5 November 2023
Puisi-Puisi Joni Hendri
Oleh Joni Hendri*

Berdiri di Tepi Laut
Ada angin musim utara, menggangguku dalam dada.
Pekik elang sayup-sayup memecah sunyi.
Hampasan pantai menggunung saat petang:
“Akulah Melayu yang melamun, memandang gemuruh ombak. Takut kehilangan bentuk oleh kutuk!”
Raja Melayukah itu?
Menyeru saban waktu.
Memanggil-manggil Riau, di depan pintu.
Memendam dendam di lubuk yang meliuk-liuk.
Perasaan yang akan mengamuk, menyebat-nyebat pada ulu hati.
Pekanbaru, 2022
Minum Kopi untuk Mematikan Sepi
Cangkir terisi: “Ada kopi kegelapan dan kesunyian!”
Mungkin ada lalat-lalat melipat tangan di pinggir gelas. Pagi itu, adalah pagi yang dingin. Jam berputar dengan cepat, meletakkan usia di ujung waktu. Sesekali aku buka mata. Melihat luar, di celah tingkap dalam keadaan gagap.
Aku lihat luar, ada daun-daun tua berjatuhan. Terbang ke ujung sungai, hinggap di punggung kerbau. Bergulir menyentuh batu-batu, lalu hening. Cangkir tetap terisi kopi.
Bibir rapi terkunci, segala terasa pahit: “Aku bagai cangkir ini, celaka!” Kekesalan yang menghujani. Membasahi tubuh yang tegak seperti tonggak.
Tingkap telah kubuka sejak musim sepi. Memasukkan suara-suara angin. Aku kenali suara anak-anak mengaji. Sambil minum kopi, untuk mematikan sepi.
Bersih dari segala hitam, hanya basuhan maut. Tegukan mengutuk, di sebalik daun tingkap.
Ada rasa candu yang mengalir di tenggorokan. Tangan pun merapat, memegang telinga gelas. Menumbangkan tubuh malas, pelan-pelan kopi tumpah sepanjang pagi.
Kini cangkir hanya terisi: “Bubuk rindu, dan kopi baru!”
Rimbo Panjang, 2023
Pesan pada Senja
Telah kukirimkan pesan kepada senja. Lewat puing-puing yang terpecah belah. Tempat mengalir darah sejarah. Lewat sinar zaman yang tajam masuk ke mata. Bangunan-bangunan yang telah menyatu, dan koyak dalam tubuh.
Masih sanggupkah menerima pesan itu?
Pernah aku berkata: “Waspadalah” setiap galau yang dilangitkan, pasti doadoa selalu tak selesai. Pesan-pesan hanya mengembara, mengadu tentang perih. Begitu pesan itu datang, mata pun hujan.
Hakikat pesanku! Menyentuh langit rumah, sebelum sampai di tiang patah. Sebelum diundang suara-suara azan di menara.
“Suara magribkah itu?”
Pesan senja itu kembali terkirim lewat whatsApp! Terus mengirim teks-teks panjang, dengan sampiran. Semua tulisan lebam, bekas airmata. Terlihat ada dukalara, yang belum terkirim. Seperti menyimpan nespa, dengan antrian.
Senja itu sebuah negeri. Tempat orang Melayu menari. Setelah pelayaran raja Melaka, diusir oleh Protugis yang berkumis. Pesan itu terkirim ke mana-mana, sampai ke puncak gedung yang menyuntik kepala.
Rimbo Panjang, 2023
Menjemput Ingatan di Rumah Tua
Berpijak pada tanah, setelah melepas sepatu yang basah. Menaiki tangga masa lalu, memanggil-manggil rindu. Di ruang muka yang sunyi. Aku duduk minum kopi.
Yang tergulung hanya tikar pandan, tempat Uwan duduk makan. Aku mendengar waktu berirama mengisahkan usia. Di jendala terbuka itu, masuk dongeng-dongeng masa kecilku.
Selembayung di ujung perabung, masih tergantung. Ia melambai-lambai seperti pucuk pakis yang terkikis. Di celah-celah lantai, kepedihanku tersadai.
Dalam dekapan jarak, hidup masih lasak. Menugal padi, sebagai pengisi dapur. Semua gagap dalam sekejap. Menggadai diri di rantau. Tapi tak lupa, tempat berdiam.
Foto-foto di ruang tengah, masih menempel di mata. Riak wajah pun menggelegar mengingat peristiwa.
Umur bagai bangkai. Melintasi jalan, tahun dan angka. Membangun ingatan di rumah panggung. Membentuk tiang tempat kucing mencakar-cakar. Kukunya terjebak jadi simbol tanpa makna.
Dari kejauhan rasa haru menderu ke rumah tua. Segalanya bertamu ke sana. Berdiam di tongkat batu yang tinggi. Tempat terakhir mengingat diri.
Rimbo Panjang, 2023
Catatan:
Uwan merupakan panggilan untuk nenek yang sudah tua.
Selembayung adalah bentuk perabung rumah Melayu.
Tersebab Seulas Nangka
“Dalam mimpi buruk, dan kisah di buku lapuk?”
Terbaca nama Wan Anom pada paragraf pertama. Menarik sungsang ingatan, tentang buah nangka yang dimakan.
Sebagai kejauhan sejarah yang rentan. Namun kisah tetap lalu-lalang setiap petang. Dalam kitab Melayu, yang dirapal para perayu.
Di pintu, Mahmud sedang menunggu. Detak jantungnya menggerutu, jadi sebuah kebebasan yang paling riuh.
Megat terus meracau tentang tumpukan air mata. Saat bertikam di perbatasan. Mengusir Belanda pada bayang-bayang mantra.
Ada yang memanggil, kemudian mencatat kepedihan. Setelah kehilangan tanda-tanda, pada celah pintu yang terbuka!
Tanpa rasa bimbang, pisau-pisau itu membuka perut. Mengiris dendam, untuk memadam nafsu yang geram.
Wan Anom: “Kaukah Mahmud? Mengaum, setelah nangka melewati dahaga. Mendurhaka? Tapi aku takkan mati!”
Setelah Megat terperanjat, pulang dari menikam gelombang. Amuk jumat, dimulai saat takbir diangkat. Keris berkarat, berkuasa menembus kulit.
Tak ada yang terlaknat, selain daulat yang mengumpat:
“Bukankah ini aib Mahmud? Tersebab seulas nangka!”
Sukajadi, 2023
===
Joni Hendri kelahiran Teluk Dalam, 12 Agustus 1993. Pelalawan. Alumnus AKMR Jurusan Teater. Dan juga alumnus UNILAK Jurusan Sastra Indonesia. Karya-karya berupa naskah Drama, Essai, Cerpen, dan Puisi. Sudah dimuat di beberapa antologi dan media seperti: Jawa Pos, Riau Pos, Solo Pos, kompas.id, Dll. Bergiat di Rumah kreatif Suku Seni Riau dan bergiat di Komite Teater Dewan Kesenian Kota Pekanbaru (DKKP). Sekarang mengajar di SD Negeri 153 Pekanbaru.