LiteraSIP

26 Oktober 2025

SUMPAH SEMUT MERAH

Oleh Rosyid H.W.*

 

 

“Ma-ling!”

“M-a-l-i-n-g!”

Usman menerabas bunga-bunga semak dan menabrak tepi pagar. Dalam semenit, ia memaksa kaki-kakinya untuk bergerak 1.315 langkah. Nafasnya terengah-engah. Punggungnya berkeringat basah. Ingin rasanya ia terus berlari dan berlari dan berlari. Tetapi ia bukan penombak babi yang mahir berlari. Satu dari tiga pengejarnya semakin mendekat—hanya tiga puluh senti dari pundaknya.

Ia terus memacu, tetapi pemburunya lebih bernafsu hingga mampu membuatnya ambruk tersuruk. Tanpa ba bi bu, pukul gebuk langsung mendarat. Tendang terjang lekas menghantam. Dengan tubuh beringsut—kaki dan tangan dan punggung tertekuk, Usman berpikir: ah, semut, kau mengantarku ke liang kubur.

***

Hari itu, di usianya yang ke 47 tahun, 1 bulan dan tiga hari, Usman berangkat bekerja seperti biasanya. Pakaiannya tidak pernah berubah: topi pelindung panas, syal penutup leher, kaos lengan panjang, jeans sobek-sobek dan sepatu boot.

Berbekal tiga galah, Usman menyusuri kebun dan ladang dan sawah. Matanya bergerak dari pohon ke pohon, menatap awas rimbun dedaunan dan membidik sarang rangrang. Telur-telur semut rangrang tujuannya. Ia biasa menyebutnya berlian.

Usman pertama kali mengenal rangrang saat kaki-kakinya sudah cukup kuat memanjat batang mangga setinggi tiga meter. Waktu itu, ketika ia bertengger di dahan yang cukup tinggi, seekor rangrang berhasil masuk celananya, merambati selangkangannya dan menggigit zakarnya. Ia menjerit, lalu terjerembab jatuh di atas tanah. Bukannya kesakitan meringis-menagis, ia malah tersenyum terkagum-kagum. Hewan sekecil itu mampu menumbangkan makhluk yang ratusan kali lebih besar darinya.

Kekagumannya pada rangrang turut bertumbuh seiring dengan pertumbuhan usianya. “Rangrang adalah seniman,” tuturnya pada suatu siang terik di gubuk pematang.

Lima teman sebayanya secara seksama mendengarkan celotehannya.

Rangrang mampu menganyam berbagai bentuk daun dari segala pohon untuk menjadi rumahnya, lanjutnya. Mulai dari rambutan, mahoni, mangga, gayam dan akasia. Tak peduli serendah mata kaki atau setinggi langit, rangrang mampu menganyam sarang. Angin atau hujan atau petir bukanlah halangan.

Usman bahkan pernah menemukan sarang kroto super jumbo sepanjang satu setengah meter. Bayangkan! Makhluk semungill itu mampu membuat rumah satu setengah meter!

Pada ulang tahunnya yang keempat belas, Usman bermimpi didatangi ribuan rangrang. Bergotong-royong, mereka menggotong tumpeng nasi kuning lengkap: seekor ayam bakar utuh, sewakul mie goreng, sepiring oseng kentang-tahu-tempe, lima belas butir perkedel dan selepek sambal pedas.

“Ini pesan Tuhan,” katanya selepas membuka mata.

Itulah saat ia memutuskan untuk tak hanya mengagumi rangrang, lebih daripada itu, ia menggantungkan hidup darinya. Ia berburu telur rangrang yang tidak hanya dicari para pemilik burung murai atau kenari atau kutilang, tetapi juga pemancing ikan dan peternak lele. Tak perlu setahun, Usman telah menjelma pemburu kroto paling handal di desanya. Ketika sesama pemburu hanya mampu mengumpulkan setengah kilo kroto per hari, ia telah mampu membawa pulang dua kilo.

“Serangan ratusan angkrang pun tak akan memerahkan seinci kulitku,” Usman berkoar-koar.

Bagi Usman, berburu kroto tak sesederhana memanen telur cicak, tetapi ia mampu menjelaskannya secara ringkas dalam tiga langkah. Pertama, temukan sarang rangrang; kedua, letakkan galah penadah di bawahnya; ketiga, tumpahkan telur rangrang dengan galah. Maka, kroto putih-putih akan dengan sendirinya berguguran ke dalam penadah seperti butir-butir beras tumpah. Ia tak akan menjelaskan apabila, ketika telurnya dipanen, rangrang berubah liar dan agresif hingga mampu meloncat dan terbang lalu menyerangmu tanpa ampun. Ia tak menyertakan barangkali sarang terlalu tinggi hingga kau tak mampu melihat dengan jelas. Ia tak menambahi jika angin dapat memporak-porandakan sarang—saat kau memetiknya, hingga sarang jatuh tepat di atas kepalamu.

“Berburu kroto itu semudah kencing berdiri!” ujarnya kepada para pemburu muda. Buktinya—ia berkoar-koar, sehari ia dapat menjual dua sampai tiga kilogram per hari. Dengan harga 130.000 per kilo, ia lebih memilih pemburu kroto daripada jadi tukang atau guru atau kuli atau penatu. Bagi Usman, rangrang adalah berkah.

Saat menginjak usia kenabian, Usman mulai berpikir bahwa berburu telur rangrang tidak lagi sekedar mencari penghidupan, tetapi juga belajar kehidupan. Tak hanya sekali atau dua kali atau tiga kali, ia mendapati satu pohon dengan tiga sarang. Tak jarang pula, ia tiba-tiba menemukan seekor burung kepodang; setandan pisang; dan seonggok pepaya matang. Itulah saat-saat petuah alam tercurah. Hatinya harus kebak rasa syukur, batinnya.

Itulah saat tanda zaman terlihat. Kebun-ladang-sawah berkurang, batang-batang pohon ditebang dan rumah-perumahan didirikan. Sehari, hanya tiga hingga empat ons kroto yang ia hasilkan. Namun, kadar cintanya pada rangrang tak pernah berkurang.

Itulah masa-masa ia didera mimpi buruk selama tiga puluh hari. Ia menemukan dirinya terlentang di tepi ladang di bawah rindang mahoni. Ia tak sadar telah melakukan apa. Intinya, tubuhnya letih sekali dan ia tak mampu menggerakkan kepala dan tangan dan kakinya. Tiba-tiba, seekor rangrang jatuh dari langit. Tepat di pelupuk matanya. Lalu, entah dari mana mulanya, semut-semut lain berdatangan. Awalnya dua, kemudian tiga, lalu lima. Kini, telah ada ratusan, mungkin juga ribuan semut—ia tak mampu bergerak, apalagi menghitung—mengerubungi tubuhnya. Kaki-kaki semut bergerak ke sana ke mari. Geli tertahan. Entah siapa yang memerintah, ratusan semut tersebut sekonyong-konyong menggigit serempak. Seolah-olah aliran listrik sebesar 6600 Volt Ampere menyengat tubuhnya. Menggelepar-gelepar lalu terkapar, ia seperti seekor klarap sekarat.

“Aku akan berburu kroto hingga mati,” sumpahnya pada sinar matahari pertama keesokan harinya.

Usman terlampau tahu istrinya masih perlu membeli beras, minyak dan telur. Ia teramat paham anak semata wayangnya masih membutuhkan seragam, buku dan sepatu.

***

Hari itu, berbekal dua kawat, Usman telah menyiapkan prosedur perburuan telur rangrang secara matang (seperti yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun). Harapannya, semut yang liar berlarian dapat dikendalikan dan tak berhamburan ke rumah penduduk.

Namun, saat mendongkel rumah rangrang, pergelangan tangannya tiba-tiba bergetar. Galah pun bergerak tak sesuai perintah. Sarang bukannya jatuh ke wadah penadah, malah meluncur ke atas genting.

“Mati aku!” batinnya.

Usman langsung bergegas memanjat atap, demi mengais kroto yang telah ambyar, sekaligus mengusir rangrang yang menyebar. Naasnya, saat ia memungut butir kroto terakhir, genteng yang ia pijak ambrol hingga kaki kanannya terjerumus ke dalam atap. Yang lebih naas, salah seorang penduduk, memergokinya.

Lelaki yang tak ia kenal dan tak mengenalinya. Disetir insting paling purba, lelaki itu  berteriak sekencang-kencangnya: M-A-L-I-N-G.

Lima lelaki lain langsung berdatangan. Usman langsung meloncat dari atap dan berlari ke arah utara, ke arah barat dan ke segala arah.

Hari itu, di usia Usman yang ke 47 tahun, 1 bulan dan tiga hari, sumpahnya dikabulkan zaman. (*)

 

*) Sidoarjo, 28 April 2025

 

Istilah  :

klarap  : cekibar jawa, sejenis cicak yang mampu terbang.

 

===

*Rosyid H.W. Lahir dan tinggal di Sidoarjo. Kumpulan cerpennya Rembulan di Bibir Teluk dan Cerita Lainnya [Pelangi Sastra, 2021].

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *