LiteraSIP

24 September 2023

Kalau Aku Jadi Orang Kaya

Oleh Leci Seira*

 

 

“Kalau kita jadi orang kaya, Mamak mau beli apa?”

Saat usiaku tujuh tahun dulu, dengan mulut penuh tahu isi sayur buatan Mamak, aku menanyakan itu. Mamak tengah sibuk dengan pakaian yang menggunung. Sejak tiga hari lalu, Mamak tidak menyetrika. Listrik di rumah kami mati. Kata Mamak karena sedang ada perbaikan di PLN. Padahal, setelah jadi lebih dewasa, aku tahu listrik rumah kami mati karena Mamak belum membayar biaya bulanannya.

Waktu itu Mamak tidak menjawab. Bahkan, menoleh saja tidak. Aku masih menunggu sambil terus menjejalkan tahu isi sayur ke mulut. Rasanya sedikit pedas untuk anak seusiaku, tetapi aku tetap suka. Bagiku, tak ada makanan di dunia ini yang bisa mengalahkan kelezatan masakan Mamak.

“Kalau kita jadi orang kaya, aku mau beli rumah Barbie kayak punya Kak Faza,” ucapku menunjuk rumah besar di depan rumah kami.

Kak Faza itu masih sepupuku. Dia beruntung terlahir dari keluarga kaya. Setiap kali ke rumahnya, aku melihat koleksi mainan baru yang entah kapan bisa kumiliki juga. Untung saja sejak kecil aku tak pernah meminta macam-macam pada Mamak.

Lagi-lagi Mamak tidak menjawab. Namun, aku mendengar Mamak mengembuskan napas cukup keras, tangannya mengusap dahi. Melihat itu, aku jadi tidak tega. Segera kujejalkan habis sisa tahu isi sayur, lalu mengelapkan minyak-minyak yang menempel di tangan ke betis. Aku tidak tahu apa fungsinya, tetapi sering sekali melihat Mamak melakukan itu.

Diam-diam, aku mengambil kausku yang warnanya sudah pudar. Aku tak punya banyak baju. Setiap kali baju sudah kering, aku akan memakainya kembali.

“Kalau kita jadi orang kaya, aku mau punya rumah tingkat dua, Mak.” Aku menyeletuk lagi saat ingat rumah dua lantai yang selalu kulihat setiap pergi ke sekolah.

Rumah itu bagus sekali. Meski bergaya minimalis, taman kecil di depan rumah membuatnya tampak asri. Belum lagi di teras lantai 2 terdapat bunga beraneka warna. Terkadang aku berandai-andai bagaimana jika itu benar-benar rumahku.

“Terus aku mau tidur di lantai 2,” lanjutku.

“Kalau nanti rumahnya kebakaran atau ada gempa bumi, turunnya susah, loh,” balas Mamak.

Aku langsung menelan ludah. Benar juga. Aku sama sekali tidak memikirkan itu.

Merasa tidak tahu harus menjawab apa, aku kembali melipat baju-bajuku. Mamak sudah selesai menyetrika celana Bapak yang banyak sekali jumlahnya. Aku sering melihat Bapak menyimpan celana-celana itu di belakang pintu kamar. Pernah juga aku tak sengaja mendengar Mamak mengomel karena Bapak melakukan itu. Meski begitu, Mamak tetap mencuci dan menyetrikanya hingga rapi.

“Kalau kita jadi orang kaya, aku mau makan enak setiap hari, Mak. Nanti Mamak aku ajak ke restoran. Kita makan apa aja yang Mamak suka.” Aku berbicara lagi saat Mamak sudah kembali duduk di depan setrika yang dialasi selimut.

“Kalau makan enaknya yang nggak sehat, buat apa? Yang ada nanti kita malah sakit, loh.”

Aku mengerutkan dahi mendengar jawaban Mamak. Setahuku makanan enak pasti sehat. Itulah kenapa orang-orang kaya terlihat sehat dan pintar. Bahkan, beberapa dari mereka malah sampai kelebihan berat badan.

“Ingat nggak, Bapak bilang apa waktu itu? Kebanyakan orang yang punya penyakit parah itu orang kaya. Kalau kita paling-paling sakit demam atau diare. Habis makan daun jambu biji, langsung sembuh. Kalau demam, minum jamu.”

Saat itu aku kembali tak menjawab. Kalimat Mamak ada benarnya, tetapi bukan itu maksudku. Bagaimanapun aku ingin bisa dengan bebas makan makanan enak. Seperti Kak Faza, misalnya, aku sering melihat dia makan cokelat mahal yang rasanya enak sekali. Sepanjang hidupku, Mamak belum pernah membelikan aku coklat.

“Kalau kita jadi orang kaya, kita harus banyak bersyukur. Nggak boleh sombong. Nggak boleh serakah. Nggak boleh pelit juga.” Kali ini Mamak menjawab pertanyaanku dengan lebih baik.

Mungkin Mamak sedang mengingatkanku agar tidak menjadi seperti keluarga Kak Faza. Sebenarnya aku belum pernah makan cokelat mahal yang aku ceritakan tadi. Kebetulan saja saat Kak Faza membuang bungkusnya di teras rumah, aku ada di sana. Jadi, diam-diam aku mengambilnya karena melihat ada sisa cokelat yang menempel. Di rumah, aku menjilatinya sekadar untuk menghilangkan rasa penasaran akan rasanya. Benar, Kak Faza memang pelit, mungkin menurun dari kedua orang tuanya yang juga pelit.

“Terus kalau jadi orang miskin, kita nggak bersyukur, Mak?”

Mamak meletakkan setrika, lalu melipat kemeja putih Bapak yang mulai berubah kuning. Setelah itu, Mamak bangkit dan hendak masuk kembali ke kamar untuk meletakkan tumpukan kemeja Bapak yang telah selesai disetrika.

“Ya, harus tetap bersyukur, Kak. Kaya atau miskin, itu semua rezeki dari Allah. Miskin itu cobaan supaya kita tetap sabar. Kaya juga cobaan supaya nggak jadi serakah dan sombong,” jawab Mamak dari dalam kamar.

Aku manggut-manggut.

“Punya banyak uang nggak selalu menjamin kebahagiaan, Kak.”

***

Sejak saat itu, aku selalu percaya apa yang dikatakan Mamak. Namun, setelah beranjak dewasa, aku baru tahu kalau apa yang Mamak katakan tak sepenuhnya benar. Mungkin uang tidak menjamin kebahagiaan seseorang, tetapi setidaknya itu membuat hidup berjalan dengan semestinya. Kalau punya uang, Bapak tidak perlu berutang sana-sini setelah Mamak tidak ada. Lantas, pada akhirnya aku harus berakhir tidak tentu arah.

Kuliahku terancam berhenti semester depan. Bapak tidak pernah lagi memberiku uang saku bulanan. Bapak seperti tidak memikirkan aku makan apa selama setengah tahun terakhir. Jika saja tidak bekerja sebagai pencuci piring di rumah makan ini, mungkin aku sudah ditemukan sebagai mayat di kamar indekosku.

Mak, segalanya berubah sejak Mamak tiada. Bapak jadi semakin sering berjudi. Bapak terlilit utang di sana-sini. Uang beasiswaku diminta Bapak untuk membayar utangnya. Bapak berhenti menafkahiku yang sebenarnya masih menjadi tanggungannya. Bapak bukan lagi bapak yang aku kenal dulu, Mak. Bapak berubah.

“Cepat sedikit, cuci piringnya!”

Teriakan itu memaksaku untuk segera menghapus air mata yang luruh di pipi dengan lengan yang tertutup kaus panjang. Dadaku rasanya sesak sekali. Namun, aku tetap harus bersabar. Mamak bilang, miskin adalah cobaan agar aku menjadi orang yang lebih sabar.

“Mak … kalau aku jadi orang kaya … apa Mamak sekarang masih ada di dunia?” gumamku sambil terisak lagi.

 

***

 

 ===

*Leci Seira gadis kelahiran Langkat. Anggota FLP Cabang Langkat. Editor freelance di beberapa penerbit. Kunjungi Instagram @leciseira.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *