LiteraSIP

16 April 2023

Sekeping Hati Dalam Kardus

Oleh : Wahyu Arshaka*

 

 

Ketika Gunardo sedang menikmati secangkir kopi, Sarjinah, pembantunya  datang dari arah depan sambil membawa kiriman paket, sebuah kotak kardus terbungkus koran dan sepucuk surat dengan amplop warna biru. Lalu kiriman paket itu diletakkan dihadapan Gunardo, sejenak dia tertegun dan kemudian dengan ragu dia pun membuka amplopnya. Ada secarik kertas dengan tulisan tangan tinta warna hitam.

“Aku kirimkan hati nuraniku buatmu, karena kutahu hati nuranimumu sudah kau gadaikan demi jabatan. Aku yakin otakmu masih bisa bernalar dengan baik, tapi karena tidak punya nurani makanya tidak bisa melihat kebenaran tapi sibuk mencari pembenaran. Hatiku masih dalam kondisi baik, masih memiliki nurani di dalamnya. Semoga kau bisa memakainya, menggantikan nuranimu yang kau gadaikan!”

Gunardo terdiam dengan wajah merah padam, kertas yang dipegangnya dilumat dalam kepalan tangan. Dia menatap nyalang  kotak kardus, terlihat ada darah segar yang membasahi koran. Bau amis pun perlahan menusuk hidung. Lalu tanpa pikir panjang Gunardo meminta Sarjinah untuk membuangnya ke tempat sampah.

***

Setiba di kantor, pikiran Gunardo masih terasa kusut. Wajahnya yang biasanya dihiasi senyum pun kini nampak cemberut. Dia bergegas menuju ruang kerja, orang-orang yang berusaha menyapa, dibiarkan saja tanpa dibalas.

Ketika tiba di ruangan, Gunardo kembali dibuat terhenyak.  ternyata kotak kardus itu ada di atas meja kerja. Kertas korannya makin terlihat basah dengan darah, bahkan meja pun nampak ikutan basah. Di atas kardus, kembali tergeletak sepucuk surat dengan amplop warna biru.

Dengan kalut Gunardo memanggil sopirnya lewat ponsel. Kemudian dia buka amplop warna biru itu sambil mengatupkan gerahamnya sehingga giginya beradu. Dibukanya selembar kertas dengan beberapa baris kalimat tertera.

“Hargailah pengorbananku! Yang sudah menyayat dadanya sendiri demi mengambil hati untukmu. Ini gratis, tak perlu kau bayar. Kau tinggal memakainya saja! Gitu aja kok repot!”

Kembali Gunardo melumatkan kertas dalam kepalan tangan, lalu dilemparkan ke tempat sampah. Dan saat kertas itu mendarat, ketika itu pula pintu diketuk.

“Masuk!” teriak Gunardo.

Pintu didorong perlahan, Pak Sopir masuk dengan menunduk dan ragu melangkah.

“Kau kuburkan kotak itu!” ucap Gunardo sambil merogoh selembar uang seratus ribu, “Ini buatmu, ambilah!”

Dengan tangan gemetar Pak Sopir memegang lembaran uang, lalu ia menatap Gunardo.

“Jangan bengong! Kuburkan sekarang!”

Pak Sopir langsung mengambil kotak itu dan buru-buru menghilang di balik pintu.

Dada Gunardo terlihat kembang kempis memompa napas yang menderu. Amarah yang terpendam semakin membuat kalut pikiran. Dia hempaskan tubuhnya ke kursi kulit di belakang meja. Terdiam sesaat, meredakan amarah yang membuatnya kepayahan.

Gunardo buka ponsel dan melihat twitter, dia telusuri beragam postingan. Siapa tahu ada yang membuat pengakuan sudah memberikan hati nurani untuknya. Tapi ternyata tidak ada. Bahkan yang mengkritiknya sedikit sekali, kebanyakan mereka  mendukung. Karena memang Gunardo begitu rajin memblock akun-akun yang mengkritiknya.

“Mungkin dia orang yang sudah aku block!” ungkap Gunardo dalam batin.

***

Maghrib sudah terlewat. Gunardo baru pulang dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan. Tapi dia merasa sedikit tenang karena sopirnya mengatakan sudah menguburkan kardus di tempat pemakaman umum. Gunardo berharap hati itu sudah tenang dan tak kembali gentayangan.

Dia langsung masuk ruang kerja tanpa mandi dan ganti baju. Kepada istrinya dia berpesan tidak ingin diganggu karena masih ada pekerjaan yang harus dituntaskan. Istrinya sudah bisa menerka, Gunardo akan melepas lelah di ruang kerja.

Baru saja pintu ruang kerja dibuka. Gunardo langsung melihat sesuatu yang membuatnya tersentak setengah mati. Kotak kardus itu kembali ada di atas meja kerja dengan darah yang sudah kering. Bergegas dia memanggil supirnya, yang sedang minum kopi bersama satpam di pos rumahnya.

Tak lama berselang Pak Sopir datang dengan gestur kebingugan. Gunardo menunjuk kotak kardus itu. Pak Sopir tersentak dan garuk-garuk kepala.

“Saya sudah menguburkannya, kenapa bisa ada di sini!” ujarnya dengan suara gemetar!

“Yakin sudah kamu kubur?” tanya Gunardo dengan nada penuh tekanan.

“Sudah Tuan, saya kerjakan dengan rapi!” Pak Sopir tak berani menatap.

Gunardo melipat tangan di dada.”Ya sudah, pulanglah!”

Kini Gunardo sendirian di dalam ruang kerja. Duduk terdiam menatap kotak itu.  Otaknya berputar mencari langkah untuk melenyapkan hati di kotak kardus itu. Ketika rokok habis dihisap, Gunardo mengambil pisau yang tersimpan dalam laci; dia robek-robek kotak kardus itu sampai terlihat seonggok hati yang masih basah dan berdenyut.

Dengan dingin dia tusuk hati itu, darah perlahan mengalir. Kemudian dipotong-potong menjadi beberapa irisan kecil. Lantas dipidahkan ke piring yang tergeletak di meja. Setelah itu Gunardo kembali terdiam, tenggelam dalam kebingungan. Tapi beberapa saat kemudian dia bangkit dan membawa hati di piring itu ke halaman belakang.

“Beno, Benooo, Benooo!” ucapnya pelan sambil senyum-senyum setelah menemukan anjing yang sedang tidur-tiduran di dekat kolam.

Gunardo  meletakkan kepingan hati itu tepat depan hidung Beno. Anjing itu pun langsung mengendus-endus dan lindahnya menjulur. Lantas irisan-irisan hati itu langsung disantapnya dalam sekejap. Gunardo langsung tertawa-tawa dan kembali berjalan menuju ruang kerjanya untuk meredakan segala kepenatan.

Pagi kembali tiba, Gunardo yang sudah berpakaian rapi, duduk menghadap meja makan. Setelah meletakan ponsel, dia membuka tutup saji. Dia tersentak, wajahnya mendadak pucat. Gunardo melihat kepingan hati yang masih berdarah dan berdenyut tersaji di piring.

“Itu kiriman Bapak dan Ibu, juga saudara-saudara di kampung. Mereka malu melihat Mas tampil di televisi, terlihat cerdas tapi gelap hati karena tidak memiliki hati nurani!” terdengar suara istri Gunardo dari arah belakang.

Gunardo makin terlihat pucat, bingung dan kalut!

***

 *Wahyu Arshaka, Seorang guru di SDIT Al Jihad, Pedes, Karawang. Cerpen-cerpennya tersiar di media cetak dan online.

 

1 thought on “Sekeping Hati Dalam Kardus”

  1. Pingback: Ruang LiteraSIP Edisi #14 - SIP Publishing

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *