9 Juni 2024
Puisi-Puisi M.Z Billal
Oleh M.Z Billal*

Minggu Sore Ketika Sudah Dewasa
akhir pekan adalah rumah masa kecil.
tempat yang indah untuk mengenang langit pagi
dari jendela kamar. dan tentu saja tak butuh
waktu lama untuk lekas berhambur
ke jalanan. menyusul kawan-kawan berburu
capung dan ikan-ikan kecil di sepanjang parit
menuju tepi hutan. dan meneriaki tiap kapal terbang
melintas jauh tinggi di atas kepala. berharap sang merpati besi
singgah sejenak di sini. melepas dahaga dan penat penerbangan.
atau mendendangkan bersama lagu anak-anak yang tengah
ramai diputar pada siaran kanak-kanak minggu pagi.
oh, sungguh masa yang menakjubkan!
tapi sayang kini dari senin ke sabtu
adalah gelanggang berdarah. menjelma hari-hari
besar pertempuran hati dan pikiran sendiri di meja
kerja. angka-angka bertaburan di piring makan
sementara botol air minum berisi kata-kata
menyebalkan. tumpah di kemeja. jadi noda aneh.
tapi sialnya kering oleh hangat tubuh sendiri.
ah, rasanya mulai kehilangan nafsu makan
tapi nyatanya harus tetap makan. meski terasa
seperti menelan ketiadaan yang sembunyi
di antara bekal makan siang orang-orang dewasa.
dan pada suatu pekan, minggu sore
yang cerah. ketika usia tak lagi sewarna waru landak
kala pukul tujuh pagi. hiruk pikuk kota metropolitan
benar-benar sudah pindah ke dalam kepala.
dua puluh empat jam seperti jalan utama jakarta.
bising, asing, dan kuning bertabur lampu pijar.
bahkan jam tidur siang adalah harga paling mahal
yang harus dibeli dengan masa muda dan kepura-puraan;
bahwa ini adalah masa terbaik yang sudah kuminta
pada Tuhan sejak lama. sementara masa kecil tertinggal
di buku-buku cerita dan lagu-lagu anak yang sudah
purba. tak lagi terdengar di siaran televisi
bahkan tak pula ingat lirik-lirik bahagia yang dulu sering
dinyanyikan berulang kali dari mandi pagi hingga tiba di gerbang mimpi.
2023
Mendengarkan Diriku Sendiri Bercerita
pukul 23.33, aku mulai bercerita
kepada diriku sendiri. disaksikan setengah botol
air mineral, boneka anak anjing ukuran kecil
dan jam dinding yang detiknya keras seperti
teriakan orang-orang yang meminta jawaban
atas takdir yang bahkan aku tak pernah tahu seperti
apa sebenarnya, sebab aku tak pernah mencuri
atau sekadar mengintip buku catatan rahasia Tuhan.
lalu menghadap ke barat aku, kupejamkan mata dan
kudengar cerita tentang diri sendiri dimulai:
anak lelaki itu lahir. anak lelaki itu menangis
anak lelaki itu dikecup ibunya. anak lelaki itu dipeluk ayahnya.
anak lelaki itu adalah surga yang tertawa.
anak lelaki itu adalah neraka yang terlelap.
anak lelaki itu dinding yang diam. anak lelaki itu taman bermain.
anak lelaki itu jembatan kayu. anak lelaki itu pohon trembesi.
anak lelaki itu menjelma puisi. anak lelaki itu makam kisah-kisah pedih.
anak lelaki itu tumbuh dewasa. anak lelaki itu api yang membakar kelam.
anak lelaki itu… anak lelaki itu … anak lelaki itu …
anak lelaki itu adalah aku.
aku. memeluk tubuh sendiri.
sendirian.
aku anak lelaki ibuku. aku anak lelaki ayahku.
aku mati setiap tengah malam. aku lahir setiap fajar
aku mendengar ceritaku sendiri. sendirian.
2024
Catatan Pendek Sebelum Tidur
aku menulis sepucuk surat
dan kuselipkan di bawah kasur.
selalu begitu, tiap kali
malam menjemput
kematian sementaraku.
isi surat itu pendek
cuma ucapan terima kasih
kepada seseorang yang hidup
dalam diriku. aku menyayanginya.
aku mencintainya.
pikiran dan kata-katamu
tak mendefinisikan kita, aku.
tapi perbuatan. terima kasih
karena masih kuat melanjutkan
perjuangan dan keresahan ini.
~peluk hangat: aku yang kemarin
2024
Epilog
maka pulanglah, kau telah sampai ke batas.
belukar hampir memenuhi jalan yang kautinggalkan
dan malam sekarang lebih cepat datang di dadamu
sementara gerimis selalu turun pagi-pagi sekali.
kau rindu rumah dan ranjang tidur
tapi seluruh bagian dari tubuhmu terperangkap
hal-hal gaib yang menjelma parasit di tenggorokan.
membuatmu sulit bernapas, bahkan menangis
pun tak bisa. kau pura-pura mengirim kabar bahagia
tapi kau sungguh keterlaluan pada tubuhmu yang makin
tak terawat. padahal ibu selalu mengasihimu
seperti matahari kepada wora-wari yang tidak pernah
mekar terlambat di pekarangan rumah.
ada begitu banyak rahasia yang kausembunyikan,
rahasia-rahasia yang kini menjelma belati dan bersiap
menghunusmu dalam rasa sakit yang tidak terperikan.
kepedihan yang tidak bisa dibayar lunas oleh apapun
selain kau telimpuh di sepasang telapak kaki ibumu
yang retak dan lisanmu tak henti merintih,
“masih adakah surga di sana, ibu? apakah masih
tersisa waktu bagiku berhenti menyiksamu
dengan seluruh rindu dan dusta yang selalu mencambuk
dadaku dari waktu ke waktu yang lain?”
maka segeralah pulang, kau telah sampai ke batas.
sebelum malam semakin dingin, jalan-jalan memotong diri
dan matahari tak lagi terbit di dadamu.
tidakkah kau rindu pada pelukan ibu yang hangat
ampuh menyerap seluruh luka dan kesedihanmu
pada masa-masa sebelum ini?
pelukan yang menjadikanmu lebih kuat
dari tulang ayahmu yang telah tiada.
kau pulanglah.
2021
===
M.Z. Billal*, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Buku-bukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital seperti kompas.id, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, bacapetra.co, dll, serta sejumlah antologi nasional.