LiteraSIP

1 September 2024

AZAN

Oleh Sayekti Ardiyan*

 

 

Ufuk barat di atas gunung  merona merah. Latar yang sempurna untuk masjid dusun yang megah.  Kubah masjid  berkilau indah. Corong masjid yang menjulang menambah apik lanskap sore itu

Warga Dusun Tentrem dikejutkan dengan merdunya suara azan dari masjid. Mereka ingin tahu, siapa pemilik suara itu. Lebih terperanjat mbah Harjo yang sedang berjalan menuju masjid. Ia mempercepat langkahnya.

“Siapa yang berani mendahului tugasku?” gumamnya gusar.

Langkah mbah Harjo diikuti langkah-langkah penasaran beberapa warga. Mereka memilih menjawab rasa penasaran itu dengan mendatangi masjid. Belum pernah ada muazin di dusun yang mengumandangkan azan seindah itu. Tak hanya merdu, lafal bacaannya jelas. Mahroj setiap huruf diucapkan dengan sempurna.

Tiba di masjid, mereka melongo mendapati seorang anak SD sedang berdoa setelah azan. Anak-anak lain berebut pelantang yang baru saja diletakkan. Lantunan pujian dari anak-anak tidak dihiraukan para orang tua sekalipun suara cempreng mereka saling serobot.

“Ohh… anaknya pak Syukur?”

“Baru tahu Hanif bisa azan seindah itu.”

“Walah, suaranya Hanif?!”

“Kok tiba-tiba yang azan bocah, bukannya itu sudah jadi tugasnya mbah Harjo?!”

Beragam komentar terdengar, ada yang merasa senang namun lebih banyak orang tua yang tidak suka.

Jamaah magrib kali ini 3 kali lebih ramai. Biasanya hanya dua deret shaf laki-laki dan 1 deret shaf perempuan. Imam salat turun dari masjid dengan hati bimbang. Kalau saja setiap kali ia mengimami jamaahnya sebanyak petang ini. Masak itu gara-gara suara bocah yang menarik warga ke masjid.

Mbah Harjo lebih khawatir lagi. Ia harus meninggalkan masjid karena setelah magrib ada undangan kenduri di rumah Pak  Agus. Tapi bagaimana nanti jika keduluan bocah itu lagi? Hmmm..begitu selesai kenduri langsung ke masjid saja, putusnya.

Benar saja, begitu nasi berkat diterima, ia bergegas menuju masjid. Terpogoh-pogoh menaiki tangga masjid, dilihatnya bocah itu sudah berada di depan podium. Mbah Harjo merebut pelantang yang akan dipegang Hanif. Anak kecil itu bengong lalu mundur bergabung dengan teman-temannya.

Mbah Harjo terbatuk-batuk sebentar karena napasnya memburu ingin segera tiba di masjid. Ia duduk sebentar kemudian mengumandangkan azan.

***

Setelah kejadian berebut pelantang terjadi beberapa kali, mbah Harjo tak mau tinggal diam. Kebetulan, malam ini diadakan pertemuan selapanan dusun. Ia melemparkan persoalan itu.

“Anak saya mau maju lomba azan, namanya lomba MAPSI. Mohon doa restunya Bapak-Bapak. Dia hanya melaksanakan pesan gurunya untuk sering latihan,” ucap Pak Syukur menjawab berbagai pertanyaan warga, kenapa Hanif azan menggantikan mbah Harjo.

Pak Syukur merasa, di masjid dusun ini belum ada jadwal atau aturan tertulis siapa yang menjadi muazin. Jadi dia membiarkan saja anaknya mengumandangkan azan di masjid, sebagaimana di kampung halamannya.

“Kalau mau latihan bisa di rumah, tidak harus rebutan mik  sama orang tua.”

“Tapi, setelah Hanif azan, banyak yang datang jamaah di masjid.”

“Tidak ada salahnya anak-anak menjadi muazin, tak hanya suaranya yang bagus, dia mengucapkan setiap kalimatnya dengan benar.”

“Posisi muazin di masjid memang sudah dipegang mbah Harjo, anak-anak masih punya kesempatan yang panjang.”

“Memang yang pantas jadi muazin orang tua, anak-anak belum pantas.”

“Mengapa kita sering melarang anak-anak datang ke masjid selain untuk salat? Mau TPQ dilarang, sekarang azan dilarang. Besok anak-anak pujian mungkin dilarang.”

“Mereka terlalu berisik, sering menganggu kekhusyukan orang yang beribadah di masjid.”

“Bapak-bapak, kalau sejak anak-anak mereka sudah dilarang ke masjid, mau jadi apa masjid ini setelah mereka dewasa dan menua seperti kita? Barangkali masjid ini lebih sepi dari saat ini.”

Beragam argumen pro kontra terlontar. Banyak bapak muda yang resah dengan masjid dusun  yang tidak ramah anak. Namun keresahan mereka kalah oleh kuasa golongan tua di dusun.

“Biar para orang tua yang memegang peran di masjid. Akan ada saatnya nanti buat anak-anak.” Suara Pak Kadus menyarikan keputusan malam ini.

“Sebentar Pak, lalu bagaimana anak-anak yang pujian? Sudah saling serobot, asal bersuara, salah-salah. Ingat salah pengucapan akan beda makna.” Rupanya masih ada yang mengganjal di hati warga

“Lha, kalau tahu salah ya dibenerin, Pak!”

“Sudah, kalau pujian biarkan saja, anak-anak nyanyi lagu-lagu dewasa dilarang, eh sekarang pada shalawatan juga dilarang.”

“Nah, jadi biarkan saja, kalau  ada yang tahu mereka salah ya dibetulkan. Jangan kita ke masjid waktu sudah iqomah saja. Sebelum iqomah sepi,”seru seorang warga.

Lalu polemik baru pun terlontar. Pak RW urung menutup pertemuan.Akhirnya,untuk pujian anak-anak tidak dilarang. “Malu kita sama dusun sebelah,masjid kita sepi nggak ada yang pujian.”

***

Masjid terlihat sunyi dari luar, terbingkai pekatnya dini hari. Hawa dingin yang menggigit dan menusuk hingga tulang membuat orang-orang enggan menyibak selimut dan melangkahkan kaki menuju masjid. Dari kejauhan terdengar kokok ayam bersahutan.

Hanif celingak-celinguk selesai menunaikan 2 rakaat salat sunah. Ayahnya juga. Pagi ini masih sepi. Hanya mereka berdua yang berada di masjid. Mereka bukan datang terlalu dini. Kumandang azan subuh dari segala penjuru bersahutan.

Hanif rasanya ingin mengumandangkan azan. Tapi ayahnya pernah bicara baik-baik dengannya sehingga ia tidak lagi berebut pelantang dengan mbah Harjo. Sekarang ia tak berani memegang pelantang di sudut masjid.

“Kali ini mbah Harjo tidak datang, boleh ya Pak, aku azan,” pinta Hanif yang gelisah.

Ayahnya juga bimbang. Mereka sudah menunggu belum ada warga yang muncul. Kalau memang mau azan, mbah Harjo pasti sudah tiba.

“Baiklah, kamu boleh azan.”

Hanif mengumandangkan azan dengan sepenuh kemampuannya.

Satu dua warga mulai datang. Imam masjid tiba kemudian salat dua rakaat.

“Maaf, saya minta Hanif azan karena lama kami menunggu tidak ada warga yang datang, mbah  Harjo juga tidak datang.”

Imam masjid mengangguk. Hanif mengumandangkan iqomah. Jamaah salat subuh kali ini hanya diikuti 4 makmum laki-laki dan dua perempuan dewasa.

***

Petang di masjid selalu ramai. Selesai mengumandangkan azan, beberapa anak-anak laki-laki sudah berjejer di belakang mbah Harjo. Mereka berebut pelantang. Lalu secara bergiliran mereka memegang alat itu, menyenandungkan lagu-lagu shalawat. Mbah Harjo menunaikan salat dua rakaat. Tidak biasanya seusai salat, ia mendekati Hanif yang duduk takzim tanpa terpengaruh teman-temannya.

“Kamu tidak ikut rebutan mik, Nang?” tanya mbah Harjo.

Hanif memang tidak pernah sekalipun ikut-ikutan pujian ramai-ramai bersama teman-temannya. Ia kadang hanya duduk bergabung dengan teman-temannya. Kadang duduk sendirian menjauh.

“Tidak Mbah, saya sudah punya panggung Mbah. Alhamdulillah sudah sampai provinsi. Dua minggu lagi saya maju lomba ke tingkat nasional. Doakan saja saya bisa azan di depan presiden, Mbah,” harap Hanif bangga.

Mbah Harjo merasa panas mendengar ucapan Hanif. Ia bergegas berdiri dan mengumandangkan iqomah.

 

===

*Sayekti Ardiyani, lahir di Magelang, 1 Juli 1983. Lulus dari Sastra Indonesia UGM pada 2007, penulis beraktivitas sehari-hari sebagai guru sekolah dasar swasta di Kabupaten Magelang dan menjadi ibu rumah tangga. Penulis bisa dihubungi lewat IG @sayektiardiyani atau @boemisayekti yang berisi aktivitas membacanya. Blog pribadi https://boemisayekti.wordpress.com

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *