LiteraSIP

28 Juli 2024

Mayat-Mayat di Laut

Oleh Bagus Sulistio*

 

 

Entah siapa yang memulai namun hal ini sudah menjadi tradisi. Terus dilakukan tanpa ada yang bisa menghentikan. Sebenarnya sebagian orang yang berakal menolak, tapi mereka hanya mengingkarinya dengan hati. Mereka tidak punya tangan yang kuat untuk mengubah, tidak punya lidah yang sakti untuk memindah tapi mereka hanya punya hati untuk mengingkari. Begitu juga aku, yang hanya bisa menolak dengan hati.

“Sudahlah, jangan dipikirkan. Jika itu sudah menjadi kebiasaan, kenapa harus dipikirkan? Terus ikuti dan jalani.”

“Tapi… Kalau hal ini melanggar hak asasi manusia, apakah kita hanya diam saja?”

“Aku tidak tahu. Kau cari saja sendiri jawaban atas pertanyaanmu.”

Aku pun mengadakan riset kecil-kecilan. Mencari informasi dan fakta tentang hal itu. Kucari info dari buku-buku yang ada di perpustakaan daerah, aku tanyakan kepada orang yang sudah lama di daerah ini dan hasilnya masih nihil.

“Kakekku pernah bercerita tentang hal itu. Coba saja kau kunjungi dia. Siapa tahu kau menemukan jawaban atas pertanyaan yang sukar itu.”

Aku menuju tenggara kota. Sesuai dengan alamat yang ia tujukan—menemui seorang kakek tua dengan kursi roda selalu menjadi tempat duduknya.

“Siapa kau?” tanyanya ketika kami sudah berada di ruang tamunya.

“Seorang pemuda yang membawa rasa keingintahuan tinggi.”

“Rasa ingin tahu tentang apa?”

“Tentang adat istiadat yang tidak sesuai dengan hak kemanusiaan.”

“Maksudmu tentang mayat-mayat di laut kita?” Kakek itu menghela sambil memasang wajah masam seakan tidak suka. “Kau ambil buku hitam di rak itu.”

Aku menuju rak yang ia tujukan. Tidak terlalu besar rak itu. Mungkin selebaran lemari empat pintu dengan tinggi setinggi badan orang dewasa. Rak buku yang penuh dengan buku berdebu menghadap di depanku. Beragam buku yang menghiasi rak tersebut. Paling banyak buku-buku sejarah setelah aku ambil dan lihat sampul buku karena rasa penasaran. Tapi bukan itu tujuan utamaku. Buku bersampul hitam polos-lah yang menjadi tujuanku berdiri menghadap tak ini.

Kuambil buku itu dan kubawakan kepada kepada kakek tua yang tak sedikit pun beranjak dari kursi rodanya.

“Kenapa buku ini kau berikan kepadaku? Kau bacalah sendiri.”

Agak menyebalkan memang. Jika ia tidak dibutuhkan tentu akan kutarik dirinya dari kursi roda dan mendorongnya ke tanah. Tapi rasa butuh dan iba menghapus niatan tersebut. Aku harus segera mengambil buku yang telah ia julurkan kepadaku.

Halaman demi halaman aku buka dengan hati-hati. Kertas usang nan rentan bisa saja sobek jika aku terlalu kasar dalam menggerakkannya. Hal itu yang aku takutkan, apalagi sobekan tersebut memuat informasi yang aku cari. Sungguh celaka diriku.

Setelah beberapa menit berkutat dengan halaman dari buku ini, aku tahu buku ini. Buku yang memuat sejarah terjadinya kota ini dan segala hal ihwalnya. Dan dipertengahan buka aku menemukan apa yang dicari. Dari buku ini, aku tahu kenapa kegiatan itu menjadi adat istiadat di kotaku.

“Mereka tak mau tertular. Mereka takut pada penyakit. Jika mereka membawa jasad-jasad itu kemungkinan besar mereka akan tertular. Sehingga mau tidak mau mereka harus mengembalikannya pada dewa laut. Biarlah dewa yang membersihkan penyakit di jasad-jasad itu,” begitu sekelumit informasi yang ada di dalam buku. Selainnya tidak ada paragraf, kalimat bahkan kata satu pun yang memuaskan rasa dahaga penasaranku.

“Siapa yang dimaksud mereka dalam buku ini? Lalu ada wabah apa?” tanyaku kepada si tua yang mudah-mudahan bisa lebih memberikan informasi.

“Mana aku tahu! Kau tanya kepada penulis buku itu!”

Dengan panas hati aku pergi meninggalkan si tua yang menyebalkan. Benar-benar tanpa pamit kepergianku itu. Dan mungkin ia sudah paham kenapa aku buru-buru pergi dari rumahnya.

Setelah kucari alamat dan menanya-nanya perihal alamat rumah penulis buku sejarah kotaku. Aku tahu langsung pergi dan mengunjunginya. Aku berharap sikap penulis itu tidak sama seperti si tua yang terakhir aku temui. Semoga berkat penulis itu, segala keluh kesah dan penasaran terbayar seketika.

“Ada yang bisa saya bantu?” ucap seseorang pemuda yang barusan membukakan pintu untukku.

“Apakah kau penulis buku sejarah kota ini?”

“Oh itu Ayahku.”

“Bolehkah aku bertemu?”

“Boleh. Silahkan masuk dulu.”

Aku duduk di sebuah ruang tamu yang berisi benda-benda kuno seperti patung, lukisan dan guci. Paling banyak lukisan kuno menghiasi di dinding-dinding ruangan itu. Ketika aku ingin mendekati lukisan-lukisan itu sayangnya sang tuan rumah datang. Pemuda itu kembali bersama lelaki tua di kursi roda.

“Ada yang bisa saya bantu, Anak Muda?” tanya lelaki di kursi roda.

“Saya ingin bertanya tentang buku Bapak yang sejarah kota ini.”

“Ohh silahkan tanyakan saja.” Aku sangat bersyukur ternyata bayanganku tentang penulis buku sejarah ini tidak benar. Aku kira ia akan menutup-nutupi informasi. Ternyata ia sangat terbuka dan berkenan membagikan segala informasi yang mengguncang laparnya rasa penasaranku.

“Sebelum menjadi tradisi, dahulu bangsa kita itu kebanyakan bekerja menjadi nelayan. Mereka setiap hari berkecimpung di dunia laut. Dan hidup mereka aman-aman saja. Hingga suatu saat dia datang,” jelasnya.

“Dia datang? Dia siapa?”

“Tentara Tuhan. Pesuruh dewa laut yang tak nampak. Mereka menyerang nelayan-nelayan kami. Satu persatu mati mendadak. Hingga seorang pertapa dan ahli agama datang menyarankan sesuatu, ‘Buanglah mereka yang mati ke laut. Biar menjadi sesaji untuk dewa laut,’ seperti itulah kiranya.”

“Lalu mereka setuju?”

“Tentu setuju dan terus melakukannya hingga setengah penduduk kota hilang di lempar ke laut. Lalu kutukan itu juga ikut hilang.”

“Kalau kutukan itu sudah hilang, kenapa sampai sekarang pembuangan jenazah terus lakukan?”

“Agar dewa laut tidak kembali menebar teror.”

Aku merasa puas dengan jawaban yang diberikannya. Tapi otak penasaranku masih menghantui. Apakah benar dewa laut itu ada? Apakah benar dengan membuang mayat-mayat ke laut malapetaka akan hilang? Entahlah. Yang jelas pertanyaanku perihal kenapa para jenazah dibuang ke laut sudah terjawabkan dan aku bisa pulang membawa jawaban serta pertanyaan-pertanyaan

Banjarnegara, 2023

 

===

*Bagus Sulistio, lahir di Banjarnegara, 16 Agustus 2000. Berdomisili di Pondok Pesantren Al-Hidayah, Karangsuci, Purwokerto. Saat ini ia mengabdikan diri menjadi guru wiyata bhakti. Ia pernah menjadi mentor kepenulisan cerpen di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto. Ia juga menjadi wakil ketua Forum Lingkar Pena (FLP) ranting Banjarnegara dan anggota di KPBJ. Hikayat Jambrong dan Cerita Orang Aneh Lainnya (2023) merupakan buku kumpulan cerpen miliknya. Karyanya terdokumentasikan dalam beberapa antologi cerpen serta tersiar pada beberapa media seperti Kompas Id, Minggu Pagi, Solopos, Banjarmasin Post, Harian Sultra dan masih banyak lagi.

 

1 thought on “Mayat-Mayat di Laut”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *