9 Juli 2023
Puisi-Puisi Yasir Arafat Stalin
Oleh Yasir Arafat Stalin*

DARI MAKASSAR UNTUKMU
: untuk anak-anakku
/1/
Telah kupilin kata-kata untukmu dari rahim Kota Daeng.
Rindu selalu merayakan kesedihan di antara nyala huruf-huruf
dan kepala yang kerap menampung petuah pendidikan.
Lalu puisi menjadi satu satunya jalan pulang merayakan rindu padamu.
/2/
Makassar, serupa hiruk-pikuk Kota Jakarta.
Orkestra klakson pagi dan petang
adalah musik pengiring pergi-pulang
orang-orang yang sibuk
/3/
Gedung-gedung menjulang angkuh
simbol majunya peradaban.
Pete-pete dan becak tak lagi tangguh
di jalan-jalan ibu kota.
Selepas digerus transportasi kekinian
yang terus kibarkan kemenangan.
/4/
Pantai Losari selalu menjelma ranum senja.
Tempat segala kisah bermula,
ketika orang-orang akan pulang
bersama sekeranjang siluet senja
yang akan diceritakan sebelum tidur.
Atau barangkali berakhir di beranda media sosial.
/5/
Di pantai Bayang kulukis bayangmu di atas pasir
yang tak jua temukan entitasnya.
Aroma ikan bakar dan gelak tawa berpadu
pungkasi segala bahagia paling congkak.
Dan aku, hanyalah lelaki kampung
menampung segala gundah di sana.
/6/
Benteng Rotterdam tak mampu
sembulkan bahagia.
Sejarah hanyalah reruntuhan,
jatuh ke dalam mata anak-anak
yang mencintai mall-mall berkelas.
Kisah-kisah purba mengharu biru dipelukan
pelupuk waktu.
Menjelma dongeng sebelum riuh pagi datang lagi
/7/
Somba Opu dan sebuah Baruga tua dendangkan pilu
perihal kejayaan masa lampau usir penjajah.
Sebuah meriam tua ringkih meringkuk
ditopang lapuk zaman.
Rimbun beringin menampung airmata
kisah silam
yang enggan lagi berbuah manis
di bibir-bibir malam.
Makassar, 2021
KATAKAN KEPADA IBUKU
/1/
Katakan kepada ibuku,
dapurnya adalah nasehat-nasehat
yang paling kutunggu.
Dari kepulan asap tungku pagi hari,
aku belajar perihal bagaimana
menyembunyikan airmata,
Dari bara nyala tungku api,
aku mengingat perih
yang ia perah dari arang-arang basah.
/2/
Katakan kepada ibuku,
dapurnya adalah nasehat-nasehat
yang paling kutunggu.
Dari kerak nasi, ia tangisi kepergianku
mencari jati diri,
Dari kayu-kayu bakar,
rindu acap menjalar setelah langkah kami
menjauh bersama sauh
yang jarang memberi kabar padanya.
/3/
Katakan kepada ibuku,
dapurnya adalah nasehat-nasehat
yang paling kutunggu.
Dari aroma tumis kangkung,
harapanku membumbung
melambungkan cita
yang selalu ia rampungkan
dalam doa-doa,
Dari suara-suara bunyi penggorengan
kata-katanya kerap menjelma doa
yang kusantap sebelum menuju padang bakti.
/4/
Katakan kepada ibuku,
dapurnya adalah nasehat-nasehat
yang paling kutunggu.
Begitu seterusnya…
Alor, 2022
KEPADA SUNYI DOA-DOA
pada lapang dada
kita tangkupkan sabar
bukan sekadar ikhtiar
hati selalu ikhlas mengais sisasisa harapan
dari kisi malam yang siasia
bulan kembali jatuhkan debar
dari binar nanar matamu
kutemukan segala rindu yang gahar
menghunjam tajam ke hening terdalam
kepada sunyi doa doa
lidah tak pernah mati
lambungkan syiar syair ihwal mimpi
yang pernah kita rebahkan
ke tubuh gigil pagi dini hari
lalu pada setangkup rindu
bahagia menghunus tawa
sebab riang menguar di ruang canda
tanpa tikai tanpa abai
Alor, 2022
SENJA DAN SEBUAH BALON
DI HALAMAN LIPPO PLAZA KUPANG
pada sebuah senja yang basah
kita mencoba memetik riang sekali lagi
tawa yang tak sempat terbeli pagi hari
peluk yang selalu remuk oleh jarak
menjadi tuntas serta lunas
seusai tunas-tunas bahagia tumbuh jadi suluh
di tiap-tiap lembar halaman bernama canda
di tangan seorang bocah kecil
balon mengumandangkan riuh
dari wajah mulus dan senyum tulus
gelombangkan harapan juga impian
sebab bahagia adalah menertawakan rindu
yang selalu piatu diwartakan waktu
di Lippo Plaza Kupang
kembali kita pilin kebahagiaan
yang terburai dari kalender-kalender
yang acap membaringkan sepi
di ujung temu
dan rindu selalu bertarung
tanpa jemu
Kupang, 2022
KALIMAT YANG PERNAH LAHIR
DARI LIDAHMU
oleh kalimat yang pernah lahir
dari lidahmu
pijakanku selalu berdiri kokoh
menjejal ingin
lalu membaca harapan
dari getar tanganmu
sebelum harum peluh dari lelahmu moksa
bersama seringai malam
yang kau erami sebagai doa
repih tubuhmu kerap menjuntai
di atas lampit suci lusuh
rindu tak lagi menyapa
pada kedua tangan
yang terus menangkupkan pinta
separuh harapan jatuh
pada kening mungil
kala lentik jemari
menyentuh binal kehampaan waktu
merenda bulir-bulir kisah
dari kasih tak sampai
desember selalu datang
membuka kata sebagai percakapan
yang kau tunggu sebagai penghabisan
dari sebidang dada
yang kau puja sebagai raja
pula pada rindu yang papah
kau tempa menjadi baja
laksana membuka kusut
mata air air mata
segala ucap menjadi sarat haru
lewati hari
yang kau sebut sebagai luka duka
Kupang, 2022
===
*Yasir Arafat Stalin. Lahir dan besar di Kabupaten Alor, NTT. Kini, mengabdi sebagai tenaga pengajar di UPTD SMP Negeri Latang, Kecamatan Pulau Pura, Kabupaten Alor-NTT.
LUAAARRR BIASSAAš, jadi mau REUNIāŗļø