LiteraSIP

18 Mei 2025

Puisi-Puisi M Firdaus Rahmatullah

Oleh M Firdaus Rahmatullah*

 

 

proyek menggenggam hujan

hujan turun siang itu lalu merembes ke kandung kemihmu. seorang tuna mengamen dengan biola besar dan engkau berikan beberapa recehan. dan secangkir kopi yang kupesan tadi pagi membeku di meja warung kopi wifi tapi tak melilit ususku. sebuah charger kucolokkan di salah satu terminal listrik. lantas sebentar kita percaya bahwa jarak adalah belaka.

sementara kusaksikan deras air langit menggenang di jalan, engkau saksikan mesin besi mengebor tanah muda di belakang bukit-bukit tua. bukit lama yang menyimpan kenangan dan cadangan minyak baru. gugusan jati dan pohon kopi merimbun dan berjejalan di sepanjang alur lereng bukit. berapa banyak yang hendak diisap oleh mesin-mesin rakus itu. kendati tak sampai di situ. televisi menayangkan drama korupsi, internet menjejali otak penuh kewarasan, nasi padang membatu di perutmu. kupikir kita generasi milenial kemaruk dan tak tahu diri. mengaku tuhan yang lain di sebuah negeri.

ampas kopi pun mengendap. cukup lama. ada tangis rindu bayi hasil aborsi tetanggamu, sebelum tuntas wajib belajar. ada pendakwah mengaku guru hasil menyimak kitab suci separuh-separuh. ada pejabat negara berkerudung abdi rakyat dan silap membaca undang-undang. ada sawah dan kuburan megah usai dibangun tol di atasnya. ada latu rokok dalam puisimu dan engkau belum sempat menghitung uang di dompetmu.

siang berawan dan udara mendingin. puisi-puisimu bagai telinga yang menguping sejarah namun aku tak lengkap mencernanya. kursi-kursi plastik dan asbak-asbak seng di atas meja berhamburan di dalam celanaku. celana yang kehilangan resleting. dan belum bisa kubawa ke tukang jahit. adapun matahari bersembunyi di balik mendung dan cahayanya engkau curi sore kemarin. bukan aku yang mencuri kutangmu, kutang yang semalam engkau jemur di atas jendela kamar. sebuah kutang beraroma politisi bau kencur di sebuah apartemen tepi pantai yang direklamasi. aku tak punya modus apapun untuk itu, kecuali jika aku mendadak sakit esok hari. jangan engkau bacakan dakwaanmu sebelum sakitku sembuh. jangan, kekasih. aku malu seperti matahari yang malu-malu kucing itu. cukup koran dan televisi yang tahu. jangan istriku yang sedang berlibur di eropa. jangan anakku yang sedang studi di amerika. jangan, kekasih. cukup pengacaraku yang tahu plot ini. dan rencana-rencana mengulang alibi yang mudah ditebak polisi.

biarkan kubawa kenangan di antara derai hujan yang turun,
supaya lekas engkau temukan bianglala di ufuk cakrawala.

 

sesudah hujan di bulan sebelas

sesudah hujan di bulan sebelas, orang-orang dari utara
brantas menjelma mimik: serangga yang mirip nyamuk,
namun lebih gemuk, yang senantiasa terbit menjelang
magrib. mereka melintas kali besar itu dan menuju selatan.
ada sepi yang hendak mereka haturkan kepada orang-orang
di seberang. sebab, api dan cahaya tak pernah mampir di
atas rumah mereka, apalagi sekadar singgah di dalam kamar,
menerangi tiap lekuk dan sudut ruang.

mereka terus menyeberang, nunut getek lelaki sepuh yang
berpuluh tahun takzim mengantar-jemput sesiapa yang
hendak menyeberang ke selatan atau sebaliknya. setiap
tlatah yang mereka lewati, turut semebyar dedaun sengon
di kiri-kanan jalan, menghujani tubuh mereka dengan sisa-
sisa air hujan yang masih menempel di seratnya. tetapi,
mereka tetap melesat membawa-serta sepi nun sunyi
dan abai pada licin air yang bergelimpangan di sana-sini.
sebab sepi itu harus segera disampaikan, supaya kelak tak
memberatkan mizan siapa pun di hari perhitungan kelak.

“bukankah dosa seseorang tidak akan ditanggung oleh
seseorang yang lain, begitu pula sebaliknya,” seseorang
menyela di tengah rombongan itu. dan sepi makin berat
setiap seseorang melangkah (maksudku) terbang sejauh
hasta, karena yakin, seseorang akan merasa jenuh dalam
perjalanan jika tak saling bicara dan melulu diam.
sebagaimana musa yang melulu bertanya kepada
khidir dalam perjalanan spiritual, maka tiada satu jua
dari rombongan itu yang menjawab pertanyaan si penanya.
mereka diam. larut dalam kesepian. juga beban yang maha
yang tak rela mereka sampaikan kepada anak cucu.

 

dalam hutan

ada lagu dalam hutanku
suaranya melipir ke tiap retak tanahmu

dan seseorang mengiris lirih batangnya
mencungkil akar yang tertanam berabad-abad
memunguti daun-daun hijaunya, atau yang rontok
dan berkelebatan sepanjang musim

tapi nyanyi gagu terekam di antara derai tangis anak-anak
pohon. dan tunas-tunas baru di rimbun belukar humus.
sementara kau penyaksi keinginan-keinginan sederhana
orang-orang dari bumi tepian, pergi sebelum penuh muatan.

tiada yang tersisa dari hutanku:

ranting-ranting kering,
patahan dahan kering,
sisa-sisa daun kering,
dan ranahmu yang kering.

kendati rinduku padamu
tak pernah kering.

 

jarak absurd
: usai membaca afrizal malna

jarak absurd antara kau dan aku
serupa sehelai rambut dibelah tujuh
dan tiap belahannya dibelah lagi menjadi tujuhpuluh
kau yang bukan kau sedang aku
adalah aku yang bersemayam dalam kau yang lain
sedang duduk di teras rumah menuntaskan kopi
—puisi—sembari sesekali mengintip senja yang serupa pagi
bukan senja kemarin apalagi hari ini, tetapi
senja yang lain yang mengintip kau dan aku di
sebalik pintu, maksudku, lubang kunci pintu
yang hanya sebesar sehelai rambut dibelah tujuh
dan tiap belahannya dibelah lagi menjadi tujuhpuluh.

kau yang absurd
aku yang absurd

kau dan aku dalam kopi-puisi sedang duduk satu kursi
(bukan duduk satu meja)
melepas jarak dalam lintasan waktu yang singkat
yang memadat seperti kilat yang tak pernah penat
apalagi terlambat arkian terhambat yang dibuat-buat
lantas datang ke warung kopi membawa puisi-sepi
sambil antri mengambil pisang goreng antipuisi
mencoba mengabadikan waktu mengekalkan perjalanan nurani
di antara jarak absurd menuju sepi-pagi-antipuisi.

kau yang absurd
aku yang absurd

sedang bermain-main dengan puisi-absurd.

 

===

*M Firdaus Rahmatullah. Lahir di Jombang, 24 Mei 1988. Menggemari sastra dan kopi. Cerpen dan puisinya pernah tersiar di beberapa media cetak dan daring. Buku tunggalnya Cerita-cerita yang Patut Kau Percaya (Diva Press, 2019), Langit Ibu (Jagat Litera, 2022), dan Sisa Sajak (Hyang Pustaka, 2024). Pada 2015, mengikuti Workshop Cerpen Kompas di Bali. Tahun 2021 beroleh apresiasi GTK Creative Camp Provinsi Jawa Timur kategori penulis buku fiksi terbaik. Berkhidmat di SMKN Mojoagung Jombang sebagai guru Bahasa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *