LiteraSIP

16 Maret 2025

Wangi Melati di Tubuh Yatra

Oleh Elok Cahyaningtyas*

 

 

“Aku hampir muntah setiap kali menciumnya.”

Laila sudah membabat habis semua bunga yang memiliki wangi serupa dengan parfum itu. Namun, wangi itu seolah menempel kuat. Ada lem tak kasat mata yang membuat wanginya awet. Bahkan, setelah Laila mencucinya berulang kali hingga tangannya lecet dan perih.

“Kenapa? Bukannya dulu kau suka bunga melati?”

Sejak kecil, Laila suka bunga melati. Ibunya menanam bunga itu di samping rumah. Tanpa pot dan dibiarkan menjalar di samping teras yang belum tertutup paving. Laila akan memetik bunga kecil itu ketika mekar dan menyelipkannya di telinga. Wanginya akan menguar setiap kali angin berembus.

Laila suka. Sangat suka.

Namun, belakangan ini Laila benci sekali dengan bunga warna putih itu. Kepalanya pening, perutnya terasa diaduk, dan ada sesuatu yang ingin keluar dari kerongkongan ketika tanpa sengaja hidungnya mencium wangi bunga melati.

“Sekarang tidak lagi.”

“Kau juga membuang teh melati yang biasa kita minum. Padahal, aku tahu kau sangat menyukainya.”

Laila tak menjawab. Ia hanya menatap Yatra cukup lama hingga lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu berubah kikuk. Tak tahan untuk memecah keheningan meskipun pertanyaan sebelumnya tak terjawab.

“Sejak kapan? Aku tidak tahu,” kata Yatra lagi.

“Kenapa bukankah harusnya kau senang? Aku tahu kau tidak menyukai wangi bunga melati, Yatra. Aku mencabut bunga melati di depan rumah dan membuang teh melati yang biasa kita minum hanya untukmu.”

Dulu, Laila pernah membeli sebuah parfum dengan wangi melati, tetapi Yatra diam-diam membuangnya ke tempat sampah. Lelaki itu marah. Ia menutup hidungnya sambil mengomel pada Laila untuk membuangnya saja. Yatra juga bilang, ia mual dan ingin muntah saat menciumnya. Karena hal itu, Laila tak pernah memiliki parfum dengan aroma melati seberapa besar ia menyukainya. Yatra hanya mengijinkannya untuk menanam bunga melati di depan rumah dan menyeduh teh melati setiap hari.

“Baguslah. Aku benci bunga itu,” kata Yatra seraya berlalu. Ia pamit untuk pergi bekerja sambil membawa jaket sewarna daun yang membuat Laila uring-uringan setengah mati.

Tangan Laila mengepal.

Memori beberapa hari lalu kembali berputar. Sore itu, Yatra baru pulang ke rumah. Ia duduk di meja makan setelah seharian bekerja. Laila ditarik mendekat, ingin merangkul mesra. Namun, belum sempat keinginan itu terwujud, Laila mendorong Yatra kasar hingga lelaki itu mundur. Punggungnya menabrak sandaran kursi.

“Kenapa?” kata Yatra waktu itu.

Wajahnya tampak bingung saat Laila mengendus. Membaui tubuh Yatra dari depan hingga belakang. Di antara bau kecut dan apek kemejanya, ada satu bau asing yang membuat Laila ingin mengumpat.

Tubuh Yatra bau bunga melati.

 

..

 

Laila kebingungan.

Ia ingin bertanya pada Yatra, namun nyalinya hanya setipis tisu. Selama beberapa hari, Laila tak bisa lupa. Ia terus membayangkan wangi itu dalam benaknya.

Wangi bunga melati yang selama bertahun-tahun dibenci oleh Yatra.

“Dari mana dia mendapatkan bau itu?”

Pertanyaan itu terus menggulir tanpa jawaban. Semakin ia mengingatnya, semakin pusing pula kepalanya.

Ketika tak sengaja mencium bunga melati di depan rumah yang sedang mekar, amarah Laila tiba-tiba memuncak. Ia mengambil sabit dan membabat semua bunganya hingga habis. Berharap kalau bunga itu hilang, hilang juga pikiran negatifnya.

Namun, ternyata tidak.

Berhari-hari kemudian, Laila kembali menemukan bau yang sama di baju Yatra. Kali ini disertai noda lipstik warna merah cabai di kerahnya. Ia mencuci baju itu kasar hingga tangannya lecet sambil menangis.

Malamnya, Laila mulai membayangkan sesosok wanita. Dia datang dengan pakaian mini dan gincu merah. Yatra dan wanita itu saling goda di atas motor.

“Sialan!” umpat Laila seraya menjambak rambutnya sendiri.

Sebelum semakin gila akan khayalannya, Laila mengundang Diana untuk datang. Wanita itu adalah seorang lajang yang rumahnya hanya berjarak 100 meter dari miliknya. Laila sering sekali bertemu dengan Diana, terlebih ketika wanita itu libur bekerja di hari Minggu.

“Jadi, kau curiga kalau Yatra berselingkuh?”

Laila mengangguk lesu. Kepalanya terasa pusing. Sejak semalam ia tidak bisa tidur. Matanya terus terbuka hingga pukul 3 pagi dan tak mau tertutup. Yatra sudah jatuh ke alam mimpi, sama sekali tak peduli kalau istrinya belum juga terlelap.

“Ya. Perasaanku yang mengatakannya.”

Diana mengusap punggung Laila dan memberikan satu pelukan hangat.

“Maaf. Aku turut merasa sedih atas apa yang terjadi pada kau, Laila.”

Laila memijat kepalanya yang berdenyut. Wangi itu tiba-tiba tercium. Entah dari mana asalnya, terbawa tiupan angin. Laila ingat betul kalau ia sudah membuang segala hal yang berbau melati.

“Tapi apa kau sudah yakin kalau Yatra selingkuh?”

Laila menggeleng. Ia menceritakan keanehan yang ditemukannya pada Diana sambil menahan pusing. Dari Yatra yang tidak suka dengan wangi melati selama bertahun-tahun hingga Laila yang menemukan wangi melati di tubuh Yatra belakangan ini. Seakan-akan seseorang baru saja menyentuhnya.

“Aku cukup yakin. Bangkai yang selama ini ditutupi Yatra, akhirnya tercium juga.”

Diana tersenyum simpul. “Bagaimana kalau Yatra tidak berselingkuh? Ia hanya sedang menemui pacarnya.”

Laila menatap Diana bingung.

“Yatra tidak selingkuh dari kau Laila, tapi kau yang jadi selingkuhannya.”

Rasa penasaran Laila kalah dengan rasa tak nyaman di perutnya. Laila menutup mulut dan hidungnya saat wangi itu kembali tercium di udara.

Diana berdiri, ia pamit pulang setelah melihat kondisi Laila.

Namun, sebelum benar-benar angkat kaki dari rumah Laila, wanita itu berkata, “Anggap saja Tuhan sedang berbaik hati padamu.” Bibir tipis berpulas warna merah tersenyum. “Aku pikir kau harus menggunakan indera penciumanmu dengan benar, Laila.”

Sosok Diana menghilang di balik pagar rumah. Wangi melati yang sejak tadi dicium oleh Laila lenyap. Seolah-olah wangi itu tak pernah ada sebelumnya.

Laila mengendus angin dan ia terdiam.

Wangi Diana serupa dengan wangi yang ditemukannya di tubuh Yatra.

 

===

*Elok Cahyaningtyas, seorang freelance writer yang hobinya mendengarkan lagu. Beberapa tulisannya telah terbit dalam buku antologi cetak maupun digital. Kenal lebih dekat melalui akun Instagram : @dephine__

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *