24 September 2023
Puisi-Puisi Eko Setyawan
Oleh Eko Setyawan*

Jamu Uyup-Uyup
ibu mengingat masa lampau
sewaktu bayi di kandungan.
jamu-jamu disesap
meski kadang rasa tak sedap.
lidah diuji
apakah di sana
takdir tercatat sebagai
berkah
atau
musibah.
apa yang diminum
adalah perantara
seperti kabar yang dibaca
dan dibawa burung prenjak
di ranting pohon
di halaman.
seperti percakapan yang sendu
kabar kadang tanpa kenal waktu
dan tak lama setelahnya
kebahagiaan atau mungkin kesedihan
diterima.
jamu cabe puyang,
jamu temulawak,
jamu kunir asem,
juga jamu-jamu lainnya
telah setia
dan jadi pelepas dahaga
di lidah ibu
juga terhubung ke janin
seperti angin
seperti tetes air mata
yang paripurna.
angin berembus
menuju langit
sebab kebahagiaan
kini membumbung
terbang dan tak terbantahkan.
air mata tumpah
sebab keinginan telah terpenuhi
menjelma berkah.
jamu yang disesap
meski kadang rasa tak sedap
telah menyempurnakan keinginan
menyempurnakan harapan.
(Karanganyar, 2023)
Jamu Selapan
jamu sewaktu hamil
kini berganti
dengan jamu-jamu lain
sebab hidup adalah getar
yang tak pernah diam
dan tak akan pernah usai.
selepas babaran,
keajaiban diperlukan
demi tunainya
rasa sakit yang menyelimuti.
kini, hidup berlanjut.
dari sana, luka perlahan lesap
terkikis satu demi satu
dengan jamu
dan pelengkap
yang diminum
sang ibu.
bedak beras kencur
tak henti-henti disapu
sepanjang waktu.
sebulan lamanya,
bedak akan jadi teman setia
demi lindapnya rasa sakit
yang masih saja
sesekali menggigit.
di tubuh ibu,
saban waktu juga bersetia
dengan tapel bunga rupa warna.
wewangian disebar
agar ruap kebahagiaan turut menyebar.
selepas selapan
jamu rupa bahan
jadi penutup
menghapus rasa sakit
menyempurnakan hidup.
(Karanganyar, 2023)
Susu Ibu
payudara ibu kini menebal
seperti hanya rasa syukur
yang tak pernah usai dirapal.
payudara itu menjadi penyambung
bagi hidup bayi
dari hari ke hari.
lantas, dari sana pula
hidup berlanjut
karena air susu ibu
tak pernah luput.
beban di dada,
kini kian berat menyangga.
tapi itu bukan bencana.
bukan musibah.
bukan pula pantas dikutuk.
apa yang dirasakan
tak lain
demi tercapainnya harapan.
payudara ibu
adalah mukjizat
yang tak pernah putus
menyambung hidup
agar terus berlanjut.
(Karanganyar, 2023)
Air Susu
setetes firman telah turun
dari langit
ketika air susu
dihisap dari puting ibu.
tak ada kata-kata
hanya hisapan dan sesekali sengatan
yang tak mampu dituliskan.
pada tiap tetesnya
firman disematkan
doa dan mukjizat diturunkan.
(Karanganyar, 2023)
===
*Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Dosen di Universitas Dehasen Bengkulu. Alumni Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), Mengunjungi Janabijana (2020), Peristiwa yang Kami Sepakati (2022), & Manten (2022).