LiteraSIP

16 Juni 2024

Kala Itu

Oleh Hasan Ali*

 

 

Kala itu, bahagiaku begitu sederhana. Menghabiskan sore bakda asar dengan bermain bola plastik di pekarangan belakang rumah dengan dua pasang pohon duku di sisi selatan dan utara sebagai gawang. Itu adalah gawang yang tumbuh alami. Tak perlu tiang gawang dari besi. Tak perlu mistar gawang. Juga tak perlu jaring.

Peraturannya mudah saja. Jika kiper tak menjangkau bola yang ditendang melambung oleh lawan maka bola dinyatakan keluar. Tidak gol. Jika bola melewati the-tehan di sisi timur berarti keluar. Lemparan ke dalam. Pun jika bola melewati tanah yang permukaannya lebih tinggi di sisi barat.

Sementara di dalam lapangan, lawanku bukan hanya pemain lawan, tetapi juga tiga pohon duku yang tumbuh puluhan tahun yang lalu. Entah kapan tepatnya pohon-pohon duku ini tumbuh. Mungkin sudah ada sejak zaman penjajahan.

Kala itu, hujan mengguyur lapangan yang kami beri nama Stadion Gelora Mucheni. Kenapa kami menamai lapangan itu demikian? Karena lahan yang kami gunakan sebagai lapangan ini adalah milik kakekku yang bernama Mucheni.

Kala itu, kakekku masih hidup. Beliau masih bisa mengarit untuk kambing-kambingnya yang tinggal di kandang belakang rumah. Sekarang, aku hanya mampu mengenangnya melalui foto yang terpajang di dinding rumah.

Kala itu, Stadion Gelora Mucheni menjadi licin. Hujan bertambah deras. Aku melemparkan bola kepada Hasan. Ia menggocek Sujud, pemain paling jago yang pernah berlaga di stadion ini. Mudah saja bola itu direbut. Sujud langsung membawa bola menuju gawang yang kujaga. Ia menendang bola itu dengan keras. Bola melambung tinggi tak dapat kujangkau.

Out.

“Heh, mana ada? Barusan gol-lah!”

“Jelas-jelas bola melambung tinggi ndak bisa kugapai. Out.”

“Itu karena kau yang terlalu pendek-lah!”

Aku dan Sujud masih bersikukuh dengan pendirian masing-masing.

“Kalian berdua suit, jika Sujud yang menang berarti gol. Jika Oji yang menang berarti out,” ujar Yadi yang bertugas sebagai pengadil lapangan.

“Aku saja yang suit. Sujud kalahan kalau suit,” ujar Afif sambil maju meninggalkan gawangnya. Dan benar saja. Afif mampu memenangkan suit denganku. Skor 1-0 untuk tim Sujud dan Afif.

Hasan mengoper pelan bola dari titik tengah lapangan kepadaku, menandakan pertandingan kembali dilanjutkan. Aku langsung menendang bola itu sekeras mungkin. Sayangnya bola itu mengenai pohon duku yang ada di dalam lapangan. Bola itu memantul kencang menuju gawangku yang kosong. Skor menjadi 2-0.

“Ha…ha…, kau bisa nendang bola ndak sih!” ledek Sujud.

“Sekarang aku yang nendang ya, Ji!” pinta Hasan. Ia mengambil ancang-ancang. Bola tidak ditendang keras, tapi di­-plesing menuju pojok kanan atas gawang Afif. Bola itu bergerak parabola. Sayangnya bola tak masuk tapi malah menancap ke ranting pohon duku yang menjadi tiang gawang.

Bola diambil oleh Afif. Bolong. Hal itu tak menyurutkan semangat kami untuk terus melanjutkan pertandingan.

Priiiit! Yadi menirukan suara peluit, menandakan pertandingan kembali dilanjutkan. Afif mengoper bola kepada Sujud. Melewati dua pohon duku yang menghadangnya. Kali ini berhadapan dengan Hasan. Ia berhasil menempatkan bola di antara dua kaki Hasan. Aku langsung keluar dari gawang untuk mengejar bola. Berhasil. Aku berlari melewati Sujud dan pohon-pohon duku yang menghadangku di dalam lapangan. Berhadapan satu lawan satu dengan Afif.

“Ayo mau nendang ke mana?” ledek Afif. Ia hendak melakukan sleding kepadaku, memanfaatkan lapangan yang licin. Aku berhasil menghindar. Gawang sudah kosong. Aku menendang bola itu. Tapi sungguh sial. Aku terpeleset. Bola bergerak pelan dan berhenti tepat di depan gawang yang terdapat genangan air hujan. Skor masih 2-0. Afif segera mengambil bola itu. Menendangnya langsung menuju gawangku. Beruntung di situ ada Hasan. Ia berhasil menepis bola yang ditendang Afif.

Handsball!” teriak Afif.

“Mana ada! Aku menggantikan posisi Oji.”

“Bagaimana, Sit? Jelas sekali handsball.

Yadi yang betindak sebagai wasit diam sejenak. “Penalti!”

Aku kembali menuju gawang. Bersiap-siap menghadapi tendangan Sujud.

Priiit! Aku bergerak ke kanan. Sialan. Ternyata Sujud menendang bole ke arah kiri. Bola itu melaju mulus ke gawang. Skor menjadi 3-0.

“Sekarang gantian, Ji. Kamu yang jadi wasit.” Aku mengangguk. Itu adalah peraturan lainnya dari pertandingan di Stadion milik kakekku ini. Tim yang sudah kemasukan 3 gol maka salah satu pemainnya harus diganti dengan yang bertugas sebagai wasit. Kali ini aku yang akan bertugas sebagai wasit meskipun dalam hati aku belum merasa puas. Masih ingin bermain.

Priiit! Jedeeeer! Baru saja pertandingan mau dilanjut, tiba-tiba ada petir.

“Ji, pulaaang!” teriak ibuku dari rumah.

“Iya sebentar lagi, Mak.”

Kami kembali melanjutkan pertandingan. Tidak menggubris perintah ibu. Dengan tenaga yang masih bugar, Yadi bermain lebih ngotot dibanding Sujud, Afif, maupun Hasan. Saking semangatnya, ia lupa jika lawannya bukan hanya Sujud dan Afif, tetapi juga ada pohon duku. Ia menabrak pohon duku sebelum sempat menendang bola ke gawang Afif.

“Ha… ha…, jangan terlalu semangat, Yad,” ujar Sujud yang langsung merebut bola. Hasan yang kali ini menjadi kiper langsung maju ke depan. Menutupi ruang gerak Sujud. Tapi bukan Sujud namanya jika tidak bisa mencetak gol. Ia melakukan gerakan rainbow flick. Bola melayang di atas kepala Hasan dan meluncur deras menuju gawang. Skor 4-0.

Jedeeer! Petir kembali menggelegar. Ibu kembali berteriak menyuruhku untuk segera pulang. Aku akhirnya menurut. Keempat temanku yang lain pun ikut pulang. Bola kubawa pulang. Meskipun sudah bolong, bola ini akan tetap kami pakai besok hari. Sesampainya di rumah, seperti biasanya, ibu akan mengomel. Aku yang hampir tiap hari mendengar omelan ibu akibat tetap bermain bola di saat hujan pun hanya mengangguk. Besok-besok, aku dan keempat temanku tetap akan bermain bola di Stadion Gelora Mucheni.

Kala itu, aku merasakan kebahagiaan bisa bermain bola di tempat yang sederhana. Aku mengenang masa-masa itu dengan tetes air mata. Ingin kembali mengulang masa-masa itu. Meskipun saat ini aku tetap bisa bermain bola di lapangan futsal yang jauh lebih baik, tapi kenangan bermain bola di stadion milik kakekku kala itu tak dapat kuhapus dari ingatan. Kebahagiaan yang sederhana. Kebahagiaan seorang anak kecil yang tidak akan bisa lagi kudapatkan di usiaku yang saat ini.

***

 

===

*Hasan Ali, penulis kelahiran Purbalingga, lulusan kampus PKN STAN. Di antara karyanya adalah buku “Salahkah Aku Terlahir Introvert?” yang juga bisa dibaca dalam aplikai Google Play Books, novela “Berteman dengan Sepi” yang bisa dibaca dalam aplikasi Kwikku, dan kumpulan cerpen berjudul “Cinta Tah Cita” yang bisa dibaca dalam aplikasi Lentera. Pembaca bisa menyapa penulis melalui instagram dan tiktok @hasan.ali.penulis. WhattsApp 081215321563.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *