LiteraSIP

18 Agustus 2024

Selamat Merdeka

Oleh Intan Hafidah NH*

 

 

Perlahan lampu-lampu malam dari rumah ke rumah dimatikan. Bentangan hitam seluas mata memandang pun  perlahan memudar, menjadi benderang yang jingga. Bintang-bintang seolah mengucapkan selamat datang kepada sang mentari, mereka menunduk dan mengundurkan diri. Terdengar suara seorang laki-laki tua bersenandung. Tembang Dhandanggula  yang merdu seperti nyanyian dalang saat pertunjukan.

 

Jago kluruk rame kapiyarsi

lawa kalong luru pandhelikan

jrih kawanen ing semune

wetan bang sulakipun

mratandhani wus bangun enjing

 

Hawa dingin masih setia merambati setiap jengkal tubuhku yang hangat dipeluk mimpi. Nyanyian macapat itu kembali terdengar lagi, setelah setahun tidak kudengar lagi. Suara itu? Milik almarhum kakekku yang sudah tiada setahun lalu. Mungkin benar pamali tidur lagi setelah sembahyang pagi, aku sudah paham sekarang setelah mengalami mimpi yang aneh ini, tapi kenapa terasa begitu nyata.

Kudengar keramaian pasar di depan rumahku. Setelah beranjak menuju jendela terdapat pemandangan tempo dulu. Rumah-rumah bergaya Nederlan atapnya tinggi, dengan cat putih menyeluruh, pondasi yang tinggi, jendela ventilasi dari kayu jati, yang kerap mendominasi tembok rumah,  serta ukiran setengah lingkaran pada kusen yang khas.

Banyak sekali pedagang sayur dan buah-buahan yang menggelar lapaknya di depan rumahku. Seakan rumahku bangunan tak kasap mata oleh mereka, karena satu-satunya yang bergaya modern, begitu pula aku. Kedatanganku seakan tidak ada yang menghiraukan, semua kesibukan pagi itu berjalan sangat cepat silih berganti.

Aku tertarik pada buah mangga yang ukurannya begitu besar seperti buah pepaya era sekarang. Saat melihat-lihat keramaian pasar, aku bertemu dengan sosok perempuan yang menyerupai mamaku tetapi aku yakin bukan mama karena usianya sangat muda. Dia tersenyum dan mengucapkan “hati-hati, cepatlah pulang”. Anehnya setelah kudengar suara itu, ia menghilang seperti tertelan sesuatu. Aku masih belum sadar sebenarnya aku ada dimana, dan apa maksud semua ini.

Belum selesai aku memikirkan ini semua. Terdengar seperti pasukan yang berkuda melintas sangat cepat. Dengan persenjataan lengkap mereka seperti menuju musuh untuk menghunuskan semacam tombak. Sekujur tubuhku merinding, melihat mereka yang keadaannya sudah compang-camping bajunya dan dipenuhi darah segar yang amis. Sekujur tubuhku merinding saat mereka menjauh dan sebagianndari mereka jatuh terlempar ke tepi jalanan. Tidak hanya sampai sini kengerian yang kulihat semakin menjadi. Ketika pasar yang sedang beroprasi tiba-tiba terdapat kericuhan, semua pedagang berhamburan keluar meninggalkan dagangannya, menyelamatkan diri. Suasana begitu mencengkram dan sangat kacau. Terdengar suara kepanikan, ketakutan, kemarahan, suara tembakan, dan ledakan granat. Aku bergumam “Sial. Aku masuk zaman penjajahan”.

Aku mengikuti orang-orang yang lari menyelamatkan diri. Ternyata pelarian itu menuju ke sebuah stasiun yang rel-relnya begitu besar, jauh lebih besar dari yang pernah kulihat. Mereka mengenakan seperti sepatu beroda besi kemudian meluncur di rel tersebut. Ajaibnya aku terus mengikuti perginya mereka. Kembali terlihat rumah-rumah gaya Belanda, gedung-gedung putih, tinggi nan megah. Ada beberapa kereta yang hanya mempunyai dua gerbong penumpang, selebihnya untuk mengangkut hasil panen seperti: tebu, kopi, teh, serta rempah-rempah. Di dalam kereta itu aku melihat para bangsawan duduk anggun, sambil mengenggam tas kulit mereka. Dan kami yang bersepatu dengan roda besi, seperti bermain selancar es di atas rel kereta tersebut.

Ada seorang pemuda mendatangiku. Ia menarik tanganku untuk mengikutinya. Tiba-tiba aku sampai di sebuah kebun kopi, banyak sekali anak-anak sedang bermain di sini. Mereka ternyata bukan hanya bermain tetapi juga bekerja. Mereka memetik dan memungut kopi yang sudah matang untuk ditukar dengan makanan ke para mandor. Anehnya kerusuhan di pasar kembali terasa juga di kebun. Ada serangan udara menjatuhkan bom dan granat. Semua orang berhamburan mencari persembunyian yang aman. Parahnya serangan mulai berdatangan dari berbagai sisi. Aku mengikuti  pemuda itu bersembunyi di pematang sawah. Lalu ia menunjukan suatu kejadian yang begitu tragis. Kulihat para perempuan diseret paksa masuk ke sebuah gubug. Di sana, terdengar jeritan melengking yang begitu ramai. Mataku seolah bisa melihat semua kejadian di gubug tersebut. Beberapa orang berseragam sedang melucuti jarik serta kemben para wanita yang tak berdaya dihadapan mereka. Sekali ada yang melawan, terdengarlah suara tembakan dan darah muncrat memenuhi wajah pemberani.

“Cukup. Sudah, cukup. Aku tidak kuat melihat semua ini. Ini hanya mimpi belaka, aku ingin pulang.” Seketika kulihat para korban penyiksaan yang telah ditumpuk menjadi satu itu bangkit. Mereka kemudian menoleh ke arahku, dan tersenyum, mengucapkan: “Selamat Merdeka!!!”

Aku akhirnya terbangun dari mimpi yang aneh itu. Sayup- sayup kudengar tembang macapat lagi. Ternyata yang bernyanyi adalah sosok laki-laki yang muncul di mimpiku. Dia ada di samping jendela kamarku, menoleh serta menyapaku. ” Hai, Selamat Merdeka!!!” kalimat  yang sama seperti yang diucapkan sosok-sosok dalam mimpiku, juga dia katakan itu. Jadi sebenarnya apakah aku masih mimpi, atau sudah terbangun tetapi dihantui mimpi-mimpiku?

 

rembulan wus gumlewang

ing pucaking gunung

ing padesan wiwit obah

lanang wadon pan samya anambut kardi

netepi kuwajiban

 

Tepat setelah lelaki itu selesai menyanyikan lagu macapat, aku yang masih belum sadar akan segalanya pun, akhirnya pingsan. Berharap semua akan kembali semestinya setelah aku sadar nanti. Kulihat sekitar aku ternyata kembali masuk ke era dahulu kembali. Aku sedang berbaring diranjang besi, berkelambu putih. Saat masih mematung kebingungan, sosok laki-laki itu datang lagi. “Kamu sudah sadar? Selamat datang di alamku. Aku menyukaimu. Mari kuajak jalan-jalan di rumahku ini.”

 

===

*Intan Hafidah Nur Hansah.  Lahir 13 Maret 1999 di Banyumas. Mahasiswi Universitas Terbuka Purwokerto, Prodi S1 Agribisnis. Alumni D3 Budidaya Ikan UNSOED 2020. Puisi dan cerpennya dimuat di berbagai antologi dan terpublikasi di berbagai media.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *