LiteraSIP

30 November 2025

Senyum Getir di Simpang Lima

Oleh Tin Miswary*

 

 

Sisa-sisa hujan masih membasahi jalan raya, emperan toko dan beberapa tiang listrik yang berdiri tegar. Tempias air langit itu juga meninggalkan jejaknya di dinding rak martabak milik lelaki itu, lelaki yang dulu kerap menampakkan wujudnya di Simpang Lima.

Tangannya yang keriput tampak sibuk membersihkan sisa-sisa hujan serupa bintik yang menempel pada rak kaca yang dipenuhi telur. Ketika kaca itu kembali terlihat bening, dia menyalakan api kecil, memanaskan wajan besi berbentuk lingkaran yang menguar aroma gosong bersama asap membura.

Aku mengenal lelaki itu lima tahun lalu, ketika dia masih memakai seragam polisi dan berdiri gagah bersama peluit di Simpang Lima. Di sana dia sering menilang para pemotor yang melanggar lalu lintas. Dan, dari kabar yang kudengar, ketika rokok Surya di kantongnya tinggal sebatang, dia akan menilang siapa saja, meskipun mereka memakai helm, membawa SIM dan STNK.

Kata orang-orang, dia akan memeriksa apakah spion sudah terpasang dengan benar, apakah platnya miring, atau apakah roda motor memiliki tutup pentil. Dia memeriksa motor-motor malang itu dengan tekun. Ketika semuanya terlihat beres dia akan bertanya kenapa motor berlari terlalu kencang. Dia baru berhenti ketika si pemilik motor memasukkan sesuatu ke dalam saku seragamnya. Saat itulah senyum dingin mekar di bibirnya, begitu cerita yang kudengar.

Dulu, aku memang sering menyaksikan lelaki itu berdiri di sana, di Simpang Lima yang riuh dengan bunyi kendaraan yang saling bertengkar. Aku melihatnya dari seberang jalan, dari sebuah café, tempat aku menghabiskan hari-hariku sebagai tukang parkir. Aku melihat dia memeriksa para pengendara di sana tanpa mengetahui isi percakapan mereka. Suara kendaraan lalu-lalang di jalan raya sudah cukup membuat telingaku penuh dan tak mungkin menampung suara-suara halus dari mulut lelaki itu. Aku seperti menonton siaran televisi yang sepikernya rusak. Hanya ada gambar yang bergerak-gerak dan mulut komat-kamit.

Saat matahari bertengger di puncak langit—dia akan menaiki motornya, dan lalu menyeberang ke arahku. Saat itulah kami saling menyapa. Aku memberi aba-aba di sebelah mana motornya harus diparkir. Lalu kami pun bersalaman layaknya teman dekat yang sudah lama terpisah.

Di café itu, dia memesan kopi dan sepiring martabak telur. Sebelum menyesap kopi yang kemudian membasahi kumis tebalnya, dia akan tersenyum ke arahku. Senyum yang begitu teduh. Tak jarang dia mengajakku duduk bersama sembari berbincang tentang banyak hal, bertukar kisah tentang kehidupan masing-masing.

Kami semakin akrab ketika pada suatu sore yang redup aku melihat dia dengan susah payah mendorong motornya ke café. Saat itu ban motornya mengempis, seperti perut kucing habis beranak. Aku menawarkan diri untuk menambal ban motor itu pada sebuah bengkel, dua ratus meter dari café. Dia setuju dan berterima kasih ketika 30 menit kemudian aku menyerahkan kembali motornya. Katanya, sore itu adalah hari terakhir dia bertugas sebagai polisi lalu lintas dan akan segera memasuki masa pensiun. Keesokan harinya dia pun tak muncul lagi di Simpang Lima, hilang seperti hantu disambar cahaya.

Dua tahun berlalu, aku kembali bertemu lelaki itu di sebuah apotek pusat kota. Saat itu ia sedang membeli perban untuk merawat luka kaki istrinya yang mengidap diabetes. Ia mengaku baru saja menjajakan bu prang di warung-warung pinggiran kota, demi mendapatkan uang membeli obat.

“Aku harus mencari sampingan,” katanya dengan suara bergetar.

Lalu dia menceritakan tentang kesulitan hidupnya setelah pensiun, tentang istrinya yang sakit dan tentang uang yang tak pernah cukup. Dia harus membiayai tiga anak laki-lakinya yang sedang menempuh kuliah di Kotaraja, dan seorang anak perempuan yang ngotot ingin kuliah di fakultas kedokteran.

“Gaji pensiun kecil sekali,” keluhnya padaku, dan sebagai tukang parkir, tentunya aku tak mampu memberinya motivasi.

“Selama ini aku menjajakan bu prang di kedai-kedai. Tapi, hanya sedikit yang laku. Banyak kedai yang menolak.”

Saat mengatakan itu, mata lelaki itu memerah, seperti ada bara yang bersembunyi di sana. Tapi, seperti biasa, aku tak merespons, hanya tersenyum getir. Dan, memang, aku sering mendengar gosip dari beberapa pemilik warung di kota ini.

“Dulu dia suka sekali memalak orang-orang di jalan raya.”

“Coba kalian pikir, surat-surat sudah lengkap, tapi dia masih mempermasalahkan asap knalpot yang tidak simetris.”

“Lihat saja perutnya … pasti isinya api. Ya, api neraka.”

Begitulah omelan yang keluar dari mulut orang-orang dan lalu hinggap di telingaku. Ingin rasanya aku membantah, memberi alasan, tapi siapa yang akan percaya? Lagi pula aku sendiri tak memiliki motor dan tak pernah kena tilang.

Tapi, aku tahu lelaki itu orang baik, ramah dan suka tersenyum. Dia sering mengajakku makan dan minum di café. Sesekali dia juga memberiku uang. Soal dia sering menilang orang di jalan raya, itu karena mereka melanggar aturan lalu-lintas, begitu pengakuannya padaku bertahun-tahun lalu.

Aku yakin dia jujur dan tidak bohong padaku. Tak mungkinlah orang baik seperti dia menilang orang sembarangan. Kalau pun sesekali dia menerima uang dari pengendara, aku pikir itu wajar. Toh dia bermaksud baik agar mereka tak sibuk-sibuk harus ke pengadilan. Harusnya mereka berterima kasih, bukan justru menuduhnya macam-macam.

***

Malam ini, di antara sisa-sisa gerimis, lelaki itu kembali melempar senyum getirnya padaku, seraya membersihkan tempias hujan yang hinggap di rak kaca, tempat ia menjejerkan telur ayam yang nantinya akan diaduk dengan daun bawang, sedikit garam dan lalu dibungkus canee. Aku yang baru saja tiba di kedai itu membalas senyumnya dengan anggukan kecil, dan lalu merapikan beberapa sepeda motor yang berserak seperti daun-daun mangga di depan kedai.

Dia mengibaskan tangan, memanggilku untuk mendekat. Aku melangkah pelan dan duduk di sebuah kursi, tak jauh dari wajan martabak yang mengembus udara panas.

Dia mendekat dan lalu berbisik, “Martabakku belum laris dan tidak pernah laris. Sepertinya setelah malam ini aku akan berhenti jualan.”

Raut muka lelaki itu terlihat datar, tidak ada ekspresi apa-apa. Aku pun mengangguk sembari menahan sebak yang saling menghantam di dadaku sendiri. Aku ingin membantu, tapi hidupku sendiri sedang ditindih.

Dan ketika aku hendak kembali ke parkiran, merapikan motor-motor yang datang, dia menarik tanganku, kembali berbisik, “Tapi, aku ada kabar gembira,” ujarnya dengan suara tertahan, “anakku yang besar sudah jadi polisi lalu lintas sekarang.”

Dia mengatakan itu dengan napas terengah. Raut wajahnya yang tadi sehitam wajan, kini seterang purnama. Aku melempar senyum, berjalan pelan ke parkiran bersama gerimis yang kembali turun, menghantam kepalaku seperti batu-batu kecil.

 

Catatan:

Bu prang: nasi kucing

Canee: roti canai

 

===

*Tin Miswary, menulis esai, cerpen dan resensi buku. Menetap di Bireuen.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *