16 Juli 2023
Puisi-Puisi Vania Kharizma Satriawan
Oleh Vania Kharizma Satriawan*

Menukil Wahyu
dari Sekotak Akuarium
i.
apalah yang mampu kita dahar
dari bahagia yang dianulir hawar?
kita dikirab kecemasan,
sebab laju yang kita punya
sekadar kegelisahan yang maha,
yang berayun-ayun di lekum kita
menjelma balada dari mahia air mata.
tapi di sana,
mata ibu melolong dalam diam
saat kita tergesa menyuguh rungu
di lapangnya bedil yang terkokang
sigap mengepung lengahnya kita.
ii.
apalah yang mampu kita warta
dari nestapa yang menjubahi raga?
seperti blokade,
tak ada rute pulang,
jalur evakuasi hilang,
simbol di jalan lekang
dan
laju kita terkekang
seperti ikan menghuni karang
luka kita membuni-pendamkan erang
sebatas gelembung air di mulut kerang.
dan sebagai sebuah pelezat abad jentaka
suara kita lagu-lagu mersik kecipak rendahan
yang beralun gelisah melambangkan
kenestapaan.
iii.
dari yang mampu kita nukilkan
sanggupkah kaki kita dibebaskan belenggu
dan dekade yang merenangkan sembahyang ibu?
cukupkanlah duka yang bertambang di dada
biar kita taat merendam nazam merdekanya jiwa.
Solo, 2022
Gerilya Marhaen
sebelum pagi tandas mengidungkan ritus linang,
sebelum malam tandang membedah beratus erang
biar kau simak tanya yang menyampah di kepalaku,
yang tekun mencipta onar melekang gersang dadaku:
di mana ‘kan kita rumahkan raga
waktu liang punah selepas lunas dibayar-
pasukan tirani yang kerap haus kuasa?
di tanah mana mesti bata merah bertuan
dikecup ubun kita bersujud di kaki Tuhan?
melayangkan laung terjerahak di palung kalbu
pada bedil yang siaga menafkahi ketaatan isak berlabuh
sedari riuh autokrasi hadiahi memar sekujur tubuh.
pada penggalan balada
yang bersabda menyalin lelah
biar jadi rahim lahirnya pertarungan
menumpas gelebah,
bahwa di tanah ini,
kami tak berhak ditawan
dan riwayat gerilyamu ini,
ialah mata yang enggan berkedip.
Karanganyar, 2023
Di Meja Abdurrahman Wahid
Di meja ini, 61 juta jiwa menyoalkan harapan
pidato-pidato gelanggang dimonumenkan waktu,
menguap seiring berlaganya ikrar yang lengkara
berimplementasi,
apa mesti kami sulut bara
yang bergagah di kepala mahasiswa?
tampak bersolek massal asa
menyelenggara sebuah perjamuan di dada mereka-
sedangkan,
waktu di meja itu
mimpi-mimpi silih beretorika
mendaraskan harapan-harapan tua
sambil gagah pula berdiri di sasana budaya
menukik pada tajam lantamnya suara peradaban.
apa mesti kami bakar lagi
urban yang dikangkang anarki?
apa mesti kami asapi lagi
kota yang nyaris habis dimangsa oligarki?
tampak begitu sederhana
penjaja kritik berdagang memoar
menyejarahkan mimpi kecil yang dahulu direka
apa biduk telah berlayar menuju wahana lupa?
di ruang demonstrasi,
kami berdandan di muka cermin ilusi
berharap rupa-rupa magfirah tiba di malam nisbi
menegaskan kekeliruan yang sempat berhelat
di bibir bifurkasi: rumah-rumah melarat.
apa sempat di meja ini,
dimusyawarahkan keadilan?
di meja ini, terus saja bergelar cemas
: asan tak asan
yang tak mencapai kodanya,
sedangkan rakyat, dalil seutuh-segenapnya
yang tak pernah diam bersaksi merdeka.
Solo, 2022
*Vania Kharizma Satriawan. Lahir dan tumbuh di Kota Surakarta. Mahasiswa hukum yang mencintai sejarah dan puisi. Prestasi terbaik terkait puisi: Juara 1 Lomba Puisi Tingkat Internasional yang diselenggarakan Universitas PGRI Sumatera Barat. Bisa disapa melalui Instagram: @vaniakharizma.