LiteraSIP

25 Mei 2025

LELAKI ANEH DI SEBUAH KAPAL

Oleh Budi Saputra*

 

 

Pada petang itu, sebuah kapal kayu tampak akan bersiap berangkat ke sebuah pulau. Kapal itu tidaklah terlalu besar. Terdiri dari dua lantai yang cukup memuat 20 orang penumpang. Dari kerumunan penumpang, terlihatlah seorang lelaki yang aneh. Lelaki itu berpakaian kumal serta rambutnya acak-acakan.

Semua mata penumpang tentu saja tertuju pada lelaki aneh itu. Apalagi si lelaki aneh itu membawa sebuah kapak yang sangat tajam. Sebagian penumpang menjadi khawatir. Apakah kapak itu digunakan untuk kejahatan?

“Jangan khawatir. Dia itu tak berbahaya,” ucap seorang lelaki bertopi yang kenal dengan lelaki aneh itu.

“Benarkah?”

“Ya. Ia biasa menolong ibunya cari kayu bakar di Pulau Sama. Walaupun kelihatan bodoh, tapi apapun yang disuruh ia lakukan.” Susul seorang lelaki lain yang tampak menuju lantai dua kapal.

Setelah mendengar kabar bahwa si lelaki aneh tak berbahaya, maka semua kekhawatiran  penumpang lain seketika hilang. Mereka fokus membicarakan hal lain begitu kapal mulai menjauhi dermaga.

Sementara itu, si lelaki aneh memilih duduk agak menjauh. Dia seakan tak peduli lirikan mata penumpang lain terhadapnya. Bahkan ia terlihat bicara sendiri, dan sesekali melepaskan  pandangannya ke luar jendela.

Hal tersebut sebetulnya begitu melegakan bagi penumpang lain. Sebab itu dinilai hal wajar mengingat si lelaki dianggap orang aneh atau kurang akalnya. Namun itu sebentar saja. Sebab tak lama kemudian, si lelaki aneh mulai teriak-teriak seperti komentator sepakbola.

“Gol, gol, begitu cantik gol itu pemirsa.” Ucap si lelaki aneh yang fasih bicara seperti orang normal pada umumnya.

Melihat keadaan demikian, membuat sebagian penumpang heran. Apa gerangan yang membuat si lelaki aneh tiba-tiba seperti komentator sepakbola? Tak lama kemudian, si lelaki aneh pun diam dan mengeluarkan gulungan kertas. Ternyata gulungan kertas itu adalah sebentuk permainan. Tentu saja salah seorang dari penumpang sudah tahu apa yang ada di dalam gulungan kertas tersebut.

Di dalam gulungan kertas itu, ada kata-kata yang harus dipatuhi. Baik itu mengatakan  atau melakukan gerakan sesuatu.

Si lelaki berjaket hitam kini tampak agak tegang. Ia ingin si lelaki aneh itu segera membuka gulungan kertas yang sengaja ia selipkan di saku baju.

Ya, kini sebuah gulungan kertas lain sebentar lagi dibuka. Tak lama kemudian, terdengarlah nyanyian yang begitu merdu. Si lelaki aneh begitu fasih menyanyikan salah satu lagu viral yang membuat penumpang antara terhibur, dan waspada bila sewaktu-waktu si lelaki aneh mengamuk.

Ayo, buka gulungan kertas itu, batin si lelaki berjaket hitam yang kini siap melakukan  aksi.

Sementara itu, penumpang lain kini mulai memahami permainan si lelaki aneh. Mereka seperti penasaran dengan apa yang akan dilakukan si lelaki aneh selanjutnya.

“Ayo buka lagi,” sorak penumpang lain.

Namun hal tak terduga pun terjadi. Setelah membuka gulungan kertas, si lelaki aneh langsung mengarahkan kapaknya ke lantai kapal dengan sekuat tenaga.

“Eh, jangan, jangan. Nanti kita semua tenggelam.”

Para penumpang baik di lantai atas maupun bawah dibuat panik oleh aksi nekat itu. Si lelaki aneh langsung dicegat bersama. Namun tak demikian dengan si lelaki berjaket hitam. Ia langsung memeriksa tas kain yang digantung di dinding kapal.

“Nah, ini cincin emas yang dicari. Kita tak salah orang. Ternyata dia pencurinya.”

 

===

*Budi Saputra. Lahir pada 20 April 1990. Sejak tahun 2008 ia menulis di berbagai media massa seperti Padang Ekspres, Lampung Post, Suara Merdeka, Batam Pos, Lombok Post, Rakyat Sultra, Kompas, Koran Tempo.

Ia merupakan Penulis Emerging UWRF 2012, serta Penulis Kurasi Sibi Kemdikbud 2024 dengan judul buku “Jalan Tropis Puisi”.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *