12 Februari 2026
Puisi-Puisi Faqod Faaz
Oleh Faqod Faaz*

Luka Purba
Di balik tulang rusukku, ada sebuah retakan yang tak pernah tidur:
Luka purba yang diwariskan musim, menyusup dari leluhur
Yang namanya bahkan tak sempat kutahu.
Setiap malam, retakan itu berdenyut
Seperti langkah binatang yang kembali ke sarangnya;
Ia mencakar ingatan, mengendus sunyi,
Lalu berbaring di pangkal napas.
Aku mencoba menambalnya dengan waktu
Yang kupotong tipis-tipis,
Dengan doa yang lirih dan tidak berdaya—
Tapi luka purba tak menunggu sembuh.
Ia tumbuh: menjadi hutan kecil
Tempat tubuhku belajar hilang,
Tempat dedaunannya mengingat
Segala yang sengaja kupadamkan.
Ketika fajar menyisir daun-daunnya,
Aku akhirnya mengerti:
Ada rasa sakit yang justru menuntun pulang—
Ke rumah yang hanya bisa ditemukan
Oleh mereka yang pernah tersesat.
Ritus Diam
Sunyi tumbuh di sela-sela dadaku,
Seperti doa yang lupa menemukan mulutnya.
Aku mengikrarkan rindu dalam bahasa yang retak,
Namun kau tetap menjauh—
Menjadi garis tipis pada cakrawala
Yang tak pernah selesai kupahami.
Di malam-malam tertentu,
Aku merawat sepi seperti ritual purba:
Menyusun ulang kenangan,
Menggenggam bayangmu yang terus menyusut,
Lalu melepaskannya perlahan,
Agar tidak menyakitiku lebih jauh.
Diam adalah altar yang tak pernah kudirikan,
Namun kau paksa agar kupuja.
Di atasnya kutaruh seluruh bening mataku,
Seluruh ingatan yang menolak pulih,
Dan waktu yang tak pernah kembali utuh.
Jika suatu hari sunyi ini berubah menjadi musim,
Aku akan belajar menelannya tanpa luka—
Sebab tidak semua kehilangan pantas dirayakan,
Dan tidak semua kenangan harus diselamatkan.
Maka biarlah malam mengubur namamu,
Biarkan aku bertumbuh dari puingnya.
Di balik diam yang paling lirih,
Aku akhirnya mengerti:
Ada perpisahan yang perlu diterima,
Bukan disesali.
Denyar
Ada sesuatu yang bergetar di balik tulang dadaku—
Bukan jantung, melainkan jejak yang kembali
Tanpa mengetuk: langkah yang pernah kutinggalkan
Di jalan pulang yang tak sempat kupahami.
Ia muncul tiba-tiba, seperti kilat mini
Yang gagal menjelma cahaya; sekejap,
Namun cukup tajam untuk membelah ingatan
Yang selama ini berbaring di dasar tubuh.
Aku berhenti bergerak, membiarkan diriku
Menjadi bejana bagi gemuruh samar itu.
Kadang ia merayap pelan, seperti ragu
Yang mencari tempat untuk bersandar;
Kadang ia menubruk—mencari ruang
Yang luput kutumbuhkan sepanjang tahun.
Di sela-sela getarnya, masa lalu menampakkan diri:
Hujan yang batal turun, kata yang kupendam
Sampai kehilangan suara, serta bayangan
Yang terlalu lama menunggu di pinggir napas.
Getar itu terus berputar dalam lorong-lorong
Yang hanya ia kenal, mengajarkanku bahwa
Tidak semua luka berharap sembuh—
Sebagian hanya ingin dikenali tanpa syarat.
Dan ketika akhirnya reda, yang tersisa adalah
Keheningan bening: permukaan air
Yang baru saja menelan deras.
Di sana, aku melihat diriku sendiri—
Lebih utuh, lebih jujur,
Dan tak lagi takut pada denyut
Yang datang tanpa nama.
Serpih Cahaya
Di sela genting subuh,
Aku mengumpulkan serpih cahaya
Yang pecah sebelum sempat menyentuh dadaku.
Setiap kilau membawa kisahnya sendiri:
Jejak yang tersesat di pori waktu,
Rindu yang mengeras menjadi bisu,
Serta doa yang melayang
Tanpa menemukan langit mana harus singgah.
Kadang aku bertanya—
Adakah cahaya yang tidak gentar
Ketika menyentuh manusia?
Atau memang sejak awal
Ia diciptakan rapuh
Agar kita belajar menampung yang retak?
Aku meraba salah satu serpih:
Dingin, angkuh, namun setia;
Menyimpan keteduhan
Yang tidak ditemukan oleh mata,
Hanya oleh jiwa
Yang pernah disergap gelap terlalu lama.
Maka kupintal kembali sinarnya,
Tipis seperti garis halus
Pada kaca yang menahan pecah.
Dan tiba-tiba aku mengerti—
Bahwa cahaya tidak selalu terang;
Kadang ia memilih hening,
Mencari tubuh yang bersedia
Menjadi rumah bagi sembuhnya.
Di ujung subuh, serpih-serpih itu
Meluruh ke dalam nadiku.
Aku berdiri—getir sekaligus utuh—
Seperti seseorang yang akhirnya tahu
Bahwa keutuhan bukan hadiah,
Melainkan keberanian
Memeluk setiap patahan.
Dan dari situlah terang baru lahir.
Luruh
ada malam yang turun perlahan
ke dalam tubuhku,
seperti kabar yang tidak pernah diucapkan
namun terasa hingga ke dasar tulang.
aku duduk menghadap jendela,
membiarkan angin membuka halaman
yang diam-diam kuselipkan
di antara detak dan diam.
segala yang pernah kupikir selesai
muncul kembali:
bayang yang menua,
kata yang kehilangan arah,
senyum yang tiba-tiba asing.
semuanya berkumpul
seperti hujan yang mencari tanah paling sunyi
untuk kembali menjadi dirinya.
namun luruh, ternyata,
bukan tentang kehilangan.
ia adalah cara tubuh memberi ruang
pada yang tak sanggup ditanggung,
cara hati menerima
bahwa tidak semua harus disimpan
agar tetap dikenang.
malam itu, satu per satu
ingatanku melepaskan nama—
bukan untuk menghapus,
melainkan untuk mengizinkanku berjalan
tanpa memanggul seluruhnya.
aku menarik napas,
menyusuri reranting yang patah
di dalam pikiranku,
dan menemukan sebuah jalur kecil
yang selama ini menunggu dalam senyap.
di sana, keheningan
tidak lagi mengiris,
melainkan mengembalikan cahaya
yang lama terperangkap oleh perih.
dan aku mengerti:
luruh adalah cara lain dari tumbuh—
yang jatuh bukan selalu yang rapuh,
tetapi yang siap menjadi tanah
bagi dirinya yang baru.
Tanjung Priok, 28 Oktober 2025
===
*Faqod Faaz merupakan nama pena dari Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan. Seorang perempuan yang lahir di Jakarta pada penghujung tahun 2001. Kini ia tengah menempuh pendidikan jurusan Sosiologi di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia. Pencinta sastra dan seni ini mulai aktif menulis sejak masa pandemi 2020. Puisinya telah termuat dalam sejumlah antologi nasional, dan sejak itu ia terus menulis serta mengikuti berbagai lomba sastra, seni, hingga akademik (olimpiade Bahasa Indonesia dan Biologi).