27 April 2023
Puisi-Puisi Zulmasri Kampai
Oleh : Zulmasri Kampai*

PADA RIAK LAUTMU
pada riak lautmu, kulihat senja menghitam di antara kerdip cahaya negeri
saat surau di samping rumah bersiap dalam kumandang magrib
angin pantai masih menepi, riuh burung pulang ke sarang
mengabarkan perantau di pinggir malam
masih saja alunan seruling dan bansi meneruka
saat pantaimu menyepi dalam catatan harap
adakah mendungmu berkabar gerimis
ataukah titik hujan berberita akhir kemarau?
pada riak lautmu, pulau-pulau menjadi titik yang pengap
polusi di mana-mana, udara dipenuhi tuba
negeri ini butuh damai, negeri ini butuh embun
menyirami hati pada kerontang kemarau
masihkah riakmu mengalun di keheningan magrib?
Kuingin pantaimu mengaji di antara keremangan nasib
Pekalongan, 2023
MENDUNG DI KOTA SINGGAH
kembali ke kota singgah, ada catatan tercecer di mendung cuaca
pada bus yang melaju, ada tatapmu sekilas menyapa
muram yang kau tawarkan memekatkan dingin hati yang asing
lalu sesaat angin melintas dan mencatat muram berikutnya
dedaunan pun berguguran di ujung taman
mendung di kota singgah saat langkah baru saja berpijak
geletar nada, nyanyian gerimis di ujung-ujung daun
berkabar senja pada pertemuan yang tak menyelesaikan
masihkah senjamu mengungkai kisah di perjalanan harap?
pagi masih jauh, rentang cuaca tak pernah bisa dipercaya
pada kota singgah ada sepenggal diri yang terbelah
menuntun lembaran-lembaran yang gugur di akhir sua
kembali ke kota singgah, masihkah dirimu di sini?
pias wajah saat kau terbangun, risau diri para perantau
yang rindu pulang ke kampung halaman
kuingin di kota ini berjatuhan embun pada pelataran hati
mengubur duka pada keabadian cuaca
Pekalongan 2023
RUMAH
rumah itulah, segalanya berawal kisah yang kerap kau tanyakan
saat pisah tanpa lambai dan derai air mata
segalanya terjadi dalam alur cerita
tanpa perlu bertutur akan tema
pada rumah itulah, dendam terus dipelihara dalam kecamuk raga
saat pintu dan jendela menutup, keterbukaan hanyalah fatamorgana
gemuruh petir saat siang menjadi sebuah pertanda
dari kerasnya hati yang telah lama mati
menatap rumah di jejauhan pikiran
rindu berperang harga diri, lambai menciderai ketulusan
noktah hitam menggerus kepercayaan yang pernah dipertahankan
akankah hari menutup matanya?
rindu rumah dalam kehangatan cerita
kuhadapkan diri ke tembok angkuh dan dinginnya dendam amarah
Pekalongan, 2023
MENJEMPUT SUBUH
menjemput subuh
di antara polusi kota
tadarus menggemuruh
di antara kantuk dan lelah
menjemput subuh
di antara dingin dan angin
ada hati merindu
saat kelana di empat musim
tuhan, akan kemana lagi kucari
setiap denyut nadi dalam keriangan asma?
(desir hariku, desah jantungku
berpacu dalam kecamuk dosa
dalam harap akan lembutnya ampunan)
Pekalongan 2023
==
*Zulmasri Kampai lahir di desa Padang Panjang II, Kambang, Peisisir Selatan, Sumatera Barat, 11 Januari 1971. Setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Andalas Padang, lalu hijrah ke Pekalongan tahun 1997. Menulis puisi dan cerpen di beberapa media massa. Puisi-puisi dimuat dalam beberapa buku, di antaranya Antologi Puisi Indonesia (1997), Diverse (Antologi Puisi 120 Penyair Indonesia diterbitkan dalam 2 bahasa –Indonesia dan Inggris — dan dicetak di Indonesia, Amerika Serikat, dan Inggris, 2012), dan lain-lain.