LiteraSIP

9 April 2023

Nyidam Durian

Oleh: Sayekti Ardiyani*

 

 

Yuni mengelus-elus perutnya. Keluar dari tempatnya bekerja di pabrik pembuatan sosis, aroma durian menguar. Penjual durian tepat berada di depan pabrik. Ia melangkah hingga tepi jalan untuk menunggu angkot yang membawanya pulang. Angkot biru tiba. Hup, pelan-pelan ia naik ke atas angkot, tidak boleh ada goncangan terlalu keras. Usia kandungannya masih berada di trisemester pertama, jadi harus hati-hati.

Sialan! rutuknya lirih. Begitu masuk angkot, aroma durian menyergap. Cobaan apa lagi ini? Di depan seorang penumpang, 3 durian tertali rafia membuat mata Yuni tak bisa beralih darinya. Ia kembali mengelus perutnya. Tak hanya sekali dua kali menelan ludah. Kapan sampainya? Mengapa angkotnya berjalan begitu lambat? Ia tak mau berlama-lama terjebak aroma durian. Bau itu semakin membuat ludahnya harus ia telan berkali-kali. Kalau saja ia punya uang lebih, sudah ia bawa pulang satu durian di depan pabrik itu. Satu saja, paling yang akan dimakannya hanya 1 biji. Tombo pingin.  Durian satu biji tidak akan membuat perutnya sakit.

Ia harus berpikir berkali lipat untuk membelinya: memikirkan belanja kebutuhan harian agar suami dan anaknya tetep bisa makan di rumah, uang saku harian anak, biaya transportasi pergi pulang kerja sampai ia dan suaminya gajian. Ada lagi uang bensin untuk transport suaminya. Saat gajian di awal bulan, aneka kebutuhan rutin sudah menanti: listrik, beras, gas, biaya sekolah, sosial. Nah yang terakhir ini yang kadang tak bisa diperkirakan. Tak berani Yuni memakai uang yang sedikit itu untuk membeli durian. Tapi durian-durian yang ditemuinya di sepanjang perjalanan pulang itu begitu menggoda. Banyak penjual durian menjajakan durian di pinggir jalan di titik keramaian.

Tiba di rumah, wajahnya begitu merana. Ia mengambil air putih banyak-banyak dan meneguknya.

“Kenapa? Capek?” tanya suaminya.

“Di mana-mana durian. Mas,belikan satu saja!” Terucap juga keinginan Yun i.

“Beli pakai uang apa? Semua uangku sudah kuserahkan padamu ‘kan? Sabarlah.”

Yuni sudah menyangka jawaban yang akan diterimanya.

***

Selepas mandi, Yuni merebahkan badan melepas lelah. Diambilnya gawai yang layarnya penuh goresan dan terlihat retak di beberapa sisi.  Gawai lama yang cukup untuk berkomunikasi dengan aplikasi Whatsapps. Ia kembali menelan ludah. Foto-foto durian bertebaran di status WA.

Nafik, teman kerjanya memperlihatkan durian-durian ndaging, baru pulang kerja sudah ada durian, bunyi statusnya.  Ani, saudara sepupunya pamer kalau sedang berburu durian. Seperti status-status biasanya, tiap kali bepergian tak ketinggalan pasang status.  Tetangga depan rumah bahkan memposting video saat belah durian. Aduh duh, makin menjadi keinginannya makan durian. Perutnya kembali dielus-elus.

Sepanjang hari, setiap kali membuka WA, status-status durian selalu menggoda.

“Ini lho Mas, pada makan durian. Kita kapan?” pintanya di hari kemudian.

“Alah, mereka hanya pamer saja. Menunjukkan kalau mereka bisa beli durian, bisa makan durian? Butuh pengakuan? Tak ada gunanya kalau hanya menunjukkan tapi tak bisa memberi. Saudaramu  itu, bisanya makan durian sendiri, kalau tidak untuk dibagi-bagi ngapain? Pernah tidak mereka mikir kalau tetangga kanan kirinya beli durian saja tak mampu?” ketus suami Yuni.

Yuni mengelus perutnya.

“Sudahlah, berhenti mengikuti status-status tak penting itu. Masanya liburan, mereka ramai-ramai menunjukkan tempat yang dikunjungi. Lomba-lomba ingin mendapat pengakuan kalau pernah ke sana. Dan kamu merengek pingin ke sana. Ben podo kancane, katamu,”

“Kalau ini bukan aku yang kepingin, Mas. Jabang bayi ini. Mas mau anak kita nanti ngeces terus karena keinginannya tak kesampaian?”

“Jabang bayi kita akan tumbuh jadi bocah yang tangguh kalau ibunya juga bisa kuat,” suaminya ikut mengelus perut Yuni dengan penuh kasih.

“Ya, Nak. Kamu akan menjadi anak tangguh yang tak mudah terbawa arus. Lihat mbakyumu dulu, dia juga tak kenal nyidam-nyidaman.” Suami Yuni mencium perutnya.

Anak Yuni yang pertama memang tumbuh menjadi bocah yang sabar. Dipaksa menerima karena keadaan orang tuanya.

Suami Yuni  menuju dapur dan kembali dengan segelas teh hangat.

“Ini minum saja, biar hilang capeknya, tidak  berangan-angan durian terus.”

Kalau sudah begini lelah yang dirasakan Yuni akan hilang oleh perhatian suaminya. Ditambah pijatan lembut pada kaki dan bahunya.

***

Makin hari status-status WA  kontak Yuni makin penuh dengan ajang pamer durian. Ia kerap menelan ludah dengan wajah memelas.

“Ya Allah, paringana rejeki buat beli durian, satu saja,” lirih Yuni sambil meletakkan gawainya.

Meski lirih, suaminya mendengar gumaman Yuni.

“Yun, berhentilah mengikuti status-status temanmu.”

“Mau bagaimana lagi Mas, hiburanku ya nonton status orang-orang. Ada yang lucu ada yang pasang status pengajian. Ada yang pasang status nasihat-nasihat.”

“Bukan hiburan yang kamu dapat kalau setiap meletakkan Ha Pe wajahmu melas begitu.”

Suaminya makin kesal karena Yuni makin merengek minta durian setiap melihat status-status temannya.

“Sudah, kamu hapus saja kontak-kontak di hapemu. Biar kamu tak bisa melihat status mereka!”

“Ya ndak bisa Mas. Bagaimana aku bisa menghubungi mereka kalau aku hapus,” protes Yuni.

“Siapa sih yang sering WA dengan kita? Paling hanya teman kerja, sama beberapa saudara, toh? Tidak banyak. Lihat saja nomernya di grup. Semua kerabat dan teman dekat nomernya ada di grup. Wong sekarang apa-apa dibuat grup!” Tegas suami Yuni.

Yuni membenarkan perkataan suaminya. Ia sendiri memang kerap kesal mendapati beranda statusnya menjadi panggung pameran.

Klik klik, Yuni memilih nama-nama kontaknya dan menghapus satu-satu.

***

Keterangan:

Ben podho kancane : biar sama dengan teman
Ngeces  : mengeluarkan liur
Paringana : berilah

 ==

*Sayekti Ardiyani, alumni Sastra Indonesia UGM yang menjadi guru sekolah dasar di Kabupaten Magelang. Lahir dan besar di Magelang. Beberapa cerpennya dimuat di media lokal, begitu pula cerpen anak dan cernak berbahasa Jawa.

 

1 thought on “Nyidam Durian”

  1. Pingback: Ruang LiteraSIP Edisi #13 - SIP Publishing

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *