31 Desember 2023
Puisi-Puisi Joko Rabsodi
Oleh Joko Rabsodi*

Cinta dari Beragam Metode Buku Pelajaran
Menjelang masuk jam siang
mengotak-atik wajahmu dalam laptop setengah usang
usaha yang aku raih bersamamu
selama ini tak dipandang sebagaimana aku memandang
dinasti yang kau setubuhi
berbekal keyakinan dan beragam metode dari buku pelajaran
dan pesan sederhana dari seorang guru saat menunggu jam pulang
semoga menjadi kunci untuk melanjutkan deskripsi berikutnya
Siang tempat orang-orang menyimpan lapar dan ngantuk
belanja mencari serpihan kebahagiaan para penjual
di depan sekolah atau di kantin paling sempit di selatan
di samping jajan dari pemberian kasih sayang
kuteruskan membaca gelisah cerpen yang selalu mengirim tanda tanya
membangun narasi dari bambu dan kayu-kayu rusak
berencana menjadi istana dengan segala ketertinggalan
Aduh, keinginan mental menciptakan masa lalu
dengan angan-angan mutakhir
membikin tubuh leyeh-leyeh di atas ubin tanpa kasur
Keinginanku mencintaimu
dengan ejaan masa lalu yang akan selalu hangat
untuk kau kenang dalam roda-roda mendatang
akulah rindu yang akan mengangkut segenap
cerita yang bakal kau injak dari shubuh sampai isya`
maka cintailah aku seperti dalam cerpen yang memberi penasaran
setiap paragrafnya
Madura, oktober 2023
Melva dan Sisa Ludah Guru Mata Pelajaran
Sebelum materi bab ketiga berlangsung
baiknya tersenyum pada catatan kecil di depanmu
melambai tangan meski sembab tak kudu diurai
berterima kasihlah pada lampu dan meja
menunggui degup jantung yang hampir copot
matematika dengan kostum calculus
menyalib tubuhmu pada sajamnya angka
Hai melva,
setangguh-tangguhnya murid menjelang sore
akan sekarat di hadapan coretan dan sisa ludah
guru mata pelajaran
radiasi pronyektor melekatkan mata pada wangi senja
lalu kata-kata menjadi selayang mimpi berlembar-lembar
Kau perlu mengutuk mata
yang merakit istirahatmu berlangsung lama
sedianya ia tegak memantau matahari dari ujung timur
ke ufuk barat, merancang angka menjadi lempengan baja
lalu duduk tafakur dengan wajah bergairah
— melva, kutunaikan kewajibanku mencintai pelajaran
yang kutumpahkan, aku sedikit khawatir surga tak kuasa
menampung kasturi ludahku yang lepas menjadi debu
Madura, oktober 2023
Data Bukti Paling Menakutkan
Betul kata ibu guru budi
membaca itu belajar berghibah dan memfitnah
membanding lalu memutus
iya atau tidak
Data dikumpulkan untuk bicara
menampar lidah
pikuknya ruang terpaku diam
sami`na wa ato`na pada abjad-abjad
Napoleon bonaparte sampai hitler
sujud di depan alif ba
Madura, oktober 2023
Manuskrip Ramuan Tuhan
Segelas wedang kunyit jahe disulur
menjelajah shubuh sebelum tarhim tuntas jadi embun
perut terlelap dalam biji-biji surga
sebagaimana adam-hawa memamah musim
dari segelintir racikan tuhan yang dicelup atau dipanaskan
Perut adalah ladang luas di antara ornamen bumi yang rusuh
lemak menyerupai pujian iblis kepada setan
gula-minyak menyabis manis lidah yang curang
gorengan menandu segala fitnah
Menyaru takdir pada ukiran masa depan
seperti dijelaskan dalam alkitab-alquran
tubuh yang kuat tumbuh dari kesadaran melupakan
kesesatan lidah memahami tekstur makanan
memijat akal di luar batas nalar
nikmat itu sandaran hidup pada sesuatu yang halal
bukan menakzimkan kelezatan ludah
Pada tubuhmu, tubuhku tuhan menudung manuskrip
pucuk daun kering dan sepasang mata kurma
mengandung kisah azali
setiap orang meracik dengan kesederhanaan doa adam
seminggu dua kali kutakdimkan dzikir rimpang
nyanyian tuhan sebelum manusia bertemu setan
wasiat itu telah kuwalikan kepada kedua anakku
Tidak ada musim dingin di tubuhmu, tubuhku
mekaran aeng paka` memilih menggugurkan daun-daun
membungkus kurus tubuh dari angin asam
tangan-tangan itu makin tak berhenti mengaduk
ramuan dan gulungan doa untuk dihaturkan
kepada tuhan
Madura, september 2023
Catatan:
Aeng pakak: air yang berasa sepat
===
Joko Rabsodi, lahir di Pamekasan-Madura. Santri yang mengabdi di SMA Negeri 4 Pamekasan. Menulis buku fiksi dan non fiksi. Buku puisinya Memancing Duka di Tubuh Ayah (Hyang Pustaka, 2023)
Pingback: PUISI AKHIR TAHUN DARI PAK JOKO – MA MATSARATUL HUDA