LiteraSIP

17 September 2023

Puisi-Puisi Irman Hermawan

Oleh Irman Hermawan*

 

 

Pada Layar Perahu

Pada layar perahu, kutemukan kembali nafas-nafas orang mati, mengeram dalam garam yang berabad-abad lalu. Tapi tak pernah kucari tahu siapa yang mati. Bahkan serdadu yang kejam dengan senjata laras panjangnya pun akan gentar saat dihadapkan dengan gelombang.
Sebab Tuhan bersemayam di tiap deru gelombang yang menghantam. Mengubah keberanian jadi getir.
setiap badai yang ditampung layar, hanya secercah zat gaib ketuhanan, dan zikir-zikir para ikan.
Pada layar perahu kutemukan, hak-hak kematianku, dan jasadku akan mengeram menjadi garam, sama persisnya orang terdahulu.

2023

 

Kenangan

Barangkali, jawabmu, tapi jangan cemas, sejarah hanya sebentuk origami, kisah yang tersusun dari ingatan.
(Di Mercu Suar, Gunawan Muhammad.)

1
Dari pohon-pohon waktu yang menggugurkan daunnya lalu mengendap, dan mengubur dalam kepala kita. Haliza, waktu telah menyusun kerangka di rusuk kita sebagai penyangga. Masa lalu hanya risalah piatu yang mencari induknya di antara kita. Hanya angka-angka mati yang menetap. Dan sehelai foto, Haliza, hanya lipatan kenangan. Hanya lipatan kenangan.

2
Kita berjalan sebagai tamu ilahi, menguliti jejak demi jejak. merangkul detik. dan jarum jam menusuk kepala kita, dan darahnya mengendap seperti bubuk mesiu dalam senjata laras panjang yang segera menghabisi siapa-pun di depannya. menghabisi waktu bersama. Menghabisi kita.

3
Haliza, kita datang menjadi pembangkang. sebagai buronan yang ingin melepaskan ingatan lama dalam sel kepala. Untuk saling melupakan. Meluapkan waktu yang kini berbeda.

2023

 

Dalam Sehelai Surat

Dalam lipatan surat ditemukannya kembali titik yang ingin menyerupai garis. Menghambat jalanan waktu, dan macet membentuk rindu.

Dik, di lipatan surat itu, menggambarkan bulu matamu persis padang ilalang. Dan di pucuknya ada belalang, giginya sedang meretas daun yang dikunyah, di sana hubungan kita berantakan. Lalu memungut setiap daun yang hancur persis mainan puzzle untuk menyempurnakan bentuk. Menyempurnakan waktu sebelum kita binasa. Sebelum binasa.

Dalam lipatan surat itu, kutemukan kembali garam keringatmu, dan dari dalam tulisannya kucium bau parfum, sama seperti yang kau gunakan tiap hari.

Seluruh ruangan tertutupi bau yang sama, dan di depan cermin rias yang pernah kau singgah dan berparas. Menjadi keramat, seakan ada keanehan. dan tiap kali kubuka lembaran surat itu di depan cermin itu, yang memancar bukan lagi wajahku, wajahmu, tapi wajah kita. Separuh wajahmu terang, wajahku rabun di kejauhan.

2023

 

Elegi

Haliza,  puisiku telah memilihmu sebagai diksi. Dan penyadur aksara abadi. Andai, kata-kata dapat menjelaskannya dalam sebuah karya tulis, mungkin ia membutuhkan pena dari hatiku, yang meneteskan tinta darah. Atau dari garisan luka-luka yang belum pulih juga.

2023

 

===

*Irman Hermawan. Lahir di Legung Timur,  Sumenep, Madura 15 Oktober. Alumnus MA Lughatul Islamiyah. Bergiat di komunitas Damar Korong, dan komunitas online Genetri. Karya-karyanya berupa puisi dimuat di berbagai media.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *