi, sungguh seperti setiap ujung
kain dipegang dan menjelma keselarasan di sepanjang
hayat. begitulah yang terlihat dari segala penjuru
mata angin. orang-orang mengenal ladang dan
tanah dengan penuh etika. satu di antara banyak
prosesinya adalah memanggang biji jagung agar
jauh dari lelembut dan gagal panen. seiring daun-daun
menari dalam permulaan pagi, betapa biji-biji
terus tumbuh dan memenuhi tembolok
burung-burung yang melintas di atas pundak
nyai gadung melati.

bila seperangkat pelana kuda telah diberangkatkan
menuju sri manganti, maka kau pahamilah bahwa
doa-doa yang diucapkan bersama bunga sritaman
begitu tulus untuk keselamatan semesta. baik siang
maupun malam, tak seorang pun mengharapkan
kau batuk hingga abu vulkanik mengarah ke selatan
atau barat daya yang membuat sapi perah
dan pohon-pohon mati.

sungguh mawas diri dan adi kodrati bagai tercelup dalam
darah tiap kali memandang rupamu di ketinggian.
di luar kuasa megantara dan kartadimeja, orang-orang
akan senantiasa siaga dengan sirine dan kentungan,
orang -orang akan selalu berharap keberkahan dalam
merti desa dan jauh dari sifat nihaya pati.

sebab tenangmu sebagai pasak bumi, sungguh penuh
arti dalam peralihan bulan yang nisbi.

2024

 

Siagai Laggek

sapru leleu, sappru engatta

maka belajar dari semesta, dari perulangan terbit
fajar kirmizi, hanyalah siasat yang luhur dalam
lekuk ranji. ramuan segala penyakit
adalah rumpun daun yang diberkahi taikamanua,
taikaleleu, taikalaut, dan teikapolak.

begitu dipegang teguh turun-temurun ramuan
itu oleh siagai laggek dalam tarian napas uma.
berdiang di riak zaman yang menyajikan
peta yang diarsir begitu pelan. meski konsesi silih
berganti merajah tubuh hutan, dan sasareu
berdatangan bersama mata uang, segala corak kain,
dan cetak sawah pendamping sagu bersama
tulang belulang hewan buruan
yang dipajang.

bila ditelusuri hutan, sungai, dan batas ladang,
alangkah mudah dicari segala tumbuhan dengan
aroma simasingin, simamiang, simakasak atau
simabutek. jajajak untuk sakit perut, kakainauk
untuk batuk, atau sibakat laggai untuk
sakit kepala.

bila suatu hari badan terasa panas dingin
di kampung minim penerangan, maka siapakah
yang dituju untuk mencari obat penawar?

barangkali yang dituju adalah sikerei yang
begitu mahir meramu dan berpantang memakan
belut, pakis, bilou atau simakobu.

barangkali sirua mata yang menjadi perantara
bagi roh untuk menyebutkan jenis-jenis
tumbuhan.

atau barangkali simatak yang berasal dari orang
awam yang punya kemampuan meracik obat
terutama dari kaum perempuan.

berpuluh tahun penawar sakit tumbuh seperti pagar
dalam diri. dan babi-babi senantiasa
disembelih dalam punen bersama sehat raga,
hasil kebun terus diracik keriangan di bawah
keniscayaan atap uma.

bila kelak suatu penyakit sulit ditemukan penawarnya,
barangkali kala itu hantu-hantu dari labirin musim
bergentayangan di hutan.

hutan yang dibabat habis, lalu segala nilai tradisi
hidup perlahan terkikis.

sapru leleu, sappru engatta.

2024

 

Primata  

 menghadaplah ke arah depan dari uma ini.
di luar sana, simakobu tetaplah bergerak pelan
seraya membawa lonceng kematian.
di luar sana, sikerei tetaplah mahir meramu
ramuan penangkal, mengucap mantra,
dan menghasta jarak menuju persembunyian
hewan buruan.

menghadaplah ke arah depan uma ini. meski tengkorak
mata besar primata lebih banyak dari tanduk rusa,
maka tetaplah berhias sepenuh hati bersama
si burung kayu dan menyaksikan orang-orang menari
menyerupai gerakan bilou.

panggillah kawananmu agar gong berbunyi
dan pengasapan daging tetap menyala untuk
pelengkap sagu dan keladi.

berhari-hari menghitung peristiwa kulit terlepas
dari badannya, semata agar bisa menyaingi tengkorak
babi yang menghadap ke dalam uma sebagai
lambang naiknya marwah diri.

2023

 

Kebun Naga

di galang, hanyalah kebun naga berusaha tabah
tumbuh sebagai pengganti jejak gambir atau nenas
mantrust yang lama eksodus. selepas belukar
didiami manusia perahu. selepas bunga krisan
layu di negeri seberang, hutan-hutan disembur
herbisida agen orange dan menjadi gundul
bagai lahan berhantu.

meski lengking suara gagak merobek kemarau,
maka tak ada lagi para pengungsi yang melewati
hari-hari yang cemas ketika belajar bahasa
dan belajar menjahit di kamp sinam.

barangkali hanyalah pada merah kulit dan ungu darah,
kepedihan atau hitam tangis berulang kali diperas
hingga mengering dan membatu seperti menhir
yang dirawat oleh waktu.

begitu juga pada manis daging. sungguh membuat
orang-orang silih berganti menyambangi pulau
dalam deret doa, dan nyala hio penghujung senja
yang mengharu biru.

2023

 

===

*Budi Saputra. Lahir di Padang, 20 April 1990. Ia menulis di berbagai media massa cetak maupun online.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *