LiteraSIP

7 Juli 2024

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman

Oleh Selendang Sulaiman*

 

 

Kereta Malam Lewat

kereta malam berderu sendu
menyeret kabar pilu matamu
dan lukaku masih basah
nyerinya lembab di bibirmu
senikmat perasaan daun jatuh.

deru kereta lenyap ditelan malam
dan setiap lezatnya nikmat cinta
lebur dalam terka yang bias
tinggal pikiran menggapai-gapai
perasaan pecah berserakan.

ada denyut resah di luka basah
ada letih di kedip kunang-kunang
aku duduk di tepi jembatan
matamu raib di tikungan jalan
bayangnya jatuh ke alir sungai.

kereta malam jauh melaju
tapi getarnya masih menderu
di dadaku lautan gemetar
tubuh gunung menggigil
dan bayangmu digulung ombak.

 2024

 

Riwayat Perjumpaan

jika rel hanya menuju satu stasiun
akan kusemarakkan perjalanan panjang
dengan tujuh musim panen raya
dan kupersembahkan pada masa lalu
yang lapar dan sengsara.

aku tak punya lebih banyak waktu
untuk menunggu satu tujuan
dan nganga luka belum dijahit
dengan benang masa di baju sangsi
penuh bercak dan robek ujungnya.

beginilah nasib mempertemukan kita
menentukan jalan masing-masing
seperti musim hujan dan kemarau
tak pernah beriring bersamaan
bagai bumi dan langit saling tatap.

pada musim kita belajar meniti
rel hidup tidak saling bertabrakan
pada matahari dan bulan setia
kita melaju dengan kecepatan cahaya
sebelum lenyap ditelan masa.

selamanya kita tidak akan lupa
pernah pandai berandai-andai
lihai menutupi kehendak jumpa
ragu menyatakan niat di dada
bahkan lupa saling bertanya.

dan jika rel menuju satu stasiun
dan tak kembali ke awal pemberangkatan
kita tidak akan pernah terserang kesepian
tanpa cemas menanti pertemuan
yang kini hadir sebagai ketakutan.

2024

 

Sebelum Annellis Berangkat

kedip mata terakhir menjatuhkan ingatan
pada pertemuan ragu
masa depan dan masa silam.
ia tabah menyimpan rindu

pandai menampung air mata
sejak masa kanak yang bersahaja

di meja makan malam keluarga
sedih pilu tak risau ia jalani sebagai takdir

yang redup dalam kisah gadis desa
yang tak lebih sengsara dari hidup sang ibu
yang kini terpaksa dan tega ia tinggalkan

tubuh sintal lemah melangkah
melepas rumit nasib di bawah tangga
sayu mata biru menatap kalah ke muka
tanpa menoleh kepada kenangan

ia pasrah
menghadapi masa depan yang entah.

gelombang rambut halus lembut keemasan
pantulkan ketenangan jabat tangan terakhir
menepis suara perih memanggil-manggil
dengan debur ombak di mulut dermaga

tempat terakhir riwayatnya
di tanah kelahiran tumpah darahnya.

sebelum kapal berlayar
membawa seluruh riwayat
ada yang ingin mangantar
sampai di tangga kapal tanpa perpisahan.

2024

 

Sisa Nurani Manusia

ia menangis sesuntuk malam
lambung kosong sejak beduk ditabuh bingung
ia cari seteguk air puasa sebelum imsak tiba.

seorang aktivis berkata, ia menderita
karena tak ada yang bisa dimakan
dan akan kumanfaatkan kesempatan!

akademisi di sampingnya berdehem, berbisik,
tak boleh kau lakukan, itu bukan hakmu.

dan lelaki jangkung penikmat kopi kental
menukas, kita boleh menikmati seisi dunia
dengan cara apa saja, asal tak ada yang tahu.

mereka sepakat dan tertawa
dan ia yang menangis sesuntuk malam
berkata pada udara penuh dusta:
keyakinan yang kau tanam di palung dada
tumbuh terumbu karang penuh lumut
dan kegetiran yang kau semai di kepalamu
dipenuhi duri-duri tajam kaktus tua
penusuk nasibmu sendiri di masa depan!

di warung kopi
yang mereka sebut lingkaran setan
akademisi semester akhir itu bijak bicara:
tak semua orang alami kenyataan yang sama,
punya kehidupan layak, bernasib baik,
bahkan tak sanggup menyadari keadaannya.
kita juga sepakat, tak semua mampu
melihat sekitar dan memikirkan sesama.

tetapi, tukas lelaki jangkung:
tak sedikit menikmati ketegangan hidupnya,
bisa berbasa-basi dengan teori spekulasi,
menertawakan kenyataan di sampingnya,
bertahan dengan ketidakwajaran,
dan sanggup menghadapi persoalan kehidupan!

dengan wajah palsu, aktivis menyambar:
tentu, tak semua orang menikmati hidup
dalam kepura-puraan di lingkaran setan!

pada secangkir kopi sehabis hujan
ia yang menangis sesuntuk malam bersajak:
malam sudah matang, wajah bulan menantang
pahit tawa tumpah di cangkir-cangkir kopi.
mari keluarkan taring kejantanan kalian
tunjukkan nyali perlawanan!

malam beku sebentar
sebelum lelaki jangkung keras kepala menyela:
sudahlah! biar gelap mata tiap langkah ada tuju
seperti bunga harapan bisa layu di kepala
dan aku tak lebih kejam dari para pengkhianat
berhentilah mengaduk-aduk prasangka.
sebab keyakinan hanya buah hasrat keparat
yang menjadikan akal budak segala keinginan.

akhirnya, pada dedak kopi kental
ia yang menangis dengan lambung kosong
kembali pada kehampaan dirinya
merayakan kebekuan naluri nurani manusia!

2024

 

===

*Selendang Sulaiman, lahir di Sumenep, 18 Oktober 1989 dan kini mukim di Jakarta. Puisi-puisinya tersiar diberbagai media massa cetak dan elektronik serta di sejumlah antologi puisi bersama. Antologi Puisi Tunggalnya: Omerta (2018).

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *