19 Oktober 2025
Puisi-Puisi Diana Rustam
Oleh Diana Rustam*

Sunyi yang Tersisa
Di sudut malam
ada sepotong cahaya lampu jalan
yang tak pernah lelah menunggu.
Ia berdiri sendirian
menyaksikan orang-orang lalu-lalang
tanpa sempat menoleh padanya.
Aku ingin seperti lampu itu:
tetap berdiri di sana
meski tak ada siapa pun
yang benar-benar peduli
apakah aku akan padam
atau tetap bertahan.
Makassar, 2025.
Hujan di Jendela
di luar
hujan menulis sesuatu
di kaca jendela:
namamu,
lalu segera dihapusnya sendiri
aku duduk di dalam
membaca ulang kesunyian
dari rinai yang berulang-ulang jatuh
seperti jam pasir yang tak pernah letih
mengukur jarak
antara kau dan aku
di teras rumah
seekor kucing kecil berlindung di bawah meja
tubuhnya menggigil
tapi tetap percaya
pada hangat yang entah dari mana
akan datang.
Makassar, 2025.
Sebuah Sore yang Biasa
Di halaman rumah
daun mangga jatuh begitu saja
sunyi—senyap
seperti enggan membangunkan siapa pun.
Angin menyinggung tirai jendela
membuatnya meliuk sebentar
lalu berhenti
seperti seseorang yang lupa tujuan perjalanan.
Kau duduk menunggu sesuatu
yang mungkin segera datang:
barangkali hujan
barangkali kenangan.
Sementara waktu
seperti seekor kucing malas
hanya berbaring di pangkuan bumi
dan pura-pura tidur.
Makassar, 2025.
Hujan di Halamanmu
Aku ingin menyapamu
seperti embun yang singgah di pucuk rerumputan
tak deras, tak riuh
hanya hadir begitu saja
sebelum kau sempat mengedipkan mata.
Waktu tak pernah bicara
tetapi aku memahaminya:
di sela langkahmu yang terburu
di kerling cahaya yang hampir padam.
Barangkali kau tidak tahu
aku selalu menitipkan namaku
pada bayangan pohon yang melambai
pada angin yang senang mengembara
agar suatu hari
kau bisa membacaku
tanpa perlu membuka buku apa pun.
Makassar, 2025.
Sebuah Nama di Angin
Ada yang berkelebat pelan
di antara suara angin sore ini:
mungkin sekadar dedaunan yang jatuh
mungkin juga namamu
yang diam-diam singgah
lalu hilang.
Aku mencoba memungutnya
tapi angin tak pernah bisa digenggam
ia hanya menitipkan rahasia
kepada waktu
yang berjalan tanpa suara.
Dan aku pun mengerti
ada hal-hal yang hanya bisa disimpan
bukan dimiliki.
Makassar, 2025.
===
*Diana Rustam, menulis puisi dan cerpen. Tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan.