24 Maret 2024
SURAT CINTA BUAT BUNDA
Oleh Ahmad Ijazi Hasbullah*

Kau memberikanku hidup
Kau memberikanku kasih sayang
Tulusnya cintamu
Putihnya kasihmu
Tak kan terbalaskan…
(Ungu, “Doa untuk Ibu”)
Lagu Doa untuk Ibu yang dilantunkan oleh Pasha Ungu itu mengalun lembut dari winamp laptopku. Malam ini, udara di kamarku terasa beku. Di luar gerimis tipis mencumbu bumi. Lekat kupandangi foto bundaku yang terpajang di samping laptopku. Bunda… malam ini, aku ingin menulis surat cinta untukkmu. Semoga, kau mau membacanya nanti.
***
Buat Bunda tersayang …
Kutulis surat ini dengan perasaan cinta yang berbunga-bunga, dengan kerinduan yang bergelora, dan dengan segenap ketulusan hatiku. Pikiranku senantiasa terbang melayang melintasi samudera masa silam, saat tubuhmu yang ringkih berjuang dengan sepenuh jiwa raga melahirkanku dari peraduan rahimmu.
Kala itu, kau seakan telah berada di taman surga! Di antara rasa perih, rintihan dan jerit pilu perjuanganmu, bibir marunmu yang basah tampak bergetar mentadaruskan dzikir. Doa-doa para malaikat seakan menggaung memenuhi jagad raya.
Tangisku pecah saat tubuhku terlahir ke dunia. Ketakjubanku berkobar, ketika kedua mataku menatap semesta. Begitu indah! Oh, Bunda… tanpa perjuangan dan pengorbananmu itu, niscaya aku tak kan bisa menatap dan menikmati indahnya dunia ini. Terima kasih Bunda, kemuliaanku sungguh tiada bandingnya!
Bundaku yang sangat kucintai …
Tahu kah engkau, sesuatu yang paling kunanti-nanti dan kuimpikan setiap waktu adalah menatap senyummu yang menawan, yang mampu hadirkan kesejukan dan tumbuhkan rasa damai di relung kalbuku yang terdalam. Kuingat, saat di bangku sekolah dasar, aku tumbuh menjadi anak yang nakal. Sering mengganggu teman-teman, berkelahi, dan bahkan mencuri. Akibat ulahku itu, engkau yang jadi sasaran luapan amarah warga. Engkau dicaci dan disumpah serapah para tetangga. Namun engkau tetap tegar dan sabar menerima cobaan itu.
“Aku yang berbuat salah, tetapi kenapa Bunda yang mereka caci maki?” protesku.
“Biarkan saja. Lebih baik kita bersabar. Bukankah Tuhan selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang bersabar?” ucapmu kala itu dengan air mata berlinang, namun bibirmu tetap tersenyum tabah. Ah, engkau benar-benar sosok wanita yang memiliki hati semulia bidadari! Tiba-tiba kurasakan mataku gerimis.
Bunda yang sangat kusayangi …
Saat aku beranjak remaja, kurasakan suasana keluarga mulai tidak harmonis. Bias cahaya bersahaja dalam peraduan cinta dan kasih sayang yang dulu sempat terjalin indah, perlahan-lahan mulai memudar, menjelma kericuhan dan pertengkaran yang memilukan. Kakak-kakakku sering keluyuran dan menghambur-hamburkan uang. Ayah yang sering pulang larut malam, dan diriku yang tenggelam dalam duniaku sendiri.
Ah, bila kuingat masa-masa itu, membuat mataku kian basah. Apalagi saat kata-kata cacian yang keluar dari mulut Ayah, juga tangan-tangan kasar Ayah yang sering mendarat di pipimu, membuat hatiku semakin tercabik-cabik. Begitu perih! Tapi engkau tak pernah melawan. Engkau hanya bisa tunduk, terdiam pasrah dengan linangan air mata yang kian bercucuran.
Di tengah gelap malam yang hening dan beku, aku sering terjaga. Kutatap tapak-tapak kakimu yang ringkih melangkah bersama lentera kecil. Kau basuh seluruh anggota tubuhmu dengan air wudhu. Di peraduan Illahi, kau bermunajat dengan kerendahan dan ketulusan hati. Kau tundukan wajahmu dan bersujud menyerahkan diri sepenuhnya di pangkuan-Nya. Di antara sedu sedan kepiluanmu, kau himpun sejuta doa untuk keluarga tercinta.
“Ya Illahi … Jangan kau biarkan kebahagiaan keluarga kami tenggelam dalam kenistaan. Aku rela menyerahkan seluruh hidupku, asal kau kembalikan kebahagiaan keluarga kami …,” ucapmu lirih.
Lagi-lagi kulihat bibirmu tersenyum. Ah, Bunda … sungguh aku semakin cinta dan bangga padamu! Tak urung, air mataku kian menggenang membasahi pipi.
Bunda yang kucintai …
Saat kebahagiaan kembali hadir merangkai hari-hari, dan ketika keceriaan penuh cinta kembali merekah dalam keharmonisan keluarga, engkau jatuh, terbaring lemah di atas pembaringan. Kulihat tangan Ayah yang dahulu kasar memukul wajahmu, kini tampak membelai keningmu dengan lembut dan penuh cinta. Oh … sungguh pemadangan yang sangat indah!
“Bunda … cepat sembuh, ya …” ucap Ayah tersenyum, namun kulihat matanya basah oleh air mata haru.
“Kalau Tuhan berkehendak, Bunda pasti sembuh. Ayah doakan Bunda, ya …” sahut Bunda lemah disertai senyum yang menawan.
Ya, senyum itu adalah senyum yang paling indah yang pernah kulihat. Setelah itu, aku tak pernah menyaksikan senyum itu lagi. Karena … saat fajar menyapa esok harinya, engkau pun mengembuskan napas terakhir dalam pelukan-Nya dengan penuh kedamaian. Engkau pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya.
Bunda yang sangat kucintai dan selalu kurindukan …
Walau kini engkau tak ada di sisiku lagi, namun kuyakin, saat ini engkau sedang tersenyum kepadaku bersama bidadari-bidadari surga di atas sana. Ah, Bunda … Apakah kau tahu? Saat ini tanganku masih bergetar penuh perjuangan demi merangkai kata-kata indah penuh cinta dan kerinduan. Semua ini kupersembahkan hanya untukmu Bunda! Hanya untukmu, sungguh!
Bunda … aku tak tahu sudah berapa kali kutulis surat cinta ini untukmu. Namun … tak satu pun jua yang pernah terkirimkan …
(Buat Bunda yang kucinta dan selalu kurindukan. Semoga dirimu menemukan ketenangan dan kebahagiaan di peraduanmu yang baru…)
***
*Ahmad Ijazi Hasbullah kelahiran Rengat, Riau, 25 Agustus. Skenario film pendeknya yang berjudul Cita-cita Elliah menjadi pemenang 2 Sayembara Menulis Skenario Film Pendek Islami Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI 2022. Pernah juga menjadi nomine lomba menulis prosa Kemenpora 2011 dan puisi Tulis Nusantara Kemenparekraf 2013. Buku kumpulan sajaknya yang bertajuk Bahtera memenangkan penghargaan Anugerah Sagang 2015.