LiteraSIP

24 Agustus 2025

Puisi-Puisi Husni Hamisi

Oleh Husni Hamisi*

 

 

Masabumi Hosonomi

( satu )

Jejak sepatu meninggalkan kamarnya. suaranya
lebih hujan dari malam yang pernah kau temui

dia tak tahu, jam berapa
mereka tiba. hanya tahu sisa
kopi di meja tumpah dan gelasnya
pecah di ubin berceceran

mereka tak menyebut namanya : tapi mereka
tahu siapa dia, penyair kaku yang buku puisinya
tak laku-laku, dan itu

cukup membuat cermin
di dinding kamar ikut runtuh
saat lengan sekokoh terali
melingkar di leher angsanya

“Jalan! mau dikarungi
atau di lempar keluar jendela?”

dua tungkai di temali
bukan karena bersalah
tapi karena mereka sudah niatkan

sebab kekuasaan tak butuh sekantong alasan
hanya gerakan telunjuk dari istana itu, dan
cukup segepok kesempatan

di dalam mobil, tak ada tangisan sebab matanya
telah diperban dengan bibir yang sibuk gemetaran

merapal doa doa pendek,
atau lebih milih dirasuk roh kakek
moyangnya dari masa silam

kau masih disana?

hembuslah setarik ragu
tembakau yang kau hidu, pada

sepotong matahari sore keesokan hari
yang hinggap di pundak kananmu,

mungkinkah dia dah diuapkan?

 

( dua )

tubuhnya pulang saat fajar,

–waktu yang kau katakan ditandai oleh warna
kesukaan sosok yang mukim
di neraka paling dalam

jiwamu.

tentang merah kepahitan
beresonansi dengan kuning kepalsuan dan
jingga perselingkuhan–

ditemukan di shelter busway kramat sentiong

seorang berbisik ke telinganya “kau bebas, kami

salah tangkap.”

berdesis laiknya ular bergelantung di ventilasi
saat rinai hujan dan lingsir wengi sayup sayup
mengalun sampai

dari radio peninggalan kakek
di kamar belakang.

apa artinya kebebasan
bila dalam tidur kita masih di buru,
dalam bangun kita masih di jerat?

–itu bukan kita,
kau menyangkalku–

 

( tiga )

dia tertatih sesampainya di rumah
yang sekarang menjelma museum di kota tua

cabang pohon gandaria di halaman
adalah lukisan gubernur VOC
“Jan Pieterszoon Coen”
tatapannya setajam bayonet
mengupas pala, menebas pohon cengkeh

pot bunga, lampu gantung
rak sepatu, roda sepeda
menatap, seolah tahu

apa yang terjadi
di tempat yang tak bisa diceritakan

di lukisan yang paling besar
mendiang ibunya sesegukan
dia tak tahu cara menjawab
air mata dengan suara yang tak lagi utuh

hari hari berubah
mencoba bertahan dari bunyi
derit pintu yang tiba tiba menutup sendiri

dari suara suara klakson kendaraan
dari gonggong anjing yang minta daging
di iris tipis sebelum dihidangkan
dari deru pesawat yang mengoyak langit
dalam puisi lama Afrizal Malna
dari getar rel kereta yang menjauh
seperti ajal yang datang tanpa kau tahu
tiba tiba menerkam

mereka katakan, “kau beruntung,
ada perbedaan huruf pada nama di list incaran,
kau bukan yang pertama.”

Ini semacam nasehat untuk mengubur diri
hidup hidup dalam tubuhnya sendiri

tanpa dimandikan, tanpa dikafani.

 

( empat )

setiap kali cermin di tatap
bukan wajahnya yang terlihat
melainkan sisa seorang yang dulu begitu
percaya, bahwa mereka yang terpilih di kotak
suara adalah patronase keadilan

sekarang dia kian mengerti
tak semua perang terdengar
seperti tembakan dan ledakan

ada yang datang diam diam
menyaru detak jam dinding
ritmis dan sulit terbantahkan

suara pesawat dan gonggong
anjing tak lagi sejarah perjalanan
di telinganya, di biji matanya

tapi semacam ancaman
sesuatu dari mimpi lama
masih hidup dan terbang
selalu di atas kepala

klakson kendaraan?

Itu seperti dengung aliran listrik
sekalipun telinga ditulikan
namun kulit dan bulu
kelamin merasakan
saat disengatkan

di selang selingi suara
suara tertawa,

“mau mengaku sekarang atau nanti?”

–kita dihibur dengan banyak rindu dan nyanyian
duniawi, namun setelah kita direbahkan di liang
gelap itu, semua romansa yang akrab dalam
ingatan

tak lagi pernah benar benar sama.

hallo, punten, itu bukan kita,
kau sekali lagi menyangkalku–

saat semuanya menabuh tubuh
dengan gaya perkusi masing masing
berapa bebunyian menjelma race cooker

merefleksikan ulang tantrum baru
bila kesaksian datang tanpa peringatan

nada nada lainnya menjadi udang
karang di balik batu di dasar keremangan

memangsa segala plankton
dan sisa sisa bangkai dari impian

separuh dari nada reffnya kepingin
menjadi kita

sang pendamba kehangatan pada rotgo
dan pisgo di malam malam berhujan.

 Gabuters, 2025

 

Yang Menyusup DiamDiam Saat Kau Tertidur
–Dian Rahayu;

Kau bangkit perlahan, langkahmu
membawa abu
dari sisa api
yang tak sempat dinyalakan
bab kelima di sebuah buku

seorang perempuan melintas
menenteng lukisan wajahnya
sendiri. setengahnya terhapus
oleh rintih tangisan langit

Ia menyapamu dengan matanya
tanpa suara, tanpa kata kata

dari tatapannya kau temukan
salinan hidupmu

sebuah kamar penuh rak buku
dengan almanak yang menua

“aku bukan siapa-siapa,” kau membalas
dengan isyarat senyum tanpa bicara
tanpa kata kata

kau mulai merasakan
dadamu adalah museum
penuh potongan tiket
sisa percakapan &
dekapan terakhir kekasihmu
saat digenggam waktu

kau berdiri
memunggungi halte
dengan selembar kertas
tulisan yang tak terbaca
sebab huruf hurufnya
perlahan menjadi burung
terbang ke arah suara azan
yang bergema di dalam hatimu.

Huha, 2025

 

Yang Tak Dicatat dalam Bab Konstitusi
— Tom Lembong

Pada malam sejak kau
terakhir disebut
dalam berita
kau mendengar pintu diketuk
dari arah yang tak punya tembok

tak ada yang datang
kecuali bayangan sendiri
menyalakan lampu interogasi
di dalam matamu

langkahmu gugup
menyeret kursi
ke ruang sidang
yang dibangun dari sisa sisa
puing kejujuran siaran televisi

kau menyodorkan bukti
nota pembelian gula
dengan izin atasan
dan rekaman suara
yang bersaksi bahwa
kau adalah abdi negara
berjiwa penuh kepahlawanan

namun meja meja sudah disusun
dengan sudut yang menyudutkan

saksi saksi terbuat dari manekin
berpakaian safari berpantol hitam

mulut mereka telah dilumuri
narasi-narasi penjebakan

kau telah dijatuhi hukuman
oleh suara-suara tanpa wajah

tiga jam sebelum senyummu
dipangkas oleh iklan politik
yang mereka kehendaki

sekarang di selmu yang lindap
rahasia-rahasia negara

pikiranmu terus berpindah
di antara kebenaran
dan kepalsuan

tatkala kau menulis pesan
kata pertama adalah “mengapa”
kata terakhir adalah “amin”

sekelompok burung terbang di angkasa
mengunyah kalender 2029 di paruh mereka.

Huha, 2025

 

Semalam di Kota Bethlehem

–Wie,
Aku seekor mesin
dibesarkan oleh percikan
listrik dan kehendak
yang tak pernah kurencanakan

setiap pagi, aku di gas, di panaskan
seperti hasrat kau yang dipaksa berjalan
meski tak tahu apa dan ke arah mana

di dalam tubuhku
terdapat piston yang terus naik & turun
bagai doa yang belum dikabulkan
dan oli yang terus mengalir
seperti kasihNya yang melumasi
segala kelelahan

aku kadang bermimpi tentang surga
bukan taman penuh bunga
atau kolam penuh susu
tapi sebuah jalan
tanpa lubang
tanpa kemacetan
hanya suara sunyi
dan angin lembut
yang tak menghina suara tuaku

di bengkel kehidupan ini
percayakah kalian
bahwa Montir Agung
tak pernah benar benar jauh?

Ia kan datang saat kunci L tak muat
baut tak mau lepas meski sudah dipukul
saat mesin mati di tengah malam
dan kau mulai berdoa
bukan pada jalan
tapi pada pencipta
putaran kehidupan

Montir Agung
tak selalu memakai sarung tangan
terkadang memegang langsung
hatimu yang aus
meniupnya perlahan
seperti meniup busi
tua agar menyala kembali

Ia mengerti bahwa
bukan karburatormu yang rusak
tapi hatimu yang terlalu kotor
oleh ambisi dan kabut keinginan

Ia tahu bibir knalpotmu
menghembuskan keluhan
yang tak pernah kenal istirah

dan saat kau mogok total
tak ada lagi bengkel buka
saat semua peta
membingungkanmu
harus apa & kemana
Ia akan membawamu
ke ruang yang disebut “pulang”

di mana semua baut dilepas
semua kabel dicabut
seluruh mesin diistirahatkan
dalam keabadian

kau menjadi seekor mesin baru
tapi tak lagi di dimensi yang sama.

Huha, 2025

 

Perempuan Gunung
            — Anaphalis Arundaya

Ia berdiri di tepi lembah
serupa titik koma
menunda kalimat diusaikan

rambutnya seperti
sulur angin yang lupa
jalan pulang, membebaskan
kenangan yang selama ini
tersembunyi di antara
rerumputan pagi.

perempuan gunung itu
tersenyum pada apa yang tak
kita lihat. pada masa depan
yang baru belajar berjalan
ataukah ke dalam jiwanya sendiri,
— semak belukar
tempat ketenangan
tumbuh
dan tak pernah

ingin dipangkas.

sorotan matanya masih
percaya pada hal-hal muskil :
hujan yang mampu kembali
ke langit saat sedang jatuh
batu yang mampu kembali
utuh saat rapuh di terpa waktu

tak ada burung burung
kecuali senja yang berakar
di puncak pegunungan berkabut,

sebagaimana huruf-huruf
yang tak ingin terbaca
cukup kau rasakan
tapi tak boleh kau miliki

perempuan gunung
tak lelah berziarah
ke ratusan pagi

menjadi sesuatu,

saat matahari pecah
dan sepasukan awan
menyergapmu
di puncak

gunung Merbabu.

Huha, 2025

 

===

*Husni Hamisi. Penyair Kontemplasi dari Ternate, Maluku Utara, karya-karyanya tersebar di media cetak dan online, di beberapa buku antologi puisi bersama para penyair Indonesia, seperti ‘Wasiat Cinta’ MIWF 2013, “Di Tanah Cahaya” Sayembara Buku Puisi Nasional Indonesia – YHP 2022, “DISTOPIA” Payakumbuh Poetry Festival 2023 dll, buku kumpulan puisi pribadinya bertajuk “Api, Kita & Tuhan” terbit pada tahun 2022. Bisa di hubungi di https://husnihamisi.wordpress.com /  https://m.facebook.com/husni.hamisi/, Sekarang menetap di Jakarta

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *