LiteraSIP

31 Maret 2024

Salah Siapa?

Oleh Ibnu Hajar*

 

 

Aku tinggal di sebuah kota yang padat penduduknya. Kota tersebut terletak di kaki sebuah bukit yang indah. Jalan-jalan yang menanjak, menurun dan berliku-liku turut menambah keindahan kotaku ini.

Suatu hari aku berkunjung ke sebuah toko komik tak jauh dari tempat tinggalku. Membaca komik adalah salah satu kegemaranku sejak aku duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar dua tahun yang lalu. Baru beberapa menit berada dalam toko, aku seperti mendengar bunyi hujan. Aku teringat sepatu yang telah kucuci dan kujemur tadi pagi. Aku bergegas keluar toko. Benar saja, hujan mulai mengguyur kota kami.

Tanpa menunggu lama, aku berlari pulang ke rumah untuk mengambil sepatu. Aku gembira karena berhasil mengambilnya walau agak sedikit basah. Bila sepatuku basah, aku tidak dapat pergi ke sekolah keesokan harinya. Bila itu terjadi, ayahku dan pak guru pasti akan memarahiku. Hal tersebut pernah terjadi dua minggu yang lalu.

Sekitar tiga puluh menit menunggu, akhirnya hujan pun reda. Aku berniat hendak kembali mengunjungi toko komik. Dalam perjalanan, aku melihat pemandangan yang agak ganjil. Tidak ada satupun kendaraan yang biasanya lalu lalang di kota yang padat itu. Karena penasaran, aku batalkan niatku untuk mengunjungi toko komik. Aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.

Aku berjalan menyusuri jalan raya yang kini terlihat sunyi. Tiba di ujung tikungan aku terkejut. Dari jarak sekitar lima ratus meter terlihat orang berkerumun di tengah jalan. Rasa penasaranku semakin memuncak. Aku bergegas menjumpai mereka dan menanyakan apa yang terjadi.

Saat itulah baru kuketahui bahwa di tempat itu baru saja terjadi kecelakaan lalu lintas. Akibat kecelakaan tersebut sebuah truk terbalik dan terdampar ke tengah badan jalan. Sopir truk dan kernet bersama dua pengendara sepeda motor terluka dan dilarikan ke rumah sakit. Polisi terpaksa menutup jalan sementara guna proses evakuasi truk.

Merasa telah mengetahui segala hal yang kubutuhkan, aku kembali bergegas ke toko komik untuk mewujudkan kegemaranku. Satu persatu komik bersentuhan dengan jari mungilku. Setelah membeli sejumlah komik yang kuinginkan, aku memutuskan untuk pulang.

Keesokan harinya, aku berkesempatan bertanya kepada ayahku seputar janjinya membeli sepeda baru untukku. Dengan lembut dan bijak ayahku berkata bahwa ia belum dapat memenuhi janjinya. “Kemarin ayah ke toko sepeda”, jelas ayah. “Kawan ayah yang menjual sepeda mengalami musibah. Puluhan sepedanya roboh dan rusak termasuk sepeda yang rencananya akan ayah beli untukmu. Bahkan robohnya sepeda di tokonya menyebabkan kecelakaan lalu lintas kemarin”, jelas ayah melanjutkan.

“Apa hubungannya roboh sepeda dengan kecelakaan lalu lintas, Ayah?” tanyaku keheranan.

“Sebuah truk yang sedang melaju tiba-tiba saja menabrak sebuah mobil pick up yang sedang parkir di pinggir jalan,” lanjut ayah bercerita.

“Bagaimana hal itu bisa terjadi?” tanyaku ingin tahu.

“Mobil pick up itu memang sedang parkir, tapi menurut sopir truk, sesaat sebelum tabrakan terjadi, mobil pick up itu bergerak menuruni badan jalan. Belakangan diketahui bahwa rem tangan mobil pick up tersebut tidak lagi berfungsi, namun sopir mobil tersebut telah memasang kayu pengganjal pada ban mobil tersebut. Masalahnya kayu pengganjal ban tersebut terlepas sehingga mobil pick up tersebut bergerak menuruni badan jalan,” jelas ayah.

“Mengapa pengganjal ban mobil pick up itu terlepas?” tanyaku lagi. “Menurut sopir mobil pick up, kayu pengganjal ban tersebut terlepas karena dorongan dari timbangan padi yang bergerak menuruni badan jalan,” jelas ayah.

Aku semakin heran dengan semua kejadian tersebut. Semuanya terjadi secara beruntun dan saling terikat. “Lalu mengapa timbangan padi tersebut bergerak?” tanyaku ingin melepas keheranan.

“Timbangan padi bergerak karena terdorong oleh dorongan puluhan sepeda yang roboh di toko teman ayah. Inilah pemicu kecelakaan lalu lintas tersebut terjadi,” jelas ayah.

“Lalu mengapa sepeda itu roboh?” tanyaku kemudian. “Menurut petugas di toko sepeda, penyebab robohnya puluhan sepeda tersebut bersumber dari beberapa ekor kucing yang terkejut dan berlari ke arah sepeda,” lanjut ayah.

“Lalu mengapa kucing itu terkejut?” tanyaku untuk kesekian kalinya.

“Inilah yang masih diselidiki polisi.”

“Apa? Polisi? Aduh. Gawat, Ayah,” jawabku ketakutan.

“Apa yang gawat?” Tanya ayah keheranan.

“Kira-kira pukul berapa kecelakaan lalu lintas tersebut terjadi?” tanyaku ingin tahu.

“Sekitar pukul 10.15 pagi,” jawab ayah singkat.

“Gawat, Ayah,” jawabku menanggapi. “Kemarin aku pergi ke toko komik yang letaknya di samping toko sepeda milik teman ayah,” lanjutku menjelaskan.

“Lalu apa yang terjadi?” tanya ayah ingin tahu.

“Sekitar pukul 10.15 pagi,” lanjutku bercerita, “turunlah hujan. Karena ingin mengambil sepatu yang telah kucuci, aku berniat pulang ke rumah. Aku berlari keluar toko dan sempat melihat beberapa ekor kucing ikut berlari di toko sepeda tersebut. Mungkin itulah penyebab kucing tersebut terkejut sekaligus menjadi penyebab awal kecelakaan lalu lintas itu,” jelasku menceritakan. “Aduh… bagaimana ini, Ayah, gawat kalau begini,” rengekku pada ayah.

“Gawat bagaimana maksudmu?” tanya ayah seakan tidak tahu.

“Ya, kalau begini,” lanjutku menjelaskan, “siapa yang salah atau harus bertanggungjawab?” tanyaku. Sampai disini aku hanya melihat ayah terdiam sambil mengernyitkan dahinya.

 

Penulis adalah penikmat sastra, dosen Universitas Bumi Persada, Lhokseumawe

 

===

*Ibnu Hajar telah mempublikasikan puluhan artikel di sejumlah media lokal dan nasional seperti Serambi Indonesia, The Aceh Institute, Analisa, okezone.com, Harian Aceh, Pikiran Merdeka dan sejumlah media online. Penulis juga memiliki enam book chapter yang telah dipublikasi serta beberapa artikel jurnal yang telah diterbitkan oleh jurnal internasional bereputasi dan terindeks Scopus Quartile 1 dan 2. Selain menulis, dosen Bahasa Inggris ini juga mendampingi mahasiswa dan siswa dalam menulis dan meneliti.

Pada tahun 2016, penikmat sastra ini juga diminta menulis skenario film The Queen, sebuah film berbahasa Inggris yang bercerita tentang perjuangan Ratu Safiatuddin memimpin kerajaan sepeninggal ayahnya, Sultan Iskandar Muda.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *