LiteraSIP

1 Oktober 2023

Pesona Si Setan Gunung

Oleh Wahyu Annisha*

 

 

“Aku dengar kamu masuk rumah sakit sepulang dari naik lima gunung berurutan.”

Jay menyeruput kopinya. Bangga rasanya dikenal sebagai pendaki.

Jelang tengah hari, kantin kampus  sepi. Ini memang jam kuliah, tapi Jay jenuh. Di kantin hanya ada Fia, cewek manis satu fakultas, beda jurusan.

Mereka tidak dekat, tapi Jay butuh teman ngobrol. Entah mengapa Fia sendirian di kantin. Mungkin kelasnya sudah bubar atau justru baru ada siang nanti.

“Pasti sulit ke puncak gunung,” Fia menyeruput es tehnya.

“Kau bisa belajar dari gunung yang landai.”

“Kau masih pemulihan, tak mungkin menemaniku mendaki.”

“Coba bulan depan. Kau bisa latihan dulu, jalan kaki sambil bawa beban berat.”

“Gunung landai mana yang kau sarankan?”

“Kawasan Dieng, kau bisa menikmati kebun sayuran. Naik ojek lewat jalur Sikunang sampai Pos 2 lalu jalan kaki sejam, sudah sampai puncak Gunung Bismo. Atau Gunung Prau lewat jalur Patak Banteng, itu juga cepat.”

“Apa bedanya Bismo dan Prau?”

“Di puncak Prau bisa lihat Gunung Sumbing dan Sindoro, persis seperti yang ada di logo minuman air mineral yang terkenal itu.”

“Aku pilih Prau!”

“Biar Prau tidak ramai, kita berangkat saat hari kerja. Cek jadwal kuliahmu dan kuliahku yang kosong.”

“Pipisnya di mana?”

“Di semak-semak bersama langit biru dan hembusan sang bayu.”

Fia meringis lalu menyodorkan bolpen dan kertas, “Apa yang harus aku bawa.”

“Kita menginap, bawa tenda.”

Fia meringis lagi membaca catatan Jay. Terbayang beratnya. Jay menyarankan Fia jangan beli tenda dan carrier, cukup sewa. Sepatu dan jaket cukup. Kompor dari Jay. Mereka patungan beli gas, bahan makanan, minuman, juga biaya transportasi.

Fia termenung. Ternyata naik gunung butuh persiapan matang fisik, mental, dan uang.

***

Jay dan Fia bertemu di Terminal Bus Giwangan.

“Dia satu angkatan, beda fakultas,” Jay memperkenalkan Doni.

“Sering naik gunung?” Fia melirik carrier Doni.

“Doni itu setan gunung,” Jay tertawa.

“Aku sudah lama tidak ke Prau. Lebih sering ke gunung luar Jawa. Waktu Jay bilang mau ke Prau, langsung aku tertarik,” jelas Doni.

Di bus menuju Wonosobo, Fia duduk bersebelahan dengan Doni. Fia selalu tertawa-tawa.

Mereka turun di Taman Plaza Wonosobo, lalu naik bus kecil menuju Dieng. Jam menunjukkan pukul 09.09 WIB saat mereka turun di pertigaan berplang hijau bertuliskan Gunung Prau 2.565 mdpl Patak Banteng. Di basecamp, mereka mengisi formulir registrasi, menyerahkan fotokopi KTP, dan membayar tiket masuk.

“Berdoa sebelum mendaki,” ajak Jay yang dipatuhi kedua temannya.

“Pelan-pelan saja jalannya, ada banyak anak tangga di depan,” ujar Doni pada Fia.

“Kau bisa naik ojek ke Pos 1,” saran Jay.

“Aku kuat, kok,” Fia terpukau dengan hamparan ladang warga. Dia sibuk mengambil foto terong, kubis, dan lain-lain.

Di jalur Pos 1 ke Pos 2 pemandangan makin indah. Ada bunga-bunga liar di pinggir jalan. Lagi-lagi Fia sibuk berfoto.

“Hemat energi, Fia. Kita masih harus mendaki,” Jay duduk di kursi kayu Pos 2.

Jalur pendakian menuju Pos 3 diteduhi pohon-pohon tinggi. Fia duduk merengut di tanah dekat plang merah bertuliskan ‘mata air siap minum’.

“Tidak kuat gendong carrier,” bisiknya.

Doni memanggul carrier Fia, tapi jalan Fia tetap melambat. Jay yang memimpin barisan ikut melambat.

Tiba di Pos 3, tiba-tiba hujan. Jay mengajak Fia berlindung di shelter.

“Maaf, Don, kamu jadi berat bawa carrierku.”

Doni menunjukkan otot lengannya. Fia tertawa.

Hujan reda. Mereka lanjut mendaki. Langkah Fia makin berat, banyak tanah sehabis hujan menempel di sepatunya.

“Aduh!”

Doni yang berjalan paling belakang, sigap menangkap tubuh Fia, “Kamu capek? Kita istirahat dulu.”

“Kepleset,” Fia gugup menatap mata elang Doni.

Mereka tiba di Plawangan, Pos 4. Kabut menebal, dingin. Mereka memakai jaket. Jay mendirikan tendanya. Doni mendirikan tenda Fia. Dan Fia menonton. Jay lanjut menyiapkan hidangan panas. Fia menarik cemilan dari carriernya.

Jay melirik, “Sudah kubilang, yang paling bawah carrier itu sleeping bag dan pakaian ganti. Makanan dan peralatan masak di tengah. Jas hujan, P3K, dan jaket di atas.”

“Sini aku bantu,” Doni merogoh carrier Fia. “Apa ini?” Doni menunjuk sesuatu di dalam carrier.

“Kutang,” Fia tersipu.

Doni menjauh, Jay tertawa, “Pakaian ganti dibungkus plastik biar tidak kehujanan atau kena kotoran.”

Kabut menghilang. Pemandangan terlihat jelas.

“Logo! Logo!” Fia heboh.

“Aku bilang dia, di Prau bisa lihat langsung logo minuman kemasan,” bisik Jay disambut tawa Doni.

Doni menawarkan diri jadi juru foto. Fia berpose. Jay menyendiri menikmati alam.

Malam itu Jay dan Doni masak. Lagi-lagi Fia hanya menonton.

Tengah malam Fia memanggil-manggil Doni. “Kebelet,” ujar Fia malu-malu.

Doni melongok dari pintu tenda dengan mata merah menahan kantuk. Dia keluar tenda sambil membawa senter. Dia bernyanyi-nyanyi. Suara sumbang itu membuat Fia tenang ada yang menemani.

“Fia, sunrise!” teriak Jay.

Fia bangun dengan rambut acak-acakan. Dia terpukau melihat semburat merah di timur. Lagi-lagi Doni jadi juru foto. Jay pergi entah kemana.

Jay kembali lalu masak sarapan bersama Doni. Fia tinggal makan. Jelang siang mereka pulang ke Yogya.

***

“Kemarin aku ke Prau dengan Jay dan Doni,” cerita Fia pada Ayu, anak pecinta alam.

“Aman kalau dengan Jay dan Doni. Jam terbang mereka tinggi.”

“Doni memanggul carrierku, menolongku saat aku jatuh, mendirikan tendaku, memasak bahkan menemaniku saat aku kebelet. Kamu punya nomor ponselnya?”

“Kamu berjam-jam dengan dia, kenapa tidak minta langsung?”

“Lupa, tapi rasa tanggung jawab dia tinggi,” dada Fia berdesir.

“Pendaki cowok memang begitu ke kita. Eh, dosenku datang!” Ayu bergegas pergi.

“Dasar jomblo! Bilang saja iri!” dengus Fia.

***

“Hai!” Fia deg-degan bertemu Doni di halaman perpustakaan.

“Rajin!”

“Iya, mau bikin tugas,” Fia berharap Doni sigap membantunya membawakan buku-buku yang dia bawa, seperti saat di gunung.

Tiba-tiba ada vespa berhenti. Pengemudinya berjaket merah dan berhelm tertutup.

“Aku duluan, ya!” Doni duduk di boncengan dan vespa melaju.

Fia tertegun. Doni sibuk, gumamnya.

Malam itu Fia mengunggah foto-foto ke Prau di instagram. Dicarinya instagram Doni. Ada foto Doni diboncengan vespa, persis seperti vespa yang Fia lihat tadi. Tangannya memeluk pinggang gadis tomboi berjaket merah.

Selamat atas lamarannya, Don. Semoga lancar sampai ijab kabul, tulis Jay di kolom komentar. Fia gemetar.

 

===

*Wahyu Annisha lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB). Suda 60 buku; baik solo, duet, dan antalogi. Tulisannya juga terbit di koran Kedaulatan Rakyat.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *