7 Juli 2024
Gantung Diri Massal di Taman Kota
Oleh Muhammad Ridwan Tri Wibowo*

Ratusan bapak-bapak berkumpul di taman kota. Mereka melakukan aksi gantung diri massal. Mereka adalah kalangan menengah yang putus asa. Mereka merasa bahwa kehidupan yang layak makin jauh dari jangkauan. Spanduk bertebaran bertuliskan, “Kita dan negara sama-sama suka memeras. Kita harus memeras keringat untuk hidup, sementara negara hidup untuk memeras uang kita.”
Seorang orator berteriak, “Kita telah bekerja keras tanpa hasil. Gaji naik hanya seratus lima puluh ribu, tapi biaya bahan pokok dan properti, serta pendidikan naik drastis. Data dari Global Economic, Indicator, Charts and Forecasts, menyatakan dalam 28 tahun terakhir, biaya pendidikan di negara kita mengalami kenaikan 9990%, sementara penghasilan rata-rata kita hanya naik 266%. Sudah Gila!”
Peserta aksi bergemuruh setuju sambil mengepal tangan. Salah satu peserta berteriak, “Memang sudah gila!! Kita juga dibebani aturan yang memperbolehkan pemecatan tanpa pesangon!” Teriakan tersebut membuat aksi semakin membahana. “Saya cuma tukang bakso. Penghasilan sebulan saya hanya dua juta rupiah, tapi uang semester anak saya enam juta rupiah,” teriak peserta lainnya.
Orator kembali mengambil alih, “Kita senasib. Uang semester anak saya juga enam juta rupiah. Bedanya saya buruh informal yang enam bulan lalu kena musibah. Saya jatuh saat membersihkan kaca di lantai dua. Kaki saya patah, tapi saya tidak dapat jaminan sosial dan kesehatan. Saya tidak masuk kerja selama berminggu-minggu, dan tiba-tiba dipecat tanpa pesangon.”
“Saya juga dipecat tanpa pesangon. Saya dituduh menyebarkan fitnah karena membongkar kasus pelecehan seksual di kantor saya. Karena saya dipecat, anak saya mengajukan banding untuk mendapatkan keringanan uang semester, tapi kampus menolaknya. Mereka mengatakan hanya anak yatim piatu atau pedagang kecil yang bisa mendapatkan uang semester hanya lima ratus ribu rupiah.”
“Saya tukang bakso! Kenapa uang semester anak saya enam juta rupiah?”
“Maka itu, aksi ini ada. Satu-satunya jalan adalah kita harus mati!” teriak orator dengan suara gemetar.
***
Anak-anak mereka yang hadir dalam aksi ini tampak cemas. Mereka merasakan penderitaan orang tuanya. Mereka merangkul dan menangis bersama, mencoba memberikan dukungan satu sama lain. Mereka telah sama-sama berjuang.
Salah satu anak yang hadir dalam aksi ini adalah Bayu. Di sela-sela jadwal kuliah, Bayu terpaksa part-time sebagai pelayan atau pencuci piring di restoran dan hotel. Akibatnya, Bayu tidak memiliki waktu untuk ikut organisasi atau untuk mengembangkan diri.
Suatu malam, setelah seharian bekerja, Bayu pulang ke rumahnya dengan langkah gontai. Di jalan yang sepi dan gelap, pikirannya melayang ke masa depan yang terasa semakin tidak pasti. Ia mengetahui potensi dan bakatnya terbuang sia-sia.
“Bagaimana aku bisa mengembangkan diri kalau begini terus?” pikirnya.
Sebenarnya pemerintah telah menyediakan program beasiswa. Namun, kuota beasiswa tidak cukup untuk semua mahasiswa yang membutuhkan. Bayu mencontohkan dirinya, karena orang tuanya bekerja kantoran. Menurutnya, dirinya berhak mendapatkan beasiswa. Orang tuanya sangat membutuhkan bantuan dana di tengah naiknya harga bahan pokok dan properti.
Bayu merasa terjebak. Ia tidak memenuhi syarat mendapatkan beasiswa. Keluarganya terlalu “kaya” dianggap miskin, namun terlalu “miskin” untuk bisa merasa nyaman membayar kuliah tanpa bantuan. Bayu juga mengeluhkan beasiswa sering kali salah sasaran. Alih-alih diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Beasiswa malah jatuh ke tangan mereka yang mampu.
“Mengapa hidup seolah tidak adil?” Ia melihat teman-temannya yang mendapatkan beasiswa tidak perlu repot bekerja. Mereka memiliki waktu luang untuk mengikuti organisasi, mengembangkan diri, dan mengejar mimpi tanpa beban finansial.
“Aku hanya bisa bermimpi, bisa melakukan hal yang sama,” ucapnya penuh harap.
Setelah saling menguatkan satu sama lain, Bayu dan bapaknya mengepalkan tangan, lalu berteriak, “Hidup rakyat! Hidup pendidikan gratis!” Kemudian diikuti dan ulangi berkali-kali bersama peserta aksi lainnya, Teriakan pun ini menciptakan semangat di tengah keputusasaan.
Dengan semangat berapi-api, orator kembali menyuntikkan harapan kepada peserta aksi, “Kita harus bersatu dan berjuang! Demi masa depan anak-anak kita! Demi masa depan bangsa ini!” Peserta aksi menyambut seruan itu dengan teriakan yang menggetarkan.
Teriakan mereka memenuhi udara, menciptakan suasana yang mencekam. Para peserta aksi bersiap melakukan tindakan drastis untuk menarik perhatian pemerintah. Dengan suara lantang, orator berteriak, “Ini adalah seruan terakhir kita! Tindakan gantung diri ini adalah simbol keputusasaan kita di tengah kesulitan ekonomi untuk membiayai pendidikan tinggi.”
Peserta aksi berjalan tegak menuju pohon-pohon besar di taman kota. Mereka mendekati bangku-bangku yang telah disediakan. Masing-masing peserta mengambil kain jarik yang tergantung, lalu mengikatnya erat di leher. Setelah memastikan ikatannya kuat, mereka memandang sejenak ke arah anak-anak mereka. Dengan penuh kecemasan, mereka melompat dari bangku, dan suara leher patah menggema di udara.
***
Video aksi gantung diri massal menyebar dengan cepat di media sosial. Dalam video tersebut, seorang reporter kawakan dengan suara gemetar menyatakan, “Kenaikan biaya hidup dan pendidikan tanpa kenaikan gaji serta jaminan sosial telah membuat banyak orang tua merasa tertekan. Meskipun sebelumnya jarang terlibat dalam protes, kini mereka merasa perlu turun ke jalan bersama anak-anak mereka. Mereka bahkan bersedia mengorbankan nyawa untuk anak-anak mereka.”
Respon dari masyarakat terhadap video ini sangat besar. Mereka membagikan video dan menunjukkan keprihatinan yang mendalam terhadap peserta aksi. Komentar-komentar yang muncul menunjukkan empati dan perhatian yang besar terhadap situasi sulit ini.
“Demi keadilan, pemerintah harus bertindak segera!” tulis seorang pengguna media sosial di kolom komentar.
“Kita perlu memastikan langkah-langkah konkret diambil untuk mengatasi masalah ini sebelum semakin parah,” tambah pengguna lain.
***
===
*Muhammad Ridwan Tri Wibowo, mahasiswa PBSI UNJ 2022.