8 Oktober 2023
Dengusan Babi
Oleh Aliurridha*

Bus melaju kembali setelah beristirahat cukup lama untuk mengganti ban. Lajunya seperti lelaki tua di pelupuk usia. Setiap digas sedikit lebih kencang, terdengar suara mesinnya batuk-batuk. Tadinya aku sama sekali tidak memerhatikannya karena tertidur nyenyak. Kali ini aku tidak tidur dan memilih mencermati jalan yang pastinya akan sering aku lewati selama dua tahun ini.
Di sepanjang jalan kutemukan beberapa perkebunan sawit. Kemudian di beberapa tempat kulihat warna-warna hijau diselingi warna merah batu bata dan bangunan-bangunan besar yang terbengkalai. Sejak mekar menjadi kabupaten baru empat tahun lalu, tanah ini langsung digempur oleh pelbagai perusahaan tambang. Kini, perusahaan-perusahaan tidak lagi aktivitas karena pemerintah pusat meminta agar smelter dibangun terlebih dahulu, agar pengolahan bisa dilakukan di sini, agar kapal-kapal kargo dari luar itu benar-benar hanya membawa timah dan bukan yang lainnya.
Beberapa kali bus yang kutumpangi berpapasan dengan truk-truk murung yang membawa tumpukan batu maupun kayu untuk dijual. Semakin lama kurasakan jalan ini semakin buruk saja. Tidak hanya kelokan-kelokan tajam yang berdampingan dengan jurang di sebelah kiri atau kanan, tetapi juga tanjakan dan turunan tajam dengan aspal kasar yang penuh lubang; badanku sampai berloncatan di kursi penumpang.
Sekarang aku nyaris tidak mendengar lagi suara teman-temanku. Keluhan-keluhan mereka yang tadi sepertinya sudah habis ditelan lelah. Sebelumnya mereka tidak henti mengeluh begitu melihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa tanah ini lebih parah daripada yang mereka bayangkan. Tanah ini berdenyut lesu seperti denyut nadi wanita tua. Aku mendengar orang-orang meninggalkan tanah ini untuk mencari penghidupan, dan kami malah dikirim ke sini untuk mendapat penghidupan. Kuperhatikan pohon-pohon yang berlarian di balik jendela bus. Kubayangkan mereka adalah orang-orang yang ingin segera enyah dari tanah ini.
“Siapa yang dapat penempatan di Bende?” tanya Pak Torikh memecah hening. Pak Torikh adalah orang dari provinsi yang mengantar kami. Wajahnya selalu terlihat serius. Meski begitu, apa yang keluar dari mulutnya lebih banyak candaan.
Karena tidak mendengar jawaban, Pak Torikh mengulangi lagi pertanyaan itu untuk kedua kali. Teman sebangkuku menyenggol lenganku. Lalu aku mengangkat tangan.
“Ini tempat tinggalmu nanti selama dua tahun. Kamu yang paling dekat dengan kota. Tapi sabar-sabar, ya, di sini tidak ada sinyal.”
Setelah mengatakan itu dia tertawa. Aku tidak mengerti di mana lucunya, tapi orang-orang di bus ikut tertawa. Mendadak mereka punya suara. Mungkin mereka berpikir, separah-parahnya desa penempatan mereka nanti, tempatku ini yang paling parah.
“Itu namanya gunung Lamotia,” kata Pak Tando. Dia adalah orang sini yang ditugaskan menjemput kami. Ketika dia menyebut Lamotia, pandanganku tertuju pada sebuah gunung yang terlihat sepertinya baru saja kejatuhan bom atom pada bagian puncaknya; puncaknya hilang, dan di beberapa bagian terlihat warna hijau yang terkupas dan tergantikan warna merah batu bata.
“Dulu gunung itu tingginya hampir tiga ribu meter. Sekarang tidak sampai dua ribu. Orang-orang itu bukan hanya menambang timah, tapi juga Lamotia,” lanjut Pak Tando menerangkan. Kutangkap ada kesal dalam nada bicaranya.
Bus tiba-tiba memelan, seolah ikut memasang telinga demi mendengar penjelasan Pak Tando. Aku menatap tubuh Lamotia yang menderita, hijau kulitnya terkelupas kurap tambang.
“Jadi, bagaimana? Apa benar Bupati akan datang?”
“Iya, Pak Bupati datang.”
“Wah, luar biasa Pak Bupati. Baru dia sepertinya Bupati yang sudi menyambut anak-anak muda ini.”
***
Kami tiba di Kota Kecamatan menjelang siang ketika panas bumi Sulawesi sedang berada di puncaknya. Kuperhatikan wajah-wajah kelelahan kawan-kawanku yang ingin segera tiba di desa penempatan setelah menempuh perjalanan yang amat melelahkan. Beberapa teman perempuanku tadi muntah-muntah di sepanjang jalan, aku yakin mereka ingin sekali rebah di kasur. Aku saja sudah tak tahan ingin sekali meluruskan badan, tapi apa daya, kami masih harus menunggu untuk itu.
Saat itu sebenarnya sudah ramai orang di kantor camat. Kepala desa dan lurah tempat kami akan tinggal salama masa kontrak ini sudah datang. Para Camat dan pejabat dari provinsi dan kabupaten juga sudah berada di sana. Tapi karena Bupati belum datang, acara belum bisa dimulai. Lumayan lama kami menunggu sampai Rombongan Bupati datang bersama iring-iringan yang agaknya terlalu meriah untuk sekadar menyambut kami.
Seorang panitia meminta kami untuk mengambil tempat duduk yang telah disediakan. Kemudian acara dimulai, dibuka dengan sambutan basa-basi khas birokrasi, dan dilanjutkan dengan pidato Bupati yang terasa sekadar formalitas belaka. Aku mendengarkan dengan malas. Benar-benar tidak ada secarik pun yang menarik dari isi pidatonya. Daripada pidato, dia lebih terdengar sedang bercerita, dan sayangnya dia adalah pencerita yang buruk. Sampai kemudian dia membahas soal moratorium tambang, baru aku agak serius mendengarkan. Pak Bupati bercerita tentang bagaimana tambang yang ditutup membuat warganya kesusahan. Setelah lebih satu tahun ditutup, banyak orang kehilangan pekerjaan dan sekarang dia sedang memperjuangkan agar tambang-tambang itu bisa beroperasi lagi demi rakyatnya bisa kembali hidup layak.
“Sembari menunggu izin, kami berharap dengan datangnya teman-teman pemuda seperti kalian akan membuka peluang lain untuk warga di sini,” kata Bupati penuh harap.
Harapan itu terdengar muluk di telingaku. Namun begitu aku menoleh ke kiri dan kanan, kulihat wajah teman-temanku terlihat percaya diri. Mereka sepertinya merasa yakin akan bisa menciptakan perubahan di tanah ini. Mendadak aku merasa tempatku bukan di sini. Lalu tatapan kualihkan kembali ke lelaki di podium. Aku tersentak kaget begitu melihat kepalanya telah berganti kepala Babi. Kupandangi sekeliling, kulihat orang-orang di sekelilingku, kepala mereka juga telah berganti dengan kepala babi. Kupejamkan mata, lalu kubuka lagi, ternyata aku salah lihat. Sepertinya aku butuh pakai kacamata, kataku dalam hati. Kemudian secara tiba-tiba aku mendengar dengusan babi minta makan. Aku berteriak ketakutan, meminta bantuan. Tapi yang keluar dari mulutku malah suara dengusan babi yang sedang kelaparan. (*)
Blencong, 2020
===
*Aliurridha, Pengajar di Universitas Terbuka. Diundang sebagai emerging writer dalam Makassar International Writers Festival 2023. Bergiat di komunitas Akarpohon.
Karya yg luar biasa. Semoga sy bs mencontoh.