16 Juni 2024
Puisi-Puisi Wawan Hamzah Arfan
Oleh Wawan Hamzah Arfan*

Menggoda Lamunan
sepertinya aku lupa
pernah menyimpan masa lalu
dalam laci hati
ketika bayang-bayang bersarang
di kesunyian
mencuri pandang diam-diam
pada ruang tanpa sudut
ada seberkas kenangan
berkelebatan
mengepulkan asap putih
di antara rupa dan rasa
begitu menggoda lamunan
mengusik kisah kasih
buaian kemesraan
terasa begitu indah
namun semuanya sirna
hanya dalam hitungan satu cerita
kisahku tersesat dalam mimpi
tanpa jejak dan alamat
ditelan alam
hanya tersisa goresan di hati
kau bukan jodohku
Cirebon, 2024
Kesunyian Jiwa
kukabarkan pada angin
tentang kesunyian jiwaku ini
yang selalu menunggu
di haltemu
dalam berbagi kisah kasih
di sepanjang jalan impian
aku paksakan diri menari mengikuti irama hati
mendendangkan gairah
tanpa lelah
sebagai kepasrahan tanpa arah
maafkan aku
jika masih menyisakan kekecewaan di hatimu
Cirebon, 2024
Ketika Semua Dipolitisir
ketika nurani dapat dibeli
harga diri jadi mati
seperti asap kehilangan api
berputar-putar tak tentu arah
ketika akal tak lagi dipakai
atraksi adalah jalan terindah
seperti mimpi kehilangan tidur
hanya berulah cari sensasi
ketika hidup diukur dengan perut
keserakahan jadi jalan pintas
seperti air kehilangan sungai
menenggelamkan senyuman
ketika agama jadi alat politik
keikhlasan dipertanyakan
seperti imam tak punya makmum
rasa syukur dikubur hidup-hidup
ketika kekuasaan jadi kekuatan
upaya tipu daya makin gila
seperti rumah tak beratap
tak ada lagi kedamaian
Cirebon, 2024
Selama Nafas Masih Berdesah,
Tak Ada Kata Berpisah
adalah kehidupan
ada saat dipertemukan
ada saat ditinggalkan
kadang dilupakan
sebuah perjalanan hidup
selalu berulang
mengikuti jejak langkah
dari sunyi kembali ke sunyi
menepi di keheningan
lalu kuisi ruang sunyi
dengan keikhlasan yang tulus
agar tak ada luka rasa
atau rupa yang tertinggal
dalam bingkai kebencian
di sini, dalam goresan puisi ini
ijinkan kutitip pesan pada nurani
untuk selalu menata kata
pada setiap suasana
dan meniti hati
pada ikatan silaturahmi
selama nafas masih berdesah
tak ada kata berpisah
mau berbagi arah
Cirebon, Juni 2023
===
*Wawan Hamzah Arfan, lahir di Cirebon, 8 Juni 1963. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, artikel, dan esai tersebar di berbagai media. Beberapa puisinya terhimpun dalam antologi Mega Mendung (1989), Kebangkitan Nusantara I (1994), Kebangkitan Nusantara II (1995), Kebangkitan Nusantara III (1996), dan Antologi Puisi HP3N Nuansa Tatawarna Batin (2002). Buku puisi tunggalnya Perjalanan Berkarat (2021), Menanti Isyarat (2022). Buku kumpulan esainya Sastra Koran dan Sastra Berbicara (2022). Menerima Anugerah sebutan Sastrawan Utama (Sastratama) dari Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia.