LiteraSIP

18 Agustus 2024

Puisi-Puisi Mukhlis Imam Bashori

Oleh Mukhlis Imam Bashori*

 

 

Hati yang Menjadi Salju

kuketuk tingkap masa lalu
kujejaki tanpa bunyi
hati menjadi sebuah salju:
membuncah dingin dan sunyi.

di sebuah sudut kujumpai
sepotong syal yang dulu sempat menandai janji
tempat kusandarkan debar detak nadi:
di sebuah perahu yang penuh badai.

kutemui wajahmu dan wajahku meramu cinta
yang merayakan denyut luka
dan menikmati bencah hidangan pesta:
dalam sepi yang menganga.

lalu hidangan penutup menjelma kabut.

 “siapa yang mengirimku ke pintu ini
  hingga hujan di mataku tak kunjung pergi?”

 

Kenangan, Museum, dan Jari-Jari Hujan

kenangan ialah museum
dengan beberapa ruas jendela:
yang usang
yang menyuguhkan labirin
dengan tembok-tembok pejal
dan menghidang parabel
tentang warna kata yang
memar.

kenangan akan menggambar
ruang yang penuh
dengan hiruk pikuk
luka dan manja.
ia tinggal di sebuah rongga
namun kausaksikan
tak begitu jelas
alamatnya.

kenangan mestinya
memang tak berumah
dan tak memerlukan
alamat
yang cerah dan terarah
agar tak ada lagi rute
yang ditempuh wajahmu
untuk menjenguknya.

ia seperti
hikayat kumbang
yang tak lagi kembali
mengecup pancarona
merdu bunga
di atas harum
cuaca.

kenangan ialah cara jari-jari hujan
meletakkan mata airnya
di matamu.

 

Mata yang Merawat Tubuh Malam

Ia membakar tubuh pagi di tanah yang merelakan puisi
hingga tak lagi ia temui denyut kabut sebelum matahari

Ia mengunci rapat-rapat tubuh siang dalam laci
hingga tak ia lihat lagi gemuruh matahari bernyanyi

Ia menikam tubuh sore di sebuah jantung kata
hingga tak lagi ia jumpa senja yang terluka

Ia hanya ingin merawat tubuh malam
agar tumbuh hangat bulan yang menidurkan masa silam

di matanya.

 

Tamsil Sebuah Pot

/1/
Ia menanam kenangan
di sebuah pot di depan rumahnya

Ia rawat gemuruh jantung pot itu
seolah ia merawat dirinya.

/2/
Ia diam-diam berkemas
dan mendoakan agar pot itu selalu gembira

serta berharap jari-jari musim
senantiasa memeluknya.

/3/
Ia sisipkan tanda tanya
tentang orkestrasi yang digariskan oleh langit pada pot itu
apakah akan digariskan pula padanya

Ia membayangkan pot itu bahagia
seperti ia melihat sekumpulan anak bermain bendan
di seutas warna senja.

 

===

*Mukhlis Imam Bashori lahir di Magetan. Ia sempat menjuarai penulisan puisi tingkat mahasiswa se-Jawa Timur pada tahun 2010 dengan puisi berjudul Rapsodi Marsinah. Pada tahun 2018, buku kumpulan puisinya yang berjudul Suluk Dolanan mendapatkan penghargaan sebagai salah satu Buku Puisi Terpuji pada sayembara penulisan buku puisi yang diselenggarakan oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia (HPI) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *