LiteraSIP

12 Oktober 2025

Puisi – Puisi S. Sigit Prasojo

Oleh S. Sigit Prasojo*

 

 

Bayang di Air

Petang tiba tanpa suara,
hanya pantulan langit
di permukaan air
yang perlahan berubah warna.

Aku melihat diriku di sana—
tak utuh,
bergetar karena angin,
tapi tetap mencoba tenang
meski tak tahu arah riak selanjutnya.

Barangkali hidup seperti itu:
kita tak pernah tahu
mana wajah, mana bayang,
tapi terus berjalan,
karena diam tak pernah
mengantar siapa pun pulang.

Ponorogo, Juli 2025

 

Langit Asam

Senja bukan hanya warna,
ia adalah rasa
yang tinggal setelah semuanya selesai.

Langit mencicip getir,
sebelum redup
mengunci pintu langit.
Angin menggulung sisa siang
dan meletakkannya
di pangkuan pohon-pohon tua.

Aku menoleh
ke arah di mana engkau pergi—
bukan untuk mencari,
tapi memastikan
bahwa kehilangan
masih bisa kurasa
tanpa harus menyebut nama.

Ponorogo, Juli 2025

 

Embun

Pagi tak langsung datang,
ia mengendap
di kelopak rumput
dan pelipis waktu.

Embun bercerita tanpa suara—
tentang malam yang tak rampung
dan doa yang belum berani mekar.

Aku menatap langit
yang masih pucat dan penuh ragu,
seperti hatiku
yang selalu ingin percaya
tapi sering disergap sunyi.

Barangkali hidup memang begini:
mengulang luka
dengan harapan
bahwa suatu hari,
yang tumbuh bukan duka
tapi cahaya.

Ponorogo, Juli 2025

 

Sungging Angin

Angin turun dari bukit,
menyapu rumput
seperti tangan ibu
menepuk pelan punggung resahku.

Di antara dedaun
ada suara kecil
seperti pesan dari langit—
bahwa tidak semua yang ringan
berarti tak punya beban.

Aku ingin sejenak
menjadi angin:
tak punya rumah,
tapi tahu arah.

Ponorogo, Juli 2025

 

Jaga

 Malam tak selalu gelap,
kadang ia terang
oleh sesuatu
yang tak pernah dijelaskan.

Bintang tak bersuara,
tapi dengannya
aku belajar mendengar:
getar yang lebih halus dari doa,
dan janji yang hanya bisa dirasakan
jika kau duduk cukup lama
dalam diammu sendiri.

Aku tetap terjaga,
bukan karena takut lupa,
tapi karena ada yang kutunggu:
diriku
yang perlahan kembali
dari riuh dunia
ke peluk sepi yang utuh.

Ponorogo, Juli 2025

 

===

*S. Sigit Prasojo lahir di Ponorogo, 25 Juli 2001. Ia adalah santri di Pondok Pesantren An-Najiyah Ponorogo, aktif di Himpunan Penulis Mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo, dan menjabat sebagai Wakil Ketua HMPS Pendidikan Bahasa Jawa. Pernah menjadi juri Cipta Puisi FLS2N 2025 serta meraih berbagai kejuaraan kepenulisan tingkat nasional. Ia tergabung dalam komunitas sastra seperti Partey Penulis Puisi dan Aksara Malaysia. Karyanya telah dimuat di berbagai media sastra nasional, baik cetak maupun daring.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *