23 November 2025
Puisi-Puisi Zajima Zan
Oleh Zajima Zan*

Rakam
Aku temukan Rakam, desa yang lahir dari suara seorang perempuan pada subuh yang masih muda.
Dalam hatiku, dunia sedang diperbaiki ulang oleh Tuhan;
Bila cinta sebening langit, maka yang kutemukan di desa itu adalah perintahnya;
“bangun! dunia sedang mencatat namamu.”
suara yang kemudian menjelma bintang yang masih bertahan sampai langit terang.
Rakam, 2019
Rumah Kita
Dinding rumah kita sudah berbecak kenangan. Dalam kamar kau tak lagi ada, hanya tinggal nama anak yang sempat kita rancang. Ada lemari terkelupas dan galeri foto masa remaja. Ada sisa bayang yang segera diasingkan. Cincin emas yang sudah kehabisan waktu dan mimpi yang urung dirawat.
Di luar rumah–jauh dari harapan–aku lihat dirimu membuang lidah yang dulu sering mengucap nama kita
Rakam, 2019
Pada Suatu Magrib
Magrib yang hujan. Ruang-ruang memejamkan mata
Lampu yang kedinginan, berwarna debu
Kita hanya diam. Sebab malam akan kekal
Kita padam dan esok pagi akan tertinggal
Lendang Nangka, 2019
Setiap Malam
; di Rumahmu
Setiap aku duduk di berandamu, selalu kau hidangkan sebuah puisi. Mendidih dan masih hangat.
“Teguklah sayang, sebelum daun-daun di pekarangan dingin oleh kenangan. Agar tubuhmu mengerti kenapa esok tidak pantas diterka dan direncanakan.”
Aku pun terjaga setiap malam. Kepalaku mengarang segala sesuatu yang belum ditemukan; harapan yang ditertawakan Tuhan, mimpi yang diremehkan manusia.
Tapi, kelak bukan bagian dari harapan kan? Maka sebelum daun-daun di perkarangan dingin karena kenangan, aku teguk saja puisi ini–biar aku mendidih dan segala kecewa menguap ke angkasa.
Rakam, 2019
===
*Zajima Zan, lahir dan menetap di Aikmel, Lombok Timur. Menebus hasrat menulisnya dengan tetap aktif bergiat dalam program-program sastra milik Komunitas Rabu Langit, komunitas nirlaba dan berpengaruh di Lombok Timur. Karya-karyanya bisa ditemukan di media cetak dan media online. Buku pertamanya Panorama (2025).