2 Juli 2023
Puisi-Puisi Dody Kristianto
Oleh Dody Kristianto*

Penggembur Tanah
Dengan sabar
aku suburkan kandunganmu
agar tetap basah
segala baka
dan bakal buah itu
menampakkan raut merona.
Sedari mula, aku tabah
dengan jalan bercecabang.
Jalanku merambat,
amat lambat,
seperti langkah siput
lamat-lamat
menuju arah sukacita.
arah daun-daun
mau bau basah juga
panorama pagi buta.
Tapi, bila penggali itu tiba
menjemputku,
mengangkutku
dengan sebatang cangkul,
yang ingat betul namaku,
hapal benar langgam perlahanku,
maka sesungguhnya,
kukata kala perjumpaanku
dengan surga
kian dekat, kian rapat.
Dan sepucuk kail itu
melengkapkan nasibku
memanduku menyatu
di kedalaman lambung
si penunggu air,
penunggu yang kuyakini
sebagai pengantar,
yang menuntunku,
menerangi jalanku
menuju ia, menuju ia
yang tinggal sekejap jumpa
(2021)
Kemanten Ladang
kaulah palagan yang sebenarnya
menghampar, disarati lalang,
sabarlah, tabahlah, dan tenang
bermunajah saja
sebelum langkah penyiang
itu dipulangkan petang ke gubuk seberang.
bila telah lengang segala,
siapkan rahimmu yang terkasih
bergeminglah menampi benih bumi
yang dikirim dari ujung mimpi
: benih para dewi juga kidung pemuja Nyi Pohaci
bersabarlah sayang, sabar,
para penyiang akan kembali
akan mereka purnakan takdirmu
di tangan sebilah watang
sebilah yang menyentuh lubuk setiamu
yang menunggu, memunguti
remah lemah dari lubang dalammu
(2021)
Kecebong
kuujar tanya pada lemparan
joran pertama
kau serupa siapa
berulang menipu mata
ikan kesasar atau cacing
lupa wujud mula
atau hanya peminta
yang meraba muka bapa
(2021)
Tembang Cambah
sebelum kami bangun,
tubuh mereka
ditambunkan rima ramah basah
di kedalaman jembar tanah
sembari berucap basmallah
pada pagi pekan pertama.
basmallah kala subuh tiba
dan malaikat turun ke dunia,
mendengar harap dan ratap
dari kami yang menepikan mimpi
dan memulas muka dengan dingin
banyu sepertiga malam.
berbekal tabah yang benar
menyembul tunas lemah mereka,
tunas yang bercukul
mengarah ke arah sorga,
searah mimpi para perenggut
hehijauan di depan mereka.
dalam langgam lamban
mereka bermadah pada segala :
pada tanah yang tak bosan
dipijak tetapak kaki sesat
atau bebatang yang diam
dijamah tangan nakal.
Juga benih putih matahari
yang mengampu perihal berbagi.
agar segala bisa bersua
dengan sang kembaran
yang tetap sederhana
membawa benih cinta.
(2021)
Tubuh Tebu
Kamulah tiang tenang,
setegap watang,
yang suci
dari sesat cecabang.
Terimakasih. Sebab kamu
tiada lagi meninggi,
tak pula tinggi hati.
Tak mau keras parasmu,
sekeras bambu,
kembaranmu paling jauh
yang sungguh hanya menunggu
waktu rubuh.
Kamu sembahkan
daging dalammu,
demi tumbuh mereka
yang kamu bilang penebang,
demi lidah mereka
yang sabar dihajar hambar
lagi segala pedas yang tak tenang
(2021)
===
*Dody Kristianto, lahir di Surabaya, 3 April 1986. Bergiat bersama Komunitas Madah Doa. Karya-karyanya tersiar pada beberapa media. Saat ini tinggal di Serang, Banten.