16 Juli 2023
Mereka Di Antara Pasar dan Terminal
Oleh Ranang Aji SP*

Bila kau sempat singgah di kota B, dan berjalan keliling di sekitar pasar, dekat tempat wisata di kota B, kau tidak saja akan menemui sampah-sampah berupa daun-daun, kertas plastik pembungkus, botol-botol yang berserakan di sepanjang jalan.
Pada garis tepi jalan, kau akan lihat pula dokar-dokar yang diparkir bersama motor, becak, dan angkot berhadapan dengan terminal sepi hampir mati.
Di antara sampah-sampah yang berserakan dan lalat-lalat yang beterbangan, ada pula sampah-sampah dari jenis manusia dan binatang. Mereka biasa duduk-duduk memandangi setiap orang yang lewat. Di antara mereka yang disebut dan disangka tidak berguna itu, ada pencopet, pemeras dan para pemalas yang bergantung pada takdir baik yang datang, tapi jarang datang. Jadi, mereka lebih suka bergantung pada nasib baik orang lain.
Di sana, ada pula kucing-kucing liar yang selalu mengincar dan curiga di antara tumpukan sampah.
Orang-orang itu berkumpul dan mengawasi setiap mahluk yang terlihat dengan wajah muram, perut lapar, dan hati yang suram, disertai rasa dendam yang entah pada siapa.
Lalu, ketika saatnya tiba, mereka menghilang ketika harus menghilang. Untuk yang terakhir itu, biasanya mereka akan muncul kembali bersama polisi masih dengan wajah muram. Itu terjadi setelah beberapa hari atau berbulan-bulan kemudian.
Mereka sepenuhya mengikuti ritme hidup yang sederhana dan membosankan. Jika pagi menjelang, dan kabut tipis menyebarkan rasa dingin, ketika pasar mulai ramai dengan para penjaja dan pembeli –mereka tetap saja pulas, meringkuk di antara bangku terminal. Tidur tenteram bersama endapan ciu di kepala, atau apa saja yang bisa membuatnya mabuk semalam.
Dan ketika matahari mulai menyengat, tubuh mereka mulai menggeliat perlahan, dan terbangun satu persatu dengan perut mual dan kepala pening. Kemudian, diringi rasa lapar dan rongga mulut penuh asam, mereka berjalan untuk berkumpul di bawah sebuah pohon Tanjung bersama tukang ojek untuk bermain kartu atau catur. Mereka berdiri sambil ikut berkomentar, sebagian lain hanya menonton, dan lainnya menyoraki sambil memaki.
Lalu, satu-satu mereka meminta segelas kopi atau teh panas di warung seberang jalan. Setelah itu mengambil satu batang rokok dan menyulutnya.
“Jangan lupa catat bonnya di buku itu,” kata pemilik warung memperingatkan.
“Tidak gratis?” tanya salah seorang di antara mereka yang datang berniat bercanda.
“Kamu gila, apa? Mati saja perlu biaya.”
“Bercanda saja.”
“Aku tidak,” kata pemilik warung.
Menjelang siang, ketika bus-bus dalam atau antarkota mengangkut semua jenis manusia, termasuk turis berdatangan –sebagain yang masih berpikir agak normal segera beranjak untuk mendapatkan uang jasa dari para kondektur bus. Sebagian lain membaur dalam kerumunan penumpang dan mempraktikkan keterampilan kotor mereka.
Beberapa turis yang berkulit putih atau berwarna, dalam atau luar negeri, semua bernasib sama bila bertemu mereka ini. Tetapi sebagian turis cukup beruntung hanya ditawari jasa menumpang becak atau dokar dan penginapan, meskipun dengan ongkos yang membengkak.
Bila mereka mendapatkan sedikit rezeki, segera saja wajahnya menjadi ceria dan bergegas pergi sebelum semuanya berubah. Mereka sadar, hidup selalu susah diduga. Kecuali takdir miskin mereka. Tetapi bila gagal, wajah kuyu mereka menekuk dan kembali ke kerumunan teman-temannya sembari mengutuk keadaan.
“Juancuk, huassu hari ini!” Dan waktu terus berlalu.
Begitu tiba saatnya makan siang, mereka biasanya berkumpul di sebuah warung kotor dan memberi beban pada pemilik warung dengan hutang yang biasanya menjadi masalah di kemudian hari karena terus menumpuk dan tak kunjung dibayar.
Semua itu terus berulang seperti matahari yang terbit di pagi hari dan tenggelam di sore hari.
Tapi, pemilik warung, janda setengah tua dengan kulit hitam dan wajah putih penuh bedak tebal dan gincu merah, semerah darah, selalu memaafkan mereka.
“Kamu pasti anak sundal yang tak laku dijual! Bayar kalau punya uang!”
Mulutnya mungkin kasar, hingga bisa melukai hati yang lembut milik manusia seperti mereka, tapi rasa sakit itu sudah tak ada.
Jadi semuanya hanya diam dan pergi tanpa membayar.
Untuk sebagian orang asing, perempuan itu tampak kasar dan menakutkan. Bila kau melihatnya sepintas, kau tak akan menemukan kebaikannya. Tetapi bagi mereka, ia adalah manusia paling mulia yang ada di muka bumi. Semacam malaikat yang nyata. Ia adalah ibu pelidung bagi mereka yang nyaris putus asa.
Di sana, di terminal itu, dekat pasar di kota B, kau akan menemukan pelbagai hal, bahkan, sesuatu yang tak kau sadari. Sinar matahari yang penuh, debu-debu, angin, dan cerita yang selalu sama beserta detak waktu yang terasa cepat. Kecuali beberapa orang yang sedang menunggu waktu untuk bisa bahagia. Dan itu artinya di antara mereka semua. Di sana, di antara kehidupan pasar dan terminal yang nyaris mati karena desakan industri wisata –jika kau membayangkan tentang sebuah pasar yang dipenuhi dengan segala hal yang dibutuhkan, kau benar.
Tapi kau juga salah. Di sana, semuanya ada dan saling membutuhkan.
Di sana ada, dan sebaiknya menghindar. Karena di sana selalu ada paradok dan ironi.
Di sana semuanya hidup. Di pagi hari, di sore hari, di malam hari.
Sekilas, semua terasa baik-baik saja. Termasuk di antara mereka yang selalu bersama ceceran sampah dan kucing-kucing liar yang selalu mengincar dan curiga.[]
===
*Ranang Aji SP menulis fiksi dan nonfiksi. Karya-karyanya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Dalang Publishing LLC USA menerjemahkan dua cerpennya ke dalam bahasa Inggris dan naskahnya berjudul “Sepotong Senja untuk Pacarku: Antara Sastra Modern dan Pacamodern, Makna dan Jejak Terpengaruhannya” menjadi nominator dalam Sayembara Kritik Sastra 2020 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Buku Kumcernya “Mitoni Terakhir” diterbitkan penerbit Nyala (2021).
Cerpen ini enggak seperti cerpen yang biasa ku baca. Ada konflik dan ada penyelesaian masalah. Apa karena keterbatasan halaman? hanya dibatasi kurang dari 1000 kata?