LiteraSIP

22 Januari 2026

Sisa Air

Oleh Juni Sara*

 

 

Sungai itu dulu jinak. Orang-orang kampung menyebutnya Batang—tempat anak-anak mandi sore dan perempuan mencuci kain sambil bertukar kabar. Kini ia datang tanpa suara permisi, membawa batang kayu, potongan seng, dan doa-doa yang tak sempat selesai.

Namaku Rantau. Anakku memanggilku Mak.
Suamiku, Marwan, tidak pulang sejak malam hujan itu.

Hujan turun berhari-hari, seperti ada yang sengaja mengosongkan langit. Dari rumah panggung kami, aku melihat air naik pelan, lalu cepat. Bukit di seberang kampung terlihat botak—tanahnya merah, telanjang, seperti luka yang tak ditutup perban.

“Air tak begini dulu,” kata tetangga-tetangga.
“Bukit itu sudah habis,” sahut yang lain.
“Kemarin sudah ditebang pohonnya, katanya untuk rakyat.”

Kata rakyat jatuh berkali-kali, tapi tak pernah sampai ke dapur kami.

Marwan sebenarnya sudah lama resah. Ia sering pulang dengan wajah keras, menenteng karung pupuk yang makin mahal, hasil panen yang makin tipis.

“Mereka bilang ini pembangunan,” katanya suatu sore. “Tapi kenapa yang rusak selalu ladang kita?”

Ia menyebut nama-nama: izin, tanda tangan, rapat. Ia juga menyebut alat berat yang masuk malam-malam, suara sinso yang lebih nyaring dari azan subuh.

Aku menyuruhnya diam. Di kampung kecil, terlalu banyak bicara sering berujung panjang.

Malam banjir itu, Marwan nekat turun ke sungai. Ia bilang hendak membantu orang-orang di hilir, tempat air pertama kali meluap karena longsor dari bukit yang sudah tak berakar.

“Dek, air begini bukan salah hujan,” katanya sebelum pergi. “Ini salah orang-orang yang menebang sambil bicara atas nama kita.”

Aku menunggu dengan doa yang patah-patah.

Pagi datang bersama lumpur setinggi betis dan kabar yang berlapis-lapis. Ada yang selamat. Ada yang hilang. Ada yang ditemukan tanpa nama.

Jenazah Marwan ditemukan tiga hari kemudian, tersangkut di pohon karet yang tumbang. Sungai mengembalikannya dengan diam, seolah tak ingin ikut bersaksi.

Setelah bencana, kampung kami ramai oleh rompi dan kamera. Ada yang datang membawa bantuan, ada yang datang membawa janji. Spanduk dibentangkan: Pemulihan untuk Rakyat. Kata itu lagi—rakyat—digunakan seperti penutup mata.

Tak ada yang menyebut bukit.
Tak ada yang menyinggung izin.
Tak ada yang menyebut penebangan yang membuat tanah kehilangan genggaman.

Aku dipanggil ke balai desa. Seorang lelaki berjas rapi bicara panjang tentang keadaan alam dan cuaca ekstrem. Aku mendengarnya seperti mendengar hujan: jatuh, tapi tak pernah menyentuh.

“Bukit itu ditebang siapa?” tanyaku pelan.

Ia tersenyum, senyum orang yang terbiasa tidak menjawab.
“Itu demi kepentingan bersama, Mak.”

Aku pulang membawa kalimat itu seperti batu di dada.

Beberapa bulan berlalu. Hujan masih sering turun, tapi rasa takut lebih dulu datang. Orang-orang menanam apa saja yang bisa menahan tanah: pisang, singkong, doa. Anak-anak tak lagi mandi di sungai. Batang berubah jadi garis ancaman.

Pada suatu sore, aku naik ke bukit yang tersisa. Dari sana terlihat jelas bekas-bekas alat berat, tanah terkelupas, akar yang mati sebelum sempat melawan. Aku menancapkan sebatang kayu kecil, entah untuk apa. Barangkali untuk menandai bahwa pernah ada yang mencoba mengingat.

“Kami ini rakyat,” kataku pada tanah. “Bukan alasan.”

Angin menjawab dengan dingin.

Aku tahu, Marwan tak akan kembali. Tapi aku juga tahu, diam hanya akan membuat bukit lain runtuh, sungai lain meluap, rumah  lain kehilangan nama.

Malam itu, aku menulis surat. Bukan untuk pejabat. Untuk anakku. Tentang sungai yang dulu jinak. Tentang bukit yang ditebang dengan dalih mulia. Tentang bagaimana kata rakyat bisa menjadi kapak paling tajam.

Jika kelak ia bertanya kenapa air datang membawa maut, aku ingin ia tahu: bencana tidak selalu turun dari langit. Kadang ia lahir dari meja rapat, dari izin yang ditekan tanpa melihat akar, dari hutan yang ditebang sambil mengaku mewakili kami.

Dan ketika itu terjadi, yang hanyut bukan hanya rumah—
tetapi juga kepercayaan.

 

===

*Juni Sara lahir di Belinyu, 19 Juni 2003. Ia merupakan mahasiswi Program Studi Sastra Inggris di Universitas Bangka Belitung, yang aktif menulis puisi dan cerpen pada laman blog pribadinya, serta tertarik pada karya-karya yang mengangkat pengalaman manusia dan lingkungan sekitarnya.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *