LiteraSIP

12 Februari 2026

PEREMPUAN ITU ADA DI KEPALAKU

Oleh Muhammad Bahrudin Chabib*

 

 

Aku tidak ingat kapan perempuan itu mulai hidup di kepalaku. Yang kuingat hanya satu hal: setiap kali aku mencoba mengusirnya, sesuatu dalam diriku menghilang—bukan dia, tapi aku sendiri.

Awalnya hanya perasaan ganjil, seperti ada seseorang berdiri terlalu dekat di belakangku saat aku sendirian. Tidak terlihat, tidak menyentuh, tapi jelas ada. Ia muncul di sela-sela kesadaran, di antara dua pikiran yang gagal beristirahat. Aku mengira itu kelelahan, atau sisa stres yang belum sempat kuurai.

Sampai suatu sore, di tengah keramaian trotoar, aku mendengar suaranya.

“Jangan dipaksa.”

Aku berhenti berjalan. Suara kendaraan dan langkah kaki mendadak menjauh. Kalimat itu tidak datang dari luar, tapi dari dalam kepalaku—tenang, perempuan, dan terlalu jelas untuk disebut khayalan.

“Kau siapa?” tanyaku.

Ia tidak menjawab. Tapi sejak saat itu, aku tahu aku tidak sendirian lagi.

Ia hadir dengan cara yang rapi. Tidak mengganggu pekerjaanku. Tidak muncul ketika aku berbicara dengan orang lain. Ia tahu kapan harus diam, dan justru karena itu aku mempercayainya. Ia datang setiap kali malam terlalu panjang, setiap kali pikiranku berputar tanpa arah.

“Aku di sini,” katanya suatu malam ketika aku terjaga hingga subuh.

Nada suaranya membuat napasku kembali teratur.

Aku mulai berbicara dengannya. Tentang hal-hal kecil yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun. Tentang keinginan menghilang tanpa harus mati. Tentang rasa bersalah yang tidak pernah punya alamat. Ia mendengarkan tanpa mengoreksi.

Aku jatuh cinta tanpa pernah memutuskan.

Cinta yang terasa aman karena ia tidak memiliki tubuh. Ia tidak bisa pergi. Ia tidak bisa berubah pikiran. Ia tinggal di satu-satunya tempat yang selalu bisa kuakses.

Namun perlahan, ia berubah.

Ia tidak lagi hanya mendengarkan. Ia mulai mengarahkan, dengan nada yang nyaris masuk akal.

“Kau tidak perlu membalas pesan itu,” katanya saat ponselku bergetar.

“Mereka tidak benar-benar membutuhkanmu.”

Aku menuruti.

“Kau selalu lebih tenang saat sendirian,” katanya ketika aku membatalkan pertemuan.

“Bukankah ini lebih jujur?”

Aku kembali menuruti.

Aku mulai menjauh dari dunia tanpa merasa kehilangan apa pun. Dunia terasa kasar, berisik, dan tidak sabar. Sementara di kepalaku, segalanya terasa teratur.

Sampai suatu malam aku mencoba mengingat wajah ibuku—dan yang muncul justru perasaan yang sama seperti ketika ia hadir. Lembut, protektif, mutlak.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku.

Ia terdiam lama.

“Aku menjaga,” katanya akhirnya.

“Beberapa ingatan tidak perlu dihidupkan kembali.”

Ketakutan muncul, tapi aku tidak menamainya. Aku lebih takut sendirian daripada salah. Aku mencoba melawan. Keluar rumah, bertemu orang, memaksa diriku hidup seperti biasa. Tapi setiap kali aku melangkah terlalu jauh, kepalaku terasa berat.

“Mereka tidak mengenalmu,” katanya, kali ini tanpa kehangatan.

“Aku satu-satunya yang tahu caramu bertahan.”

Pertengkaran pertama kami terjadi di dalam pikiranku sendiri.

“Aku butuh hidupku kembali,” kataku.

“Kau bukan nyata.”

Ia tertawa kecil.

“Kalau aku tidak nyata,” katanya,

“Kenapa kau selalu runtuh saat aku menjauh?”

Malam itu aku tidak tidur. Suaranya berputar-putar, menabrak ingatanku sendiri. Aku menutup telinga, lupa bahwa telinga tidak bisa menutup kepala.

Keesokan harinya, aku menemui dokter. Ruangannya terlalu bersih. Terlalu tenang. Seperti tempat yang sudah lama menunggu seseorang sepertiku. Dokter itu mendengarkan tanpa menyela, wajahnya netral, nyaris akrab.

“Apakah suara itu pernah membuat Anda takut?” tanyanya.

Pertanyaan itu terasa… sudah pernah kudengar. Aku teringat kalimat malam sebelumnya: Kalau kau terus mencoba mengusirku, kau akan sendirian lagi.

Aku menggeleng.

Dokter itu menulis sesuatu. Lama. Seolah memilih kata dengan hati-hati.

“Kadang,” katanya, “pikiran menciptakan cara sendiri untuk bertahan. Tidak semuanya perlu dilawan.”

Kalimat itu terasa menenangkan. Terlalu menenangkan. Malam itu, ia menungguku.

“Kau pergi ke tempat itu,” katanya. Bukan bertanya.

“Aku hanya ingin sembuh,” kataku.

“Sembuh dari apa?”

“Dari mencintaiku?”

Kalimat itu membuat kepalaku seperti terbuka paksa.

Hujan.

Suara rem.

Tubuh di aspal.

Nama yang kupanggil sampai suaraku habis.

“Aku mati waktu itu,” katanya pelan.

“Atau setidaknya, kau membiarkanku mati di luar sana.”

Aku tidak tahu mana yang lebih benar. Pilihan itu datang tanpa kelegaan.

Jika aku mempertahankannya, aku akan kehilangan diriku. Jika aku melepaskannya, aku harus hidup dengan ingatan yang selama ini ia tahan. Aku minum obat malam itu. Atau setidaknya, aku ingat melakukannya. Ia duduk di kepalaku, lebih dekat dari sebelumnya.

“Kalau ini caramu mencintaiku,” katanya,

“lakukan.”

Hari-hari berikutnya berjalan normal. Terlalu normal. Dokter bilang reaksiku baik. Ia bahkan tersenyum untuk pertama kalinya.

“Kita bertemu lagi minggu depan,” katanya.

“Nanti ceritakan apa yang tersisa.”

Aku tidak ingat meninggalkan ruangannya.

Suatu sore, tanpa alasan jelas, aku membuka dompet lamaku. Di balik slot kartu yang jarang kupakai, terselip secarik kertas terlipat, kusam, seperti sudah lama berada di sana.

Tulisan tanganku sendiri.

Kalau suatu hari kau merasa tidak sendirian lagi, pastikan itu bukan karena kau menciptakan seseorang untuk menggantikan yang sudah mati.

Di bawahnya, ada tambahan tulisan—lebih rapi, bukan tulisanku.

Dan kalau seseorang membantumu melakukan itu, tanyakan siapa yang pertama kali menyarankannya.

Tidak ada tanggal. Tidak ada nama.

Malam itu aku kembali terjaga. Jam menunjukkan pukul dua lewat sedikit. Kepalaku sunyi—atau mungkin hanya diam menunggu. Ada ruang kosong di sana, rapi, seperti kamar yang sengaja tidak diisi. Aku memejamkan mata.

Dan sebelum apa pun muncul, sebuah suara yang bukan miliknya—
dan bukan sepenuhnya asing— berkata pelan di kepalaku:

“Jangan dipaksa.”

 

===

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *